Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 103 (season 2)


__ADS_3

"Raffa, kita mau ke mana?" tanya Viona yang penasaran ke mana Raffa membawanya. Mereka bertemu di sebuah taman setelah perkuliahan mereka selesai. Dan Raffa langsung membawa Viona pergi dari sana.


"Kita mau ke rumah sakit," ucap Raffa, ia tersenyum tipis. Viona menatap Raffa dengan bingung. Lalu mereka masuk ke dalam mobil dan Raffa mulai melajukan mobilnya.


"Memangnya siapa yang sakit?" tanya Viona lagi. Raffa hanya melirik Viona sejenak dan kembali fokus pada kemudinya. Viona mendengus kesal karena Raffa mengabaikannya.


Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Raffa membawa Viona ke salah satu ruang perawatan yang tak lain adalah ruangan Zara.


Klek


"Bang, bagaimana kabar kakak ipar?" tanya Raffa saat baru masuk ke dalam. Zidan sedikit terkejut dengan kedatangan Raffa. Ia berdiri dan menghampiri Raffa.


"Zara sudah siuman. Tetapi dia belum mau bertemu dengan papa dan mommy," ucap Zidan sedih.


Karena terlalu lama menangis, Zara akhirnya tertidur dengan wajah sembabnya. Zidan membiarkan Zara dan tidak membangunkannya dulu.


"Hei, siapa gadis ini?" tanya Zidan menggoda Raffa. Raffa salah tingkah dan menjadi gugup. Sedangkan Viona menunduk sambil tersenyum.


"Emmm... Bang, dia.. Dia pacarku," ucap Raffa pelan.


"Apa? Aku tidak mendengarnya?" ujar Zidan sambil tertawa kecil.


"Sudahlah bang, jangan menggodaku," ucap Raffa. Mereka tertawa bersama.


Mendengar suara tawa mereka, Zara terbangun. Zara sedikit melupakan kesedihannya karena kedatangan mereka. Cukup lama mereka berada di sana. Lalu Raffa izin untuk kembali.


"Raffa, aku turut berduka cita ya atas musibah yang menimpa kakak iparmu. Aku tidak tahu berita ini," ucap Viona saat mereka berjalan menuju parkiran.


"Iya, maaf aku baru bisa mengenalkanmu pada bang Zidan saja. Kamu tidak marah kan?" ujar Raffa. Viona tersenyum dan merangkul lengan Raffa.


"Tidak masalah. Kita masih punya banyak waktu untuk itu. Habis ini kita ke mana?" ucap Viona.

__ADS_1


"Terserah kamu," jawab Raffa. Ia mengacak rambut Viona dengan gemas.


***


Hari-hari berlalu, kini Zara sudah diizinkan untuk pulang. Tentu saja Arvin dan Alina begitu senang menyambut kepulangan Zara. Semenjak hari itu, Zara lebih banyak diam daripada bicara seperti biasanya. Wajahnya juga nampak murung dan tak ada keceriaan dalam dirinya. Zara hanya tersenyum saat keluarganya menyambut kedatangannya.


Untuk saat ini, Zara tidak mau pergi ke rumah orang tuanya. Zara masih trauma dengan kejadian waktu itu. Saat ia terjatuh hingga tersadar, lalu hingga ia tahu bahwa bayinya telah tiada. Zara merasa takut untuk menginjakkan kakinya di rumah Anton.


"Sayang, bagaimana kondisimu? Sudah lebih baik?" tanya Alina selepas memeluk Zara.


"Ya," jawab Zara dengan mengangguk tipis. Alina menatap Zidan dengan bingung.


"Ya sudah, kamu pasti capek kan? Ayo mommy antar untuk istirahat," ucap Alina dengan lembut. Zara mengangguk. Alina membantu Zara untuk istirahat di kamarnya. Sampainya di dalam kamar, Zara langsung memeluk Alina dan menumpahkan kesedihannya. Alina hanya diam. Ia memberikan waktu pada Zara untuk menenangkan diri.


"Zara minta maaf Mom, Zara minta maaf," ucap Zara lirih namun masih terdengar oleh Alina. Zara semakin terisak dan merasa bersalah.


"Jangan seperti ini sayang. Jika kamu terus menangisinya, dia tidak akan tenang di sana," ucap Alina sambil membelai lembut punggung Zara. Hatinya hancur dan sampai sekarang masih belum bisa menerima kenyataan itu.


Alina membawa Zara untuk berbaring di kasurnya. Zara berbaring dan mulai memejamkan matanya. Alina terus mengusap lembut rambut Zara agar lebih tenang.


Alina menuju ke ruang tengah. Zidan dan Arvin tampak khawatir dan gelisah dengan kondisi Zara. Alina duduk di samping Arvin dan menghela napasnya sejenak.


"Zara masih terpukul dengan kehilangan bayinya," ucap Alina.


"Zidan akan berusaha agar Zara bisa bangkit dari keterpurukannya Mom," ucap Zidan yakin. Arvin dan Alina mengangguk. Ia yakin jika Zidan mampu membawa Zara keluar dari kesedihannya.


Zidan pamit untuk ke kamar. Ia tersenyum saat melihat Zara sedang tidur dengan pulas. Zidan menghampiri Zara dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap kening Zara dan mengecupnya dengan lembut. Ia tersenyum tipis sambil memandangi wajah istrinya itu.


"Betapa bahagianya jika kamu bisa kembali ceria seperti biasanya sayang," batin Zidan.


"Dokter bilang butuh 2-3 bulan dulu baru bisa program hamil lagi. Semoga kita bisa melewati cobaan ini sayang," bagin Zidan lagi.

__ADS_1


Untuk saat ini dokter tidak menyarankan mereka untuk memiliki bayi lagi. Terlebih dengan kondisi Zara yang masih belum pulih seratus persen. Zidan berharap semua ini akan cepat berlalu dan mereka bisa hidup bahagia seperti biasanya.


Zidan memajukan wajahnya mendekat ke arah Zara.


"Aku mencintaimu," bisik Zidan sambil mengecup kening Zara dengan lembut.


***


"Hachiii..."


Kayla tiba-tiba merasa badannya kurang sehat. Sudah tiga hari ini ia merasa pusing dan bersin-bersin. Sudah tiga hari pula ia tidak masuk bekerja.


Kayla hanya berada dalam kamarnya sambil membaringkan tubuhnya. Suhu tubuhnya juga mulai meninggi namun ia merasa dingin. Kayla menyelimuti dirinya dengan tebal, meskipun badannya terasa panas. Ia menggigil merasakan hawa dingin padahal suhu tubuhnya panas tinggi.


"Hachiii..."


Kayla mengambil tisu dan mengelap hidungnya. Hidungnya juga tersumbat. Kayla mencoba memejamkan matanya namun ia tidak bisa tidur.


"Sayang, makan dulu ya. Dari tadi kamu belum makan loh," ucap Risti, ibu Kayla.


"Pahit Ma, Kay tidak mau makan," ucap Kayla.


Sudah menjadi kebiasaannya saat sakit jika Kayla susah sekali untuk makan. Kayla merasa apa yang ia makan akan terasa pahit dilidahnya dan itu membuatnya mual. Risti harus pandai-pandai memaksa Kayla agar mau makan makanannya.


"Kalau tidak mau makan kapan kamu sembuhnya sayang. Begini deh, Kay mau mama buatkan apa, hemm?" tawar Risti. Mungkin saja Kayla ingin makan sesuatu. Kayla berpikir sejenak.


"Kayla mau makan makanan yang segar," jawab Kayla. Risti mengernyitkan dahinya. Makanan segar itu yang seperti apa, pikirnya bingung.


"Kay mau makan durian Ma," ucap Kayla kembali. Risti semakin kaget, selama ini Kayla sangat membenci buah tersebut. Dan hari ini Kayla memintanya sendiri.


"Kamu yakin mau makan buah itu?" tanya Risti memastikan. Kayla mengangguk dengan yakin.

__ADS_1


"Tapi harus dikulkas dulu Ma. Kayla maunya yang segar," ucap Kayla kembali.


"Ya sudah, mama coba carikan dulu ya, kamu jangan lupa makan buburnya," ujar Risti. Ia masih menatap putrinya dengan bingung. Kayla tersenyum senang mendengarnya.


__ADS_2