
Dua hari berlalu. Zara dan Zidan belum menceritakan perihal kebenaran itu pada ayah dan ibunya. Karena mereka merasa waktunya yang kurang tepat. Zidan akan menceritakan tetapi nanti, setelah ia memastikan semuanya.
Hari ini hari libur, Zara lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Rumah nampak sepi, karena Alisya yang jarang pulang ke rumah. Ia menyewa kost di dekat kampusnya agar lebih mudah. Hanya sesekali ia pulang ke rumah untuk melepas rindunya pada orang tuanya.
Hari ini jadwal Zara cek kandungan. Pagi-pagi sekali Zidan sudah siap untuk membawa Zara ke rumah sakit. Setelah sarapan, mereka bergegas ke rumah sakit. Lebih pagi lebih baik. Zara jadi punya banyak waktu untuk istirahat di rumah.
Setelah dari rumah sakit, Zara disarankan untuk banyak istirahat. Beberapa kali kandungannya mengalami kontraksi akibat Zara yang terlalu banyak pikiran. Memang, akhir-akhir ini masalah sedang menimpanya. Untungnya, kontraksi tersebut tidak parah dan tidak membahayakan.
"Tuhkan, kamu harus banyak istirahat. Jangan terlalu memikirkan masalah itu lagi sayang. Kamu percaya sama aku, aku akan menyelesaikan semuanya," ucap Zidan. Ia menyentuh pipi Zara dengan lembut.
"Maaf, aku janji tidak akan begitu lagi," ucap Zara. Lalu mereka turun dari mobil dan menuju ke dalam rumah.
Saat di dalam, Zidan juga tidak memberitahu mommy nya jika kandungan Zara sedikit bermasalah. Mereka tidak ingin membuat Alina khawatir.
Hari libur memang pas buat Raffa dan Viona. Beberapa hari ini mereka jarang bertemu. Raffa berniat untuk mengunjungi rumah Viona. Ia ingin memberikan kejutan untuk pacarnya itu.
Setelah bersiap, Raffa izin pada mommy dan papanya untuk pergi sebentar. Ia tidak bilang untuk berkencan. Jika demikian, bisa-bisa ia ditertawakan orang serumahnya. Setelah mendapat izin, Raffa segera bergegas ke rumah Viona. Ia tidak mengabari Viona jika ia akan ke rumah Viona. Ia hanya bertanya pada ibunya Viona dan memastikan bahwa Viona sedang berada di rumah.
Saat ini, Raffa sudah berada di depan rumah Viona. Ia berdiri di depan pintu. Dirinya mengatur napasnya sejenak sebelum mengetuk pintunya. Raffa tersenyum dan tak sabar melihat ekspresi Viona nanti.
Tok tok tok
Raffa mengetuk pintunya. Namun belum ada yang membukakan pintunya. Ia mengetuk kembali dan kali ini cukup keras.
Viona berdecak kesal di dalam sana. Pasalnya tidak ada yang mau membukakan pintunya. Justru Rani terus menyuruh Viona yang membukakan pintunya. Dengan sedikit kesal, Viona beranjak menuju pintu. Ia membukakan pintunya sedikit kasar.
__ADS_1
Seketika badannya membeku. Tak percaya dengan apa yang ada di depannya saat ini. Viona membulatkan matanya lebar-lebar. Karena terkejutnya ia, Viona langsung memeluk Raffa dengan erat. Ia tak peduli jika saat ini berada di depan rumahnya sendiri.
"Vi, lepaskan dulu. Tidak baik jika kita seperti ini," ucap Raffa sambil berusaha melepas pelukan Viona.
"Tidak mau. Aku sangat merindukanmu. Biarkan aku memelukmu sebentar saja," balas Viona. Raffa menghela napasnya sejenak dan membiarkan Viona memeluknya.
Viona melepas pelukannya dan memukul dada Raffa sedikit keras. Ia menatap Raffa dengan kesal.
"Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini? Jahat!" ucap Viona. Ia memanyunkan bibirnya.
"Tapi suka kan?" tanya Raffa balik. Viona tersenyum malu-malu.
