
Saat ini Zidan dan Zara sedang berada di rumah sakit untuk menuruti saran dari Jack. Ia juga penasaran dengan hasilnya nanti. Zara tidak menyangka jika secepat ini dirinya mengandung buah hati mereka. Kesalahan yang berujung kebahagiaan. Meskipun ia pernah menyesali apa yang telah ia lakukan sebelumnya, namun Zara tetap menginginkan bayi ini.
"Selamat ya pak, istri bapak hamil. Usia kandungannya baru tiga minggu," ujar dokter yang menangani Zara.
Mendengar pernyataan langsung dari dokter dan melihat hasil USG tadi, membuat Zidan dan Zara semakin bahagia.
"Oh iya, biasanya jika masih awal masa kehamilan akan sering mual dan muntah. Tapi tidak perlu khawatir, saya sudah memberikan obat serta beberapa vitamin untuk ibu," sambung dokter itu lagi.
Setelah selesai konsultasi, mereka keluar dan segera menuju rumah. Mereka tak sabar memberikan kabar baik ini kepada keluarganya. Berulang kali Zidan mengecup punggung tangan Zara saat sedang berada di dalam mobil. Zidan merasa bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Sayang, kamu harus mendengarkan apa yang diucapkan dokter tadi. Tanpa terkecuali. Kamu tidak boleh terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran, oke? Kalau butuh sesuatu bilang ya, jangan hanya diam saja," ujar Zidan.
"Iya-iya, kamu protektif banget sih. Aku ingat kok semua yang dibilang oleh dokter tadi," balas Zara.
"Untuk sementara tinggal di rumah mommy dulu saja ya. Aku tidak tega jika meninggalkanmu sendirian di apartemen nanti ketika aku sedang bekerja," ujar Zidan.
"Tapi, bukankah lumayan jauh, rumah sampai ke kantor?" tanya Zara. Meskipun ini kehamilan pertamanya, ia juga bisa menjaga dirinya sendiri. Ia hanya khawatir jika Zidan kelelahan karena merasa terbebani olehnya.
"Tidak masalah, aku hanya ingin menjaga kamu dan calon anak kita," ucap Zidan. Ia mengusap punggung tangan Zara dengan lembut. Zara menyandarkan kepalanya ke bahu Zidan.
Tak lama setelah itu, mereka telah sampai di rumah. Zidan keluar mobil terlebih dahulu lalu segera membukakan pintu mobil untuk Zara. Zidan semakin perhatian dan protektif terhadap Zara.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Alina saat mendapati Zidan dan Zara baru masuk ke dalam rumah. Semua tegang menunggu apa hasilnya.
"Hasilnya positif Mom," jawab Zidan dan ia tersenyum.
Alina langsung memeluk Zara dengan senang. Ia tak menyangka akan secepat ini memiliki cucu.
Zidan menyuruh Zara untuk istirahat di kamar. Ia juga sudah memberitahukan kepada orang tuanya jika ingin tinggal di rumah sampai beberapa bulan ke depan. Setidaknya sampai acara pernikahan Barra dan Kayla. Karena Zidan masih takut jika tidak bisa menjaga Zara dan calon anaknya nanti. Ini pertama kalinya, wajar saja jika Zidan gugup dan takut.
__ADS_1
Alina bergegas membuatkan makanan sehat untuk Zara. Ia terlalu senang dengan kabar baik itu. Alina hanya ingin mengupayakan yang terbaik untuk menantu dan calon cucunya.
Selesai memasak, ia segera membawa makanan tersebut ke kamar Zara selagi masih hangat.
"Makanlah sayang selagi masih hangat," ucap Alina. Zara tersenyum melihat kedatangan Alina. Zara segera duduk bersandar di ranjangnya.
"Makasih Mom, Zara jadi ngrepotin mommy," ujar Zara merasa sungkan. Alina selalu memperlakukannya dengan baik dari sebelum menjadi bagian dari keluarga ini hingga saat ini ia menjadi menantu keluarga ini.
Alina tersenyum tipis. Ia mengusap punggung tangan Zara dengan lembut.
"Mommy tidak merasa direpotkan sayang. Mommy senang melakukan ini. Jadi, Zara jangan pernah berpikir yang tidak-tidak ya," ucap Alina. Ia menangkup pipi Zara dan tersenyum tipis.
