
Sudah tiga hari berlalu. Kini Alina dan Arvin memutuskan untuk mempercepat acara lamaran Barra dan Kayla. Meskipun Barra dan Kayla tak berharap secepat ini juga.
Tiba juga waktu di mana ia akan menyaksikan anak-anaknya menikah dan membina rumah tangga satu demi satu. Alina dan Arvin merasa lega karena bisa sampai pada tahap ini. Melihat secara langsung kebahagiaan anak-anaknya.
Arvin sudah pernah bertemu satu kali dengan orang tua Kayla. Tetapi hanya membahas masalah santai saja. Mereka merasa cocok dan nggak ada lagi yang dipermasalahkan. Kayla juga anak tunggal mereka. Mereka hanya ingin yang terbaik dan tidak membebani putrinya.
Waktu yang semakin sore ini, Alina dan Arvin menghabiskan waktunya di halaman belakang rumahnya. Mereka sambil berbincang santai dan sesekali mengulas kembali perjalanan cinta mereka.
Alina saat ini duduk di bangku yang ada di tengah taman kecil di belakang rumahnya. Dirinya menyandarkan kepalanya di bahu Arvin.
"Mas, apa sudah menghubungi keluarga Kayla perihal kita mau ke sana?" tanya Alina.
"Kemarin mas sempat bertemu dengan mereka sih. Tapi belum tahu juga hari pastinya. Ya kalau bisa secepatnya saja kan. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya," ujar Arvin. Ia sambil merangkul Alina.
Alina menghela napasnya sejenak. Ia mendongak untuk menatap suaminya.
"Mas, kok aku yang gugup ya. Padahal anak kita yang mau lamaran," ucap Alina. Ia tersenyum tipis. Arvin mengernyitkan dahinya.
"Haih, kamu itu. Terlalu terbawa suasana tahu," ucap Arvin. Dirinya tertawa geli.
Karena sudah lama mereka berada di sana, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Mereka belum menceritakan hal ini kepada anak-anaknya. Hari ini mereka memutuskan akan membahas kabar baik ini dengan anak-anaknya.
Kebetulan sekali Raffa dan Alisya sedang berada di ruang tengah. Mereka menonton kartun kesukaan mereka. Arvin dan Alina menuju ruang tengah dan duduk di samping mereka.
"Ada yang mau papa bicarakan dengan kalian berdua," ujar Arvin tiba-tiba. Raffa dan Alisya secara bersamaan menoleh ke arah Arvin.
"Tentang?" tanya Alisya bingung.
"Kakak kamu," jawab Arvin santai.
"Siapa? Bang Zidan?" tanya Alisya yang masih bingung.
"Bukan. Tapi Barra," jawab Arvin.
Raffa dan Alisya saling menatap. Lalu beralih lagi menatap Arvin. Mereka menunggu Arvin buka suara.
"Papa dapat kabar baik. Abang kalian akan segera menikah. Kemarin sudah bicara sama mommy dan papa juga," jelas Arvin.
__ADS_1
"Serius Pa? Sama kak Kayla?" tanya Alisya antusias. Ia kira jika abangnya tidak berani berbicara dengan orang tua perihal pernikahannya.
"Kamu sudah tahu sayang?" tanya Alina.
"Eh, iya sih.. Waktu itu pernah diajak ketemu sama kak Kayla. Alisya kira bang Barra tidak berani cerita sama mommy," jawab Alisya seadanya.
"Bagus dong Pa jika bang Barra segera menikah. Tapi, bagaimana dengan bang Zidan?" tanya Raffa.
Arvin terdiam sejenak. Sampai detik ini belum ada wanita yang ia kenalkan kepada mereka. Padahal usianya semakin bertambah. Arvin dan Alina sempat khawatir dengan Zidan yang seolah acuh dengan mencari pasangan hidup.
"Kamu bantu bujuk abang kamu dong Fa biar cepat menikah juga. Mau sampai kapan dia seperti itu terus," ujar Alina merasa sedih. Arvin mengusap tangan Alina.
"Iya, nanti Raffa coba bujuk bang Zidan juga biar cepat cari calon istri," jawab Raffa.
Setelah pembicaraan itu, mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Raffa dan Alisya melanjutkan menonton acara tv. Sedangkan Alina memasak untuk makan malam dibantu oleh Arvin.
***
Zara duduk sambil menopang dagunya. Ia sedang menunggu Zidan selesai bekerja. Hari ini Zidan mengajaknya makan malam. Jadi Zara harus sabar sedikit lagi untuk menunggu Zidan hingga pekerjaannya selesai.
Saat ini ia berada di ruangan Zidan. Berulang kali ia menatap ke arah pintu masuk ruangan tersebut. Belum ada tanda-tanda Zidan masuk ke dalam. Karena bosan menunggu, ia memilih untuk ke pantry untuk menyeduh kopi.
"Eh, iya. Anda?" jawab Zara. Ia mengernyitkan dahinya karena merasa tak mengenal wanita yang berdiri di depannya saat ini.
"Aku Ristya. Kamu bekerja bagian apa? Kok aku nggak pernah lihat kamu waktu bekerja," tanya Ristya. Zara melanjutkan kembali menyeduh kopi. Ia membuat dua gelas. Satu untuknya dan satu lagi untuk Ristya. Zara memberikan satu gelas kopi itu ke Ristya. Mereka duduk sambil mengobrol.
"Eh, aku... Aku asisten tuan Fanny. Sebenarnya aku masih magang sih. Jadi belum terikat kontrak kerja di sini," ucap Zara. Untung saja ia pernah diberitahu oleh Fanny. Jika ada yang bertanya padanya agar menjawabnya seperti tadi.
"Oh, berarti dekat juga dong dengan tuan Zidan?" tanya Ristya. Ia menatap ke arah Zara.
"Nggak juga sih," jawab Zara berbohong. Ia tidak ingin hubungannya terekspos terlebih dahulu.
Mereka saling mengenal dan bercerita. Zara merasa bahwa Ristya ini adalah tipe teman yang baik. Ristya orangnya juga ramah dan murah senyum. Cukup lama berbincang, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.
Zara kembali ke ruangan Zidan. Ia terkejut karena Zidan sudah duduk manis di sofa sambil menggulung lengan bajunya. Zara tersenyum manis. Melihat Zara yang sudah berada di dalam ruangan itu, Fanny pamit undur diri.
"Dari mana?" tanya Zidan. Zara duduk di samping Zidan.
__ADS_1
"Habis ngobrol sama teman," jawab Zara santai.
"Siapa sih?" tanya Zidan penasaran.
"Ciye kepo," ledek Zara. Ia tertawa kecil. Zidan mencubit hidung Zara dengan gemas. Zara meringis kesakitan. Ia mengusap-usap hidungnya yang memerah.
Zidan menarik Zara dan ia memeluknya dengan erat. Zidan bersandar di bahu Zara. Rasa ini sungguh nyaman. Seolah Zidan ingin waktu berhenti saat itu juga. Seolah segala lelahnya hilang begitu saja saat memeluk Zara.
"Zara," panggil Zidan pelan.
"Ya?" jawab Zidan.
Zidan melepas pelukannya dan ia langsung mencium pipi Zara. Zara yang terkejut sontak membelalakkan matanya lebar-lebar. Zidan terkekeh melihat Zara yang masih terkejut.
"Kamu... Kebiasaan," ucap Zara. Ia tersipu malu.
"Biarin," jawab Zidan santai.
Setelah cukup untuk menghilangkan penatnya, Zidan membawa Zara ke tempat makan. Ini bukan pertama kali mereka makan berdua. Tetapi ini pertama kalinya mereka makan di luar dengan status sebagai pacar.
Sepanjang perjalanan menuju tempat makan, Zidan hanya semakin bermanja pada Zara. Hingga sampailah mereka di restoran itu. Zidan membawa Zara masuk ke restoran tersebut.
"Selamat malam tuan Zidan," ucap pelayan yang menyambutnya. Zidan mengangguk. Ia membawa Zara ke meja langganannya ketika ia berkunjung ke restoran ini.
Tanpa berucap sepatah kata, pelayan itu sudah hafal apa yang akan dipesan Zidan. Bedanya kali ini ada dua porsi. Satu untuk Zidan dan satu lagi untuk wanita yang Zidan bawa.
Zara merasa takjub. Baru pertama kalinya ia makan di restoran mewah seperti ini. Seketika Zara terlihat murung. Ia teringat pada anak-anak yang ada di panti asuhan.
"Ada apa?" tanya Zidan yang mengetahui perubahan raut wajah Zara.
"Tidak apa-apa. Aku hanya teringat dengan anak-anak panti," jawab Zara.
"Kamu kangen sama mereka?" tanya Zidan kembali. Zara mengangguk pelan.
"Kenapa tidak mengunjungi mereka?" tanya Zidan lagi.
"Aku malu sama mereka. Aku belum bisa membahagiakan mereka," jawab Zara sedih. Zidan meraih tangan Zara dan mengusapnya pelan.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, pesanan mereka datang. Zara dan Zidan menikmati hidangan tersebut.