Ia mengajak Raffa untuk masuk ke dalam dan mengenalkannya pada orang tuanya. Danis dan Rani menyambut Raffa dengan ramah. Danis tak begitu kenal dengan Raffa karena ia jarang sekali mengunjungi restoran. Namun ia tahu jika Raffa adalah putra dari Alina, wanita yang pernah singgah dalam hatinya namun tidak bisa ia miliki. Mereka mengobrol sejenak. Selepas itu, orang tua Viona meninggalkan mereka di ruang tamu. Memberikan mereka waktu untuk berdua.
"Bagaimana kuliah kamu?" tanya Raffa. Viona menyandarkan kepalanya pada bahu Raffa.
"Awas saja kalau tidak sungguh-sungguh. Aku putusin kamu nanti," ujar Raffa. Meskipun itu hanya bercanda, namun terdengar serius bagi Viona.
"Jahat banget sih. Tapi tenang saja ya, Viona itu cerdas. Kuliah mah masalah kecil," ucap Viona membanggakan diri. Raffa tertawa kecil.
Mereka mengobrol berdua hingga berjam-jam. Hingga camilan yang ada di depan mereka habis mereka makan. Meskipun Raffa baru kali ini main ke rumah Viona, ia cukup nyaman juga. Tidak canggung pada kedua orang tua Viona.
"Raffa, makan siang di sini saja ya. Tante siapin dulu," ucap Rani yang menghampiri mereka. Raffa hanya mengangguk. Tak enak juga jika ia menolak permintaan dari Rani. Rani menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Ia dibantu oleh Danis yang kebetulan juga tidak ada kerjaan di rumahnya.
"Raffa, bagaimana keadaan kakak ipar kamu?" tanya Viona penasaran. Raffa pernah bercerita tentang keadaan Zara padanya.
__ADS_1
"Baik," jawab Raffa singkat. Viona menganggukkan kepalanya.
Selang beberapa waktu, makan siang pun sudah tersaji. Rani mengajak Raffa untuk ikut makan siang. Ini adalah makan siang pertama bagi Raffa bersama dengan keluarga Viona. Viona mengambilkan makanan untuk Raffa.
"Kalian itu bikin iri papa sama mama saja," ucap Danis. Ia terkekeh melihat pasangan muda itu. Raffa dan Viona saling memandang. Pipi mereka sama-sama merah merona.
Mereka mulai makan siang bersama. Makan siang bersama keluarga Viona rasanya seperti makan siang bersama keluarganya sendiri. Rasa nyaman ini tak asing baginya.
Setelah makan siang selesai, Raffa dan Danis mengobrol sebentar. Danis juga bercerita tentang kisah cintanya dengan Alina dulu. Ia bahkan sangat ingin menemui Alina sekedar tahu keadaannya. Tetapi ia tidak enak dengan istrinya dan juga suami Alina sendiri.
Pukul 14.00, Raffa pamit untuk pulang. Karena cukup lama ia berada di rumah Viona. Raffa juga harus segera kembali sebelum mommy nya mencarinya.
Viona mengantar Raffa hingga ke mobilnya. Viona sangat senang hari ini. Bisa menghabiskan waktunya bersama dengan kekasihnya.
"Hati-hati ya," ucap Viona.
"Iya," jawab Raffa. Ia mengusap lembut puncak kepala Viona. Ia pamit untuk pulang.
"Tunggu!" ujar Viona. Raffa berbalik badan dan menatap Viona. Ia mengernyitkan dahinya.
Muuaaach
Viona mencium pipi Raffa sekilas. Ia tersenyum malu-malu dan langsung berlari sampai di dekat pintu rumahnya. Viona menatap Raffa sejenak sebelum ia masuk ke rumahnya. Ia melambaikan tangannya dan mengedipkan matanya yang sebelah. Lalu ia segera masuk ke dalam rumahnya. Viona sangat malu. Sebelum Raffa memarahinya seperti waktu itu, ia memilih untuk segera menghindar dari Raffa. Jantungnya juga tidak bisa ia kendalikan. Semakin lama semakin berdetak kencang.
Raffa masih berdiri di dekat mobilnya. Ia mengusap pipi yang dicium oleh Viona barusan. Raffa tersenyum tipis sambil pandangannya terus mengarah pada pintu rumah tersebut.
__ADS_1
"Dasar genit," batin Raffa. Ia membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam mobilnya. Raffa melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.