
Pagi ini Zara ada presentasi di kelasnya. Ia sengaja berangkat pagi untuk persiapan menjadi pemateri hari ini. Zara sudah duduk di kelas. Ia mempelajari materi yang akan ia sampaikan nanti. Meskipun satu kelompok terdiri dari tiga orang, Zara tetap harus bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Zara membaca makalahnya dan beberapa buku referensi yang ia bawa. Akhir-akhir ini ia juga jarang ke perpustakaan. Bahkan dirinya lebih memilih istirahat di kost atau langsung ke kantor Zidan.
Beberapa hari ini juga hubungannya dengan Zidan sedikit bermasalah. Mereka sering bertengkar bahkan hanya karena hal kecil. Entahlah, sikap Zara kali ini benar-benar temperamental. Ia mudah marah pabila menyangkut tentang Zidan dan Karina. Apalagi sempat terekspos bahwa Zidan dan Karina memiliki hubungan dekat. Bahkan dikabarkan jika mereka sedang menjalin cinta.
Zara juga tidak ingin menanggapi soal itu. Namun ia tak bisa berpikir jernih kala cemburu menguasainya. Zara seolah takut jika Zidan akan berpaling darinya. Karena secara sosialpun ia kalah jika dibandingkan dengan Karina. Karina, wanita dewasa yang cantik di mata Zara.
Sudah 10 menit Zara berada di kelasnya. Belum juga ada yang datang ke kelasnya. Merasa lapar dan bosan, Zara memutuskan untuk ke kantin. Meskipun sendirian, Zara juga tidak malu jika hanya sekedar makan di kantin. Ia sudah terbiasa sendirian ke manapun ia pergi. Dan itu lebih menyenangkan baginya.
Seperti biasa, Zara lebih suka makan bakso. Zara memesan satu porsi bakso dan satu gelas es teh. Ia mulai memakannya dengan lahap.
"Baiklah, hanya bakso ini yang bisa membuatku lupa dengan keluh kesahku," batin Zara sambil menyantap baksonya. Beberapa saat kemudian, ia sudah selesai makan.
Kelas akan dimulai lima menit lagi. Zara memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Ia tidak boleh sampai terlambat. Ini adalah presentasi dari kelompok terakhir sebelum ujian akhir semester dilaksanakan.
Saat Zara sampai di kelas, teman-temannya sudah banyak yang datang. Zara menyiapkan proyektor untuk presentasinya hari ini.
Beberapa saat kemudian, dosenpun datang. Setelah salam dan dosen memberikan arahan materi seperti biasa, kini Zara dan dua temannya memulai presentasinya.
Zara cukup bagus membawakan materi kali ini. Ia menjelaskan kepada teman-temannya dengan lancar tanpa ada gangguan sedikitpun. Begitupun teman satu kelompoknya. Mereka bekerjasama dengan sangat baik.
Setelah penyampaian materi, dilanjut lagi sesi tanya jawab. Banyak juga teman-temannya yang antusias ingin bertanya. Namun sayangnya hanya dibatasi tiga penanya saja. Mengingat waktu yang begitu singkat.
__ADS_1
Akhirnya selesai juga presentasinya kali ini. Zara lega, dosennya juga cukup puas dengan hasil presentasi hari ini. Setelah itu mata kuliah itu selesai dan berganti mata kuliah selanjutnya.
Karena jeda dari antar mata kuliah 10 menit, Zara gunakan untuk keluar kelas sebentar. Ia hanya ingin menjauh sebentar dari keramaian kelasnya. Zara duduk di tempat yang sepi di bawah pohon. Ia memejamkan matanya sejenak. Zara membuka ponselnya yang ternyata ada satu pesan dari Zidan.
'Sayang, maaf ya beberapa hari ini membuatmu tidak nyaman. Tapi kamu harus percaya sama aku Zara, aku benar-benar sayang sama kamu.' Isi pesan dari Zidan.
Zara mengembangkan senyumnya. Bagaimanapun juga ia juga salah telah marah-marah pada Zidan.
'Aku percaya sama kamu. Hari ini aku akan ke kantor lebih cepat. Kamu mau aku bawakan apa? Hehe.' Balas Zara.
'Bawakan cintamu yang banyak untukku.' Balas Zidan dengan cepat. Zara tertawa kecil.
'Rasa apa tuan?' Goda Zara.
'Ih, jangan menggodaku terus. Aku harus masuk kelas lagi. Sampai bertemu nanti.' Balas Zara. Ia kembali ke kelasnya. Mood nya juga mulai membaik lagi.
Kelas kedua dimulai. Sama seperti sebelumnya, hanya saja bukan dirinya yang presentasi kali ini.
Beberapa menit kemudian, kelaspun selesai. Semua temannya berhambur keluar kelas, begitu juga dengan Zara. Ia ingin memasak sesuatu untuk Zidan hari ini.
"Zara," panggil Raffa. Zara menoleh.
"Ya?" balas Zara.
__ADS_1
"Nih. Makanan dari mommy. Maaf baru bisa memberikan padamu setelah kelas selesai. Karena aku takut ada kesalahpahaman antara kita nanti," ujar Raffa sambil memberikan bekal untuk Zara.
"Ya ampun, harusnya nggak usah repot begini juga kali. Oh iya, terima kasih ya. Salam untuk tante. Aku harus pergi duluan, daah..." ucap Zara. Ia segera keluar dari kelas. Raffa tersenyum tipis sambil matanya menatap kepergian Zara.
Zara kembali ke kostnya. Ia merebahkan dirinya sebentar sebelum mandi dan memasak untuk Zidan. Namun tatapannya terpaku pada bekal yang disiapkan oleh mommy nya Raffa. Zara merasa tersentuh dengan itu.
Zara mendudukkan dirinya. Ia membuka bekal tersebut. Bau makanan yang khas dan ini begitu enak menurutnya. Zara mulai mencicipi makanan itu. Awalnya ia ingin membawanya untuk Zidan, namun ia sudah berjanji akan memasak sendiri untuk Zidan. Akhirnya ia tak jadi membawa bekal tersebut ke kantornya.
"Enak banget sih. Tante Alina baik banget sih. Seandainya aku punya ibu seperti beliau, pasti sangat bahagia sekali," ujar Zara lirih. Setelah makan, ia beranjak ke dapur umum untuk memasak. Dapur yang dipakai oleh seluruh penghuni kost itu.
"Oke, saatnya mandi dan bersiap untuk ke kantor," ucap Zara setelah selesai memasak.
Zara mengambil handuk dan baju ganti. Ia segera mandi. Untungnya jam segini banyak yang belum pulang ke kostnya. Jadi ia tak perlu mengantri untuk mandi. Maklumlah, Zara hanya mampu menyewa kost yang sederhana. Yang terpenting ada tempat untuknya tidur dan berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya air hujan.
Selesai bersiap, Zara bergegas menuju kantor. Seperti biasanya, ia naik taksi online dari kostnya menuju kantor Zidan. Beberapa menit kemudian, ia telah sampai di depan gedung kantor milik Zidan. Zara segera melangkah masuk ke kantor tersebut. Namun langkahnya terhenti saat Karina memanggil namanya.
"Kamu punya hubungan apa sama Zidan?" tanya Karina tanpa basa-basi.
"Bukan urusan kamu," jawab Zara malas.
"Heh, kamu boleh senang sekarang karena Zidan memilihmu. Tapi aku adalah pasangan yang cocok untuk dia. Aku yakin, setelah orang tua Zidan bertemu denganmu, pasti akan segera memisahkan kalian berdua," ucap Karina sinis. Setelah mengucapkan itu, ia bergegas pergi dari sana.
Zara terdiam sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Karina. Dirinya tidak punya apapun untuk dibanggakan. Bahkan asal usulnya pun juga diragukan.
__ADS_1
Zara melangkah menuju ruangan Zidan dengan lesu. Kini keyakinannya sedikit tergoyahkan. Zara takut jika suatu saat bertemu dengan orang tua Zidan, semua yang dikatakan Karina adalah benar. Zara sedikit ragu. Ia bukan siapa-siapa yang bisa dibanggakan sebagai seorang menantu.