Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 11 (season 2)


__ADS_3

Pagi menyapa. Sang mentari dengan cerahnya menyinari bumi. Menyeruak masuk ke dalam lewat celah jendela. Zara masih terpejam dengan nyamannya di atas kasurnya.


Tadi malam ia harus lembur setelah pulang kerja langsung mengerjakan tugas kuliahnya. Hingga ia tidur hampir pagi. Zara masih enggan untuk membuka matanya. Suara alarm terdengar namun ia matikan dengan kasar. Zara kembali menyelimuti dirinya dan tidur kembali.


Kring...Kring..Kring..


Zara terpaksa harus bangun. Entah berapa kali alarmnya berbunyi. Dengan malas ia membuka matanya dan duduk. Matanya langsung tertuju pada jam yang terletak di nakas samping tempat tidurnya.


"Astaga, kenapa bisa bangun jam segini?" gerutu Zara. Ia langsung berlari menuju kamar mandi. Untung saja kamar mandinya sepi. Jika tidak, ia harus mengantri terlebih dahulu. Zara langsung buru-buru mandi. Pasalnya ini sudah pukul 06.45. Sebentar lagi perkuliahan akan dimulai.


Setelah mandi, ia bergegas menuju kamar dan bersiap-siap. Keadaan kostnya sudah sepi. Semua penghuni sudah keluar entah kerja atau kuliah. Tinggal dirinya yang belum keluar dari kostan.


Zara sedikit berlari keluar kost. Ia segera memakai helmnya dan menyalakan motornya. Untung saja ia bawa motor. Jika tidak, ia harus berlari dan itu membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit. Cukup lama.


Sampai di parkiran kampus, ia segera berlari menuju kelasnya. Ia tidak ingin telat hari ini. Ia menyusuri koridor dan beberapa kali menabrak seseorang walaupun itu tidak sengaja. Saat hampir sampai di kelasnya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


Brakk


"Aduh." Kali ini Zara dan orang itu sama-sama terjatuh. Ia segera memunguti buku yang ia bawa dan tasnya.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Zara. Ia menundukkan kepalanya.


Pria itu mengambil ponselnya yang terjatuh. Layar ponselnya sedikit retak. Mungkin tanpa sengaja terjatuh tadi dengan sedikit keras. Pria itu menghela napasnya pelan.


"Tidak apa-apa. Hanya retak saja. Tidak perlu berlebihan," jawab pria itu. Merasa kenal dengan suaranya, Zara langsung mendongak dan menatapnya.


"Raffa," ujar Zara lirih.


Raffa langsung berjalan begitu saja. Ia tak menghiraukan Zara. Raffa memasukkan ponselnya ke saku jaketnya. Ia masuk ke kelas dan duduk di sana.


"Aduh, kenapa kamu begitu ceroboh sih Zara..." gumam Zara dan berjalan menuju kelasnya.

__ADS_1


Tatapannya langsung mengarah ke Raffa. Ia merasa bersalah. Tetapi Raffa sungguh sulit dihadapi. Orangnya jauh lebih pendiam dari dirinya.


"Selamat pagi semuanya," ucap dosen yang mengajar mereka pagi ini. Zara tersentak, ia langsung duduk di kursinya.


"Pagi bu," jawab semua mahasiswa di kelas tersebut.


"Baiklah, untuk tugas yang ibu berikan kemarin silakan dikumpulkan di depan. Zara, silakan kamu kordinir," ujar dosen tersebut. Zara mengangguk. Ia berdiri dan mulai mengambil tugas teman-temannya satu persatu.


Hingga sampai di tempat Raffa, Zara seketika gugup. Ia merasa bersalah namun sikap dingin Raffa lebih mengerikan baginya.


Raffa menatap Zara sekilas. Ia membuka tasnya dan memberikan tugas kuliahnya kepada Zara. Zara tersenyum tipis pada Raffa. Namun Raffa hanya mengernyitkan dahinya.


Setelah pengumpulan tugas selesai, dosen tersebut memberikan beberapa penguatan untuk materi minggu lalu. Setelah itu, ia mempersilakan mahasiswa yang bertugas untuk presentasi di depan kelas. Mereka saling mengulas materi dan memberikan pendapat serta saran seperti biasanya.


Kelas pagipun selesai. Kali ini hanya jeda beberapa menit lalu langsung berganti mata kuliah selanjutnya.


Cukup lama hingga akhirnya perkuliahan hari ini selesai. Zara sengaja menunggu kelas sepi. Ia ingin meminta maaf karena telah merusak ponsel milik Raffa. Setelah dirasa cukup sepi, Zara berjalan pelan menghampiri Raffa yang saat itu juga ingin keluar kelas.


Raffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Raffa sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia juga tidak ingin mempersulit Zara untuk tanggung jawab dengan ponselnya. Tetapi kenapa wanita ini sungguh kekeh meminta maaf dan mengganggunya seperti ini.


"Tidak usah dipikirkan. Aku tahu kamu nggak sengaja," ucap Raffa. Ia berjalan meninggalkan Zara sendirian.


"Gimana sih, biasanya kan disuruh ganti rugi. Tapi kok dia malah acuh gitu?" gumam Zara bingung. Dirinya jadi linglung sendiri. Memang ia berniat untuk bertanggung jawab atas ponsel yang telah dirusaknya. Namun sebelum kata itu terucap Raffa tidak mempermasalahkan hal sepele itu.


"Sudahlah," ucap Zara dan keluar kelas. Ia berniat menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam.


"Nona Zara," panggil Fanny dan seketika menghentikan langkah Zara. Zara menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Anda?" tanya Zara bingung. Fanny berjalan mendekat ke arah Zara.


"Saya Fanny, asisten pribadi tuan Zidan," jawab Fanny ramah. Zara hanya mengangguk.

__ADS_1


"Nona mau ke mana?" tanya Fanny.


"Mau ke perpustakaan. Eh, panggilnya Zara saja. Jangan ada embel-embel nona," ucap Zara sambil menggaruk kepalanya.


"Tidak apa nona. Mmm.. apakah hari ini nona ada waktu luang? Saya ingin berbicara sebentar dengan nona," ucap Fannya. Ia berharap bahwa Zara mengiyakan ajakannya.


Zara melanjutkan langkahnya. Fanny mengikutinya dari belakang. Pikiran Zara ke mana-mana. Ada hal apa sehingga Fanny sampai menemuinya.


Setelah sampai di perpustakaan, Zara segera masuk ke dalam sedangkan Fanny menunggu di luar.


"Ada perlu apa?" tanya Zara saat keluar dari perpustakaan.


"Mari ikut saya nona. Kita bicarakan ini di tempat lain," ucap Fanny. Zara hanya mengangguk dan mengikuti langkah Fanny. Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di sebuah kafe dekat kampusnya. Fanny memesan makanan ringan untuknya dan Zara.


"Begini, saya ingin membahas soal tawaran tuan muda kepada Anda nona," ucap Fanny memulai pembicaraan.


"Maksudnya?" tanya Zara bingung.


"Jika Anda bersedia, kami akan menggaji Anda tiga kali lipat dari gaji Anda di kedai kopi tersebut. Anda hanya perlu bekerja di perusahaan kami," ucap Fanny.


"Jika saya menolak?" tanya Zara asal. Ia menatap Fanny untuk mendengar jawabannya.


"Lebih baik nona tidak menolaknya. Kami juga tidak berniat buruk pada nona. Nona hanya perlu membuatkan kopi untuk tuan muda kami. Menjadi barista pribadi tuan muda," ucap Fanny. Kali ini ia harus berhasil. Jika tidak, dirinyalah yang akan menerima konsekuensinya.


"Maaf, tapi saya benar-benar tidak bisa menerimanya. Saya sudah nyaman dengan pekerjaan saya saat ini," jawab Zara sopan.


Fanny menghela napasnya pelan. Tak mudah membujuk Zara agar menyetujuinya. Jika dengan cara halus ia tidak bisa meyakinkan Zara, dengan terpaksa ia harus menggunakan cara yang sedikit kasar. Ia tidak ingin gagal menjalankan tugasnya kali ini.


"Saya bisa membantu Anda untuk resign dari pekerjaan Anda nona. Nona tenang saja, kami tidak menipu atau berbuat hal yang buruk pada nona," kekeh Fanny.


"Maaf, tapi saya benar-benar tidak bisa," ucap Zara. Ia berdiri dan berjalan meninggalkan Fanny begitu saja. Naif jika Zara tidak tergiur dengan gajinya. Ini masalah kepercayaan. Dan ia sudah dipercaya menjadi barista di salah satu kedai kopi tersebut. Jika ia mengundurkan diri begitu saja, itu akan mengecewakan atasannya dan teman kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2