
"Jika kehidupanmu sesulit itu, kenapa kamu tidak pulang ke panti nak?" tanya bu Yasmin. Ia semakin sedih setelah mendengar cerita tentang kesulitan Zara selama ini.
"Zara hanya ingin membuktikan jika Zara bisa hidup mandiri di luar sana bu," jawab Zara pelan. Bu Yasmin kembali memeluk Zara.
"Ayo, ibu antar ke kamarmu untuk istirahat sayang," ujar bu Yasmin. Zara mengangguk. Mereka berjalan menuju kamar Zara yang dulu.
Bu Yasmin sangat menyayangi Zara. Ia sudah menganggap Zara sebagai anaknya sendiri. Selama di panti asuhan, Zara juga sering membantu bu Yasmin mengurus anak-anak.
Setelah kepergian Zara waktu itu, bu Yasmin mengunci kamar Zara. Ia tak membiarkan sembarangan orang mendatangi kamar itu. Kecuali hanya saat membersihkan kamar tersebut. Bu Yasmin membiarkan kamar Zara sama seperti terakhir kali Zara meninggalkan tempat itu. Tak ada yang berubah sama sekali.
Mereka sampai di kamar Zara. Zara terkejut karena barangnya masih tersimpan rapi dan tak ada yang berubah sedikitpun. Bu Yasmin begitu menjaga kamar ini. Ia berharap suatu saat Zara kembali ke panti ini lagi.
"Bu, ini semua ibu yang menjaganya?" tanya Zara tak percaya.
Bu Yasmin tersenyum tipis. Ia duduk di ranjang dan mengusap seprei itu. Ia menepuk pelan sampingnya agar Zara duduk di sana.
"Iya. Apa kamu suka? Zara, sejak kamu memutuskan untuk hidup sendiri, hanya kamar ini yang menjadi pengobat rindu ibu," ujar bu Yasmin.
"Maaf bu, Zara sudah menyusahkan ibu," ucap Zara. Bu Yasmin hanya tersenyum.
"Oh iya, laki-laki itu sepertinya sangat baik padamu," ujar bu Yasmin. Ia menatap lurus ke depan. Zara menatap bu Yasmin.
"Siapa yang ibu maksud?" Zara mengernyitkan dahinya.
"Nak Zidan. Beberapa kali dia datang ke sini. Memberikan begitu banyak bantuan untuk panti kita nak. Dia bilang, dia adalah calon suamimu," ujar bu Yasmin senang.
"Eh, kok Zidan nggak pernah cerita soal ini?" batin Zara bingung.
"Selain itu dia juga meminta restu kepada ibu untuk menikahimu nak. Meskipun hanya bertemu beberapa kali, ibu sudah yakin jika dia adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab," ungkap bu Yasmin.
"Iya bu, doakan semoga hubungan Zara dan tuan Zidan berjalan baik," ucap Zara.
"Ya sudah, kamu istirahatlah. Pasti capek kan," ucap bu Yasmin. Kemudian bu Yasmin keluar dari kamar Zara. Zara merebahkan dirinya di kasur. Berapa lama Zidan mengenal panti ini. Berapa kali Zidan ke sini, masih terpikirkan dalam benak Zara.
"Sebenarnya sejak kapan Zidan menjadi donasi untuk panti ini? Kok aku tidak pernah tahu," gumam Zara.
__ADS_1
Karena merasa lelah, ia memutuskan untuk tidur siang. Zara mulai memejamkan matanya. Berbagai pertanyaan muncul dan nanti ia akan bertanya sendiri dengan Zidan jika sudah bertemu dengannya.
Cukup lama Zara tertidur. Mungkin sekitar tiga jam lebih. Saat ia terbangun, hari sudah semakin sore. Zara melirik jam dinding. Ternyata memang sudah sore. Zara terbangun dan ia bersiap untuk mandi.
Kini ia selesai mandi. Dirinya sudah segar kembali. Karena bingung mau ngapain di sini, ia memutuskan untuk bermain dengan anak-anak panti. Saat dirinya ingin melangkah menuju ruang tengah yang biasa digunakan untuk anak-anak berkumpul atau bermain, Zara mendengar suara yang tak asing ditelinganya. Benar saja, Zidan sedang bermain dengan anak-anak panti itu.
"Kak Zara," ucap Ayana yang menyadari kedatangan Zara. Semua yang ada di situ menoleh ke arah Zara termasuk Zidan.
"Lagi asik main apa nih," ucap Zara dan duduk di samping Zidan.
"Kak Zidan lagi membacakan dongeng. Seru loh," ujar Ayana antusias.
"Oh ya? Waahh, asik dong," sahut Zara. Lalu mereka tertawa riang.
Mereka bermain bersama. Zara dan Zidan juga ikut dalam permainan anak-anak itu. Mereka tenggelam dalam dunianya.
