Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 89 (season 2)


__ADS_3

"Permisi!" teriak seseorang di luar rumah Arvin. Alina dan Arvin saling memandang sejenak. Mereka berjalan keluar untuk melihat siapa yang bertamu di rumahnya dengan begitu tidak sopan.


Arvin terpaku saat melihat ternyata yang datang ke rumahnya adalah Anton dan istrinya. Arvin memandang mereka dengan dingin.


"Ada apa? Katakan sekarang saja. Aku tidak punya waktu!" ucap Arvin tegas. Alina mengernyitkan dahinya.


"Kami datang ke sini hanya ingin mencari putri kami!" ucap Anton sama-sama tegasnya. Ia menatap Arvin dengan sinis.


"Tidak salah mencarinya di sini?" tanya Arvin balik. Yang ia tahu putrinya hanya satu yaitu Syifa yang masih duduk di bangku SMA. Arvin juga tidak terlalu peduli dengan urusan pribadi Anton beserta istrinya.


"Mas, jangan bersikap seperti itu. Maaf tuan, kami datang ke mari ingin menemui putri kami yang hilang. Katanya dia telah menjadi menantu keluarga kalian. Bolehkah kami menemuinya sebentar?" tanya Diana. Ia tahu hubungan antara suaminya dengan laki-laki di hadapannya ini tidak baik. Namun sebisa mungkin Diana bersikap sopan. Diana tidak ingin menimbulkan masalah di sini.


Alina dan Arvin semakin bingung. Menantunya hanya ada dua, yakni Zara dan Kayla. Siapa yang mereka maksud? Arvin terdiam cukup lama dan mereka masih berdiri di tengah pintu.


"Emm.. Kalau begitu silakan masuk. Kita bicarakan di dalam," ucap Alina. Ia tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka.


"Untuk apa membukakan pintu untuknya? Kita tidak ada urusannya dengan keluarga Mahindra! Jadi, silakan kalian pergi dari rumah saya karena ini sangat mengganggu!" ucap Arvin datar. Ia berusaha menutup pintunya namun Diana dan Alina berusaha menahannya.


"Mas, jangan seperti itu. Mereka adalah tamu kita," ujar Alina.


"Kau pikir aku mau bertamu ke sini? Heh, jika bukan karena putriku aku tidak sudi menginjakkan kakiku di rumah kalian!" teriak Anton yang mulai kehilangan kesabaran.

__ADS_1


Alina terus membujuk suaminya agar berhenti bersikap dingin seperti itu. Ia tidak tahu permasalahan apa yang sedang suaminya alami dengan pria asing itu. Namun bersikap tidak sopan pada tamu juga bukan hal baik.


Akhirnya Arvin mengalah. Meski acuh, Arvin mempersilakan mereka masuk. Diana mengembangkan senyumnya. Mereka kini berjalan ke ruang tamu untuk membahas siapa yang mereka maksud dengan putrinya. Arvin merasa tidak pernah ada hubungan apapun pada keluarga Mahindra.


Plaaakk


Sebuah dokumen Anton lempar ke meja. Itu adalah beberapa foto dan bukti jika Zara memang benar putri kandungnya yang hilang. Arvin hanya memandangi dokumen itu saja. Ia tidak punya keinginan untuk melihat atau sekedar ingin tahu isi dari dokumen tersebut.


"Zara adalah putri kandung kami. Beberapa tahun yang lalu, kami kehilangannya saat kami pergi ke pusat belanja. Kami sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Akhirnya kami bisa menemukannya. Izinkan kami untuk bertemu putri kami," ujar Diana memelas.


Baik Arvin maupun Alina sama-sama terkejut. Apa yang mereka dengar sunguh tidak salahkan? Zara adalah putri kandung mereka? Karena rasa penasarannya, Arvin mengambil dokumen tersebut dan membukanya. Ia mulai membaca informasi yang ada di dalamnya. Yang ia tahu, Zara adalah seorang yatim piatu. Tetapi, kenapa sekarang tiba-tiba menjadi putri kandung Anton?


"Bukti seperti ini bisa dipalsukan. Jangan kira aku bisa kalian bodohi. Zara adalah menantu kami. Mana boleh sembarangan orang menemuinya? Apalagi orang semacam kalian, cih!" ucap Arvin sinis. Ia tidak percaya jika Zara adalah putri Anton.