Zara benar-benar beruntung. Ada suami yang begitu mencintainya dan mertua yang begitu menyayanginya. Semenjak kehadiran Alina, Zara seolah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Kasih sayang yang belum pernah ia rasakan selama ini.
"Mama akan selalu menjagamu sayang. Mama tidak akan pernah meninggalkanmu seperti ibu mama yang meninggalkan mama waktu mama masih kecil dulu," batin Zara sambil mengusap perutnya yang masih rata. Karena ia sangat tahu bagaimana hidup tanpa adanya kasih sayang orang tua.
Zara memakan masakan Alina yang telah dibawakan tadi. Ia memakannya dengan lahap. Selagi ia tidak mual dan muntah, Zara akan menghabiskan makanannya. Alina begitu senang melihat Zara makan dengan lahap. Setelah selesai makan, Alina menyuruh Zara untuk istirahat.
Waktu bergulir semakin cepat. Sudah berjam-jam Zara tidur dengan pulas. Zidan menunggu Zara bangun dengan duduk di tepi ranjang. Ia memperhatikan setiap sudut wajah Zara. Wanita yang baru dua hari ini menjadi istri sahnya.
"Aku tidak menyangka akan menikah dengamu secepat ini sayang. Rasanya baru kemarin kita saling mengenal, kini kita tak akan pernah bisa dipisahkan lagi," gumam Zidan lirih. Ia masih memperhatikan Zara.
Perlahan Zara membuka matanya. Ia masih belum sadar jika di sampingnya ada Zidan yang sedari tadi memperhatikannya.
"Sudah bangun?" tanya Zidan lembut.
Zara menoleh ke sumber suara. Ia terkejut dengan adanya Zidan di sampingnya.
"Sayang, kamu dari kapan di situ?" tanya Zara.
__ADS_1
"Sudah satu jam yang lalu. Kamu pulas sekali tidurnya," ujar Zidan.
"Maaf sayang, aku terlalu nyaman tidur," balas Zara.
Zara beralih duduk dan bersandar pada ranjang. Zidan mengusap rambut Zara dengan lembut. Ia mencium kening Zara sekilas. Ia menatap Zara dengan tatapan penuh arti. Zara hanya mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?" tanya Zara bingung.
"Tidak, aku hanya ingin menatap wajah istriku yang cantik ini," jawab Zidan. Ia menaik turunkan alisnya. Zara tertawa kecil.
"Sejak kapan kamu pandai menggombal seperti itu, hem?" tanya Zara disela tawanya.
"Aku serius sayang, bukan bercanda," balas Zidan. Zara menghela napasnya sejenak.
"Zidan, terima kasih karena kau mau menerimaku menjadi istrimu meskipun..."
"Ssstt..." Zidan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Zara.
"Jangan berkata apapun lagi, aku yang seharusnya berterima kasih padamu sayang. Aku mencintaimu dan akan selalu begitu selamanya. Jangan pernah berpikiran hal yang tidak-tidak tentang aku atau hubungan kita," ucap Zidan. Kemudian ia mengusap pipi Zara dengan lembut.
"Bukankah seharusnya kita melakukan sesuatu hal yang selayaknya dilakukan oleh pengantin baru?" tanya Zidan berbisik di depan Zara. Ia tersenyum nakal.
Zara memalingkan wajahnya karena malu. Ia malu ditatap Zidan dengan intens seperti itu. Apalagi jarak mereka yang terlalu dekat.
"Zidan, dokter bilang kalau..."
"Iya aku tahu. Aku akan melakukannya dengan pelan," balas Zidan dengan cepat sambil mengedipkan sebelah matanya. Lagi-lagi ia menyela pembicaraan Zara. Membuat Zara mendengus kesal.
"Jangan menyela pembicaraanku Zidan, aku belum selesai bicara!" ujar Zara kesal. Zidan memang suka menggoda Zara dan membuatnya kesal. Karena Zara terlihat lucu dan menggemaskan baginya.
__ADS_1
"Baiklah nyonya Zidan, aku tidak akan mengulanginya lagi," balas Zidan dan ia tertawa kecil. Ia beranjak untuk mengunci pintunya. Setelah itu, ia duduk kembali di samping Zara.
"Kamu sudah siapkan? Kali ini kita akan melakukannya dalam keadaan sadar," ucap Zidan. Zara mengangguk malu-malu. Zidan dan Zara kembali menyatukan cinta mereka.