"Anak-anak, waktunya makan. Ayo segera ke ruang makan untuk mengambil makanan," ujar bu Yasmin yang baru datang menghampiri mereka.
"Baik bu," jawab semua anak itu. Mereka berlari menuju ruang makan. Bu Yasmin hanya tersenyum.
"Mau makan sekarang atau mandi dulu?" tanya Zara. Ia tahu jika Zidan belum mandi.
"Mandi dulu deh, biar segar," jawab Zidan. Zara menuntun Zidan hingga ke kamar mandi. Ia tak lupa mengambilkan handuk untuk Zidan. Sembari menunggu Zidan selesai mandi, Zara menyiapkan makan untuk mereka berdua.
Zidan kini selesai mandi. Ia mengikuti Zara menuju ruang makan. Mereka makan bersama.
Setelah selesai makan, Zara mengajak Zidan untuk berjalan-jalan berkeliling panti itu. Hari semakin gelap namun penerangan di sekitar panti cukup baik.
"Kamu kok tiba-tiba bisa ada di sini sih?" tanya Zara memulai pembicaraan. Mereka sambil berjalan santai.
"Yah, mau bagaimana lagi. Tadi siang ada yang bilang kangen padaku. Jadi aku buru-buru datang ke sini," jawab Zidan santai. Ia menghentikan langkahnya dan bersandar pada tiang.
"Eh, itu tadi biar kamu lebih semangat bekerja saja kok," ucap Zara tersipu malu. Zidan menatap Zara dan tersenyum sekilas.
"Kalau memang kangen nggak usah ditahan. Nanti jerawatan loh," bisik Zidan. Ia tertawa kecil.
__ADS_1
"Hah? Mana ada yang seperti itu, kamu ngaco ah," jawab Zara. Zidan mendekati Zara perlahan.
"Orangnya ada di sini loh. Yakin nggak mau peluk atau cium gitu?" ucap Zidan pelan.
"Apaan sih. Kamu jangan aneh-aneh ya. Lagian ini di panti, jangan menjadi contoh yang tidak baik untuk anak-anak di sini," ujar Zara. Ia memundurkan badannya sedikit menjauhi Zidan.
"Yakin nggak mau?" tanya Zidan sekali lagi. Zara memalingkan wajahnya. Ia berjalan menjauhi Zidan. Zara semakin malu dan salah tingkah saat Zidan sedang menggodanya.
"Baiklah, biar aku yang memeluk dan menciummu sayang," gumam Zidan. Ia sedikit berlari menyusul Zara yang sudah agak jauh.
Zara duduk di kursi panjang yang berada di taman bermain. Langit mulai gelap. Keadaan sunyi dan sedikit gelap. Zidan tiba-tiba duduk di sampingnya. Zara menoleh sedikit ke arah Zidan.
"Sendirian saja? Kok aku nggak lihat tuan Fanny dari tadi," ucap Zara.
"Sengaja, aku ke sini sendirian tadi. Fanny sudah ku suruh pulang," jawab Zidan. Zara mengangguk paham. Zidan merangkul Zara.
"Menginap di sini atau pulang?" tanya Zidan lagi.
"Entahlah, aku ingin pulang tapi sudah malam juga. Oh iya, aku mau tanya sesuatu kepadamu," ucap Zara yang tiba-tiba teringat sesuatu hal.
"Apa?" jawan Zidan santai.
"Sejak kapan kamu menjadi donasi untuk panti ini? Sebelumnya aku tidak pernah melihat kamu ke sini?" tanya Zara.
"Oh, jadi kamu sudah tahu ya. Pasti ibu Yasmin yang bercerita padamu kan sayang?" ucap Zidan. Zara mengangguk.
"Aku baru beberapa bulan yang lalu menjadi donasi untuk panti ini. Saat pertama kali aku melihat kamu, aku langsung menyelidiki latar belakang kamu. Dan kebetulan saja aku ingin membantu panti ini juga. Jadi sekalian juga kan aku bilang ke bu Yasmin jika aku adalah calon suami kamu. Kamu tahu, bu Yasmin sangat merestui hubungan kita loh," ungkap Zidan.
"Tapi, bukankah saat itu aku belum mengenal kamu? Kok bisa-bisanya bilang bahwa kamu calon suamiku?" ujar Zara.
"Tapi sekarang memang benarkan? Aku adalah calon suamimu," jawab Zidan santai. Kalau dipikir-pikir Zidan ada benarnya juga sih.
"Siapa yang tahu nanti ke depannya bagaimana," ujar Zara pelan. Bahkan Zidan tak mendengarnya.
Mereka saling menikmati indahnya malam di taman bermain itu. Zidan menciumi pipi dan kening Zara berulang kali. Zara semakin tersipu malu. Namun dirinya juga tidak bisa menolaknya.
__ADS_1