"Apa yang dikatakan tuan Anton benar Pa. Zara adalah putri kandung mereka. Aku sudah menyelidiki hal ini," ucap Zidan yang tiba-tiba datang dari arah kamarnya. Zara di belakangnya dan terus menggenggam tangan Zidan. Ia terlalu takut.


Arvin dan Alina langsung berdiri. Mereka menatap ke arah Zidan dan Zara. Alina menghampiri Zara dan menatap tidak percaya. Sedangkan Zara hanya menunduk dengan gugup. Anton dan Diana langsung tersenyum. Mereka senang akhirnya bisa berkumpul kembali dengan putrinya.


Diana sedikit berlari untuk memeluk Zara. Ia menangkup wajah Zara dan mencium kening serta pipi Zara. Diana meneteskan air matanya. Anton juga menghampiri Zara dan memeluknya sekilas. Ia mengusap pelan rambut Zara. Setelah itu, mereka duduk di sofa ruang tamu. Diana duduk di samping Zara. Suasana menjadi hening. Semua kalut dengan pikiran masing-masing.


"Saya akan membawanya pulang bersama kami," ucap Anton. Zara langsung mendongak menatap Anton yang tak lain adalah ayah kandungnya.

__ADS_1


"Hei, walaupun dia adalah anakmu, tetapi dia masih menantu kami. Kamu tidak bisa membawanya seenaknya," peringat Arvin. Jika dari awal dia tahu bahwa Zara adalah putri Anton, mungkin ia akan berpikir ribuan kali untuk merestui pernikahan mereka. Tetapi semua sudah terlanjur terjadi. Zidan juga sangat mencintai Zara begitu juga sebaliknya. Arvin juga tidak ingin terlalu ikut campur dalam hubungan mereka.


"Kau!" ucap Anton. Ia menggertakkan giginya merasa geram.


"Ziva, sekarang kami adalah orang tua kamu. Kamu mau pilih tinggal bersama kami atau mereka? Aku bisa mengurus perceraian kalian nanti!" ucap Anton dengan dingin. Zara semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Zidan. Ia tidak mau berpisah dengan suaminya.


"Tetapi Zidan adalah suami Zara. Zara hanya ingin tinggal bersama suami Zara," jawab Zara.


"Kau tidak boleh menikah dengan penerus dari keluarga Mahardika! Aku bisa mencarikanmu laki-laki yang lebih baik dari dia!" kekeh Anton.


"Cukup! Dia tidak mau lalu kamu mau memaksanya? Di mana hati kamu sebagai seorang ayah? Menghancurkan kebahagiaan putrinya sendiri, apakah itu masih disebut sebagai orang tua?" ujar Arvin ikut emosi. Alina yang berada di samping Arvin terus mengusap lengan suaminya. Ia tidak ingin Arvin sampai lepas kendalinya.


Anton berdiri dan langsung menarik Zara keluar. Kebenciannya pada keluarga Mahardika membuatnya buta sehingga tidak bisa berpikir jernih untuk masa depan putrinya sendiri. Ia tidak ingin putrinya menjalin hubungan dengan keluarga Mahardika.


Zara meronta untuk dilepaskan. Ia terus menatap ke arah Zidan. Zidan dan Diana langsung menyusul Zara. Mereka khawatir terlebih Zara sedang hamil saat ini. Arvin dan Alina juga tak mau diam saja. Mereka menuju depan rumahnya.


"Lepaskan istri saya!" ucap Zidan. Ia menarik Zara dan mendekapnya. Zara menangis dalam dekapan Zidana. Ia merasa ketakutan.


"Dia adalah putriku! Aku yang lebih berhak atas dia! Minggir!" ujar Anton. Ia menepis Zidan dan sedikit mendorong Zidan. Ia kembali membawa Zara hingga ke mobil.


"Papa akan melindungimu dari orang-orang jahat itu sayang. Jangan takut, papa akan melindungimu," ucap Anton dengan lembut. Ia tidak bisa melihat putrinya menangis seperti itu.

__ADS_1


"Zara hanya ingin bersama suami Zara," ucap Zara sambil menangis.


"Kau tidak bisa membawanya secara paksa Anton!" ucap Arvin. Ia menutup kembali pintu mobil Anton. Arvin menarik Zara dan menyerahkannya pada Zidan. Tatapan antara Anton dan Arvin terlihat menyeramkan. Zara terus memeluk Zidan. Ia takut jika orang tuanya memisahkan mereka. Sedangkan Diana dan Alina bingung harus berbuat apa.


__ADS_2