
Sudah satu minggu lamanya Arvin dan Zidan berada di rumah sakit. Zidan sudah membaik dan hari ini diperbolehkan untuk pulang. Sedangkan Arvin masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya.
Dengan setia Alina menemani mereka. Mengurus putranya dan berharap Arvin segera sadar kembali. Meskipun dokter mengatakan jika Arvin baik-baik saja dan butuh waktu untuk memulihkan dirinya, selama Arvin belum sadar itu membuat Alina dirundung ketakutan. Apapun bisa terjadi kan? Siapa yang akan tahu. Namun Alina tetap yakin jika suatu saat Arvin akan tersadar dan pulih seperti sedia kala.
Alina sudah bisa menata hatinya. Jika hari-hari sebelumnya ia selalu menitikkan air mata kala menatap suaminya yang tak berdaya, kini ia harus kuat demi dirinya, suaminya, dan anak-anaknya.
Alina juga sering bolak-balik ke rumah sakit dan pulang ke rumah mamanya untuk menengok Barra. Sudah lama ia tidak mengurusinya juga.
Zidan sudah bersiap untuk pulang. Sebenarnya Zidan tidak mau meninggalkan rumah sakit jika Alina dan Arvin masih di sini. Namun Zidan juga harus istirahat di rumah dan menjaga kesehatannya. Terpaksa Zidan menuruti perkataan Alina dan memilih tinggal di rumah Lita untuk sementara waktu.
Saat ini tinggalah Alina yang menjaga Arvin tanpa kenal waktu. Dirinya selalu terjaga dan siaga di samping Arvin. Tak sedetikpun luput dari perhatiannya. Tangannya mengusap lembut punggung tangan Arvin. Berharap laki-laki dihadapannya ini segera membuka matanya.
Alina berdiri dan meletakkan tangan Arvin diperutnya. Agar Arvin merasakan pergerakan dari calon bayi kecil yang ada di dalam perutnya.
"Kamu lihat mas, ini anak kita. Kapan kamu akan tersadar," gumam Alina dan tersenyum tipis. Alina mengecup kening Arvin. Tiba-tiba air matanya luruh kembali.
"Aku sayang sama kamu mas. Tolong bukalah matamu," ucap Alina berusaha membuat rangsangan untuk Arvin agar segera tersadar.
"Mas, jika kamu tidak segera bangun jangan salahkan aku jika aku pergi meninggalkanmu. Aku akan kembali bersama Danis. Apa kamu mau melihat istrimu ini pergi ke pelukan pria lain?" ujar Alina sedikit kasar. Jujur saja itu hanyalah ucapan asal dari seseorang yang hampir putus asa. Tak ada niat sekalipun dalam hatinya melakukan hal tersebut. Ia hanya ingin Arvin bangun saat ini juga.
Alina menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan. Segalanya telah ia coba namun tak ada respon dari suaminya. Bersabar itulah yang menjadi penguatnya saat ini.
Alina kembali ingin duduk di kursinya lagi. Namun baru membalikkan tubuhnya, tangannya dicengkram kuat. Yang tak lain itu adalah tangan suaminya. Alina menatap tangan tersebut dan segera berbalik. Air matanya kembali luruh. Ia segera memencet bel yang tak jauh dari sana. Dokter tersebut segera datang dan memeriksa Arvin.
__ADS_1
"Kabar baik bu, pasien sudah tersadar. Jangan khawatir, pasien baik-baik saja," ucap dokter tersebut dan mengecek infus Arvin sebentar. Alina mengangguk. Betapa bahagianya ia saat ini. Dokter itu berlalu meninggalkan mereka berdua.
Arvin mulai membuka matanya. Arvin tersenyum tipis melihat wajah Alina untuk pertama kalinya. Tangannya terangkat menyentuh wajah sendu yang sedang menatapnya itu. Bukannya mengelus tetapi Arvin mencubit pipi Alina sedikit keras. Sehingga Alina mengaduk kesakitan.
"Aahh, sakit mas," eluh Alina sambil mengusap pipinya.
