Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 94 (season 2)


__ADS_3

"Raffaaa..." panggil Viona.


"Hmm.."


"Hadap siniiii.." ucap Viona sedikit kesal.


"Hmm.." jawab Raffa. Ia masih fokus bermain game online nya. Raffa hanya melirik Viona yang ada di sampingnya yang bergelayut manja di lengannya.


"Ih nyebelin," ucap Viona. Ia memanyunkan bibirnya karena kesal. Dari tadi Raffa telah mendiamkannya dan asik sendiri dengan game nya.


Raffa menatap Viona dan mengecup kening Viona sekilas. Ia beralih lagi memainkan game nya. Viona langsung terdiam. Ia tersenyum tipis dan menatap Raffa terus.


"Katanya nggak boleh cium sembarangan," ucap Viona pelan. Raffa tersenyum tipis tetapi tatapannya masih fokus dengan game nya.


"Salah sendiri dari tadi berisik," gurau Raffa. Viona memukul lengan Raffa dan menatapnya dengan tajam. Raffa hanya tersenyum manis.


Saat ini mereka sedang berada di restoran. Dari tadi sore Raffa menemani Viona. Namun karena kesibukan Viona membuat Raffa jenuh dan memilih bermain game. Hingga Viona selesai dengan pekerjaannya Raffa masih setia dengan game nya.


Beberapa saat kemudian, Raffa sudah selesai dengan game nya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Raffa meminum minuman yang ada di depannya.


"Pulang sekarang? Ini sudah malam loh," ucap Raffa.


"Tidak mau," balas Viona. Raffa mengernyitkan dahinya bingung.


"Jalan-jalan ke taman sebentar yuk," ajak Viona.


Raffa segera berdiri ia menarik tangan Viona dan membawanya keluar dari restoran. Raffa melajukan mobilnya ke taman terdekat. Setelah sampai, mereka berjalan santai menikmati sejuknya angin malam di sekitar taman itu. Raffa terus menggenggam tangan Viona dengan erat. Viona melirik tangannya yang digenggam oleh Raffa. Hubungannya dengan Raffa semakin mengalami perkembangan.

__ADS_1


Raffa mengajak Viona duduk di bangku taman. Viona menyandarkan kepalanya di bahu Raffa. Dengan tangan mereka yang masih saling bergandengan.


"Pulang jam berapa?" tanya Raffa. Viona masih terdiam sambil memejamkan matanya. Semilir angin yang menerpanya, dan berduaan dengan Raffa seperti ini terlalu membuatnya nyaman dan tak ingin cepat berlalu.


"Vi, ini sudah jam sembilan malam loh," ucap Raffa. Ia sedikit menggoyangkan lengannya agar Viona terbangun.


"Memangnya kenapa? Biasanya aku pulangnya jam sepuluh sama mama," ucap Viona.


"Ini kan beda sayang. Kamu pergi sama aku loh, nggak baik juga bagi wanita pulang terlalu larut. Ayo, aku antar kamu pulang sekarang," ucap Raffa. Viona mendengus kesal. Jarang sekali Raffa mau disandari seperti ini. Viona hanya ingin menikmati momen berdua dengan Raffa saja.


Bukannya Raffa tidak ingin berlama-lama dengan Viona, tetapi ia tidak enak dengan orang tua Viona. Apalagi dirinya membawa anak gadis orang malam-malam. Raffa hanya tidak ingin terjadi fitnah yang membuat reputasi keluarga Viona jelek dimata masyarakat.


"Iya-iya pulang... Tapi cium dulu," ucap Viona. Ia meringis memperlihatkan giginya pada Raffa. Raffa terdiam sejenak. Ia menghela napasnya pelan.


Cup


"Apalagi? Ayo pulang," ucap Raffa sambil tersenyum.


"Lagi, tapi bukan di kening," ucap Viona.


"Vi, jangan aneh-aneh," ujar Raffa. Ia menatap Viona dengan lekat. Viona memalingkan wajahnya pura-pura ngambek. Raffa menghela napasnya lagi. Ia memegang dagu Viona dan menghadapkan wajah Viona padanya. Raffa mengecup bibir Viona dan menempelkannya cukup lama. Tatapan mereka saling bertemu. Debaran dalam dada mereka semakin tak terkendali.