"Masih berani bilang seperti tadi, hmm? Jika aku tidak segera bangun apa kamu akan benar-benar meninggalkanku Alina?" tanya Arvin yang sedikit lemah. Alina tersenyum lebar. Padahal itu hanya ia ucapkan dengan asal saja.
"Tentu saja. Untuk apa aku menunggu pria yang terbaring koma seperti ini," jawab Alina pura-pura angkuh dan acuh.
Arvin langsung menarik Alina sehingga Alina jatuh ke dalam pelukan Arvin. Arvin langsung mencium bibir Alina itu. Alina mengerjap-ngerjap karena terkejut dengan perlakuan Arvin.
"Jika kamu sampai berani melakukannya, aku tidak akan mengampunimu sayang," ucap Arvin dengan posesif. Alina hanya tertawa geli. Dirinya bangkit dan duduk di kursi kembali.
Alina segera menghubungi keluarganya dan mengabarkan jika Arvin telah sadar kembali. Mereka merasa senang dan segera menuju rumah sakit. Alina menatap wajah suaminya yang masih lemah itu.
Selang beberapa menit, orang tua dan mertuanya sudah datang. Mereka mengembangkan senyumnya melihat Arvin yang sudah tersadar. Beberapa hari ini mereka memang kalut dalam kesedihan.
"Syukurlah jika kamu sudah baik-baik saja. Mama sangat khawatir mendengar berita kecelakaanmu. Terlebih lagi istrimu yang tidak mau istirahat dan terus menemanimu sepanjang waktu," ungkap Lita. Arvin mengerutkan dahinya dan menatap ke arah Alina. Alina hanya tersenyum kaku.
"Ma, bagaimana keadaan Zidan?" tanya Arvin. Karena terakhir kali ia bersama Zidan dalam satu mobil sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Dia sudah boleh pulang hari ini. Baru saja. Mendengar kabar kamu sudah siuman dia ingin ikut, tapi mama tidak tega," jelas Lita. Arvin mengangguk dan menghela napasnya dengan lega. Syukurlah jika putranya baik-baik saja.
__ADS_1
"Vin, semoga lekas sembuh," ujar Jovan dan Arvin mengangguk. Begitu juga Mahardika yang memberikan sedikit perhatiannya kepada putranya itu.
Hari menjelang sore. Lita dan Mahardika pamit terlebih dahulu karena harus mengurus Zidan. Sedangkan Soraya dan Jovan masih berada di sana menemani Alina.
"Biar mama yang jaga. Kamu pulang dan istirahatlah," suruh Soraya sambil memeluk bahu Alina dari samping. Alina menggeleng pelan.
"Nggak Ma, jika Alina di rumah justru tidak akam tenang," jawab Alina. Soraya hanya menghela napasnya sedikit kasar. Putrinya itu sungguh keras kepala.
"Vin, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?" tanya Jovan dan lebih mendekat di samping brankar yang di tempati Arvin.
"Entahlah Pa. Semuanya terjadi begitu cepat. Bahkan Arvin tidak sempat untuk menghindar," ucap Arvin yang tak begitu ingat dengan kronologi kecelakaan tersebut.
"Apa ada seseorang yang berusaha membunuhmu? Apa kamu terlibat masalah dengan rekan bisnismu?" tanya Jovan menyelidik.
"Arvin rasa tidak ada Pa," jawab Arvin sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Baiklah, jaga dirimu dan keluargamu baik-baik. Papa sama mama pulang dulu," pamit Jovan. Alina dan Arvin mengangguk.
Kini tinggal mereka berdua yang tersisa di ruangan itu. Arvin menatap Alina penuh arti. Sedangkan Alina hanya mengerutkan dahinya.
"Sayang, aku kangen sama kamu," ucap Arvin dan menarik Alina agar lebih dekat dengannya.
"Aku juga kangen sama kamu mas. Tapi kamu harus banyak-banyak istirahat dulu," jawab Alina.
__ADS_1
"Bukanlah aku sudah istirahat selama satu minggu? Untuk apa istirahat lagi. Aku sudah sembuh sayang," ujar Arvin santai. Ia menarik Alina agar lebih mendekat lagi. Sudah lama Arvin tak mencium bibir mungil yang selalu membuatnya candu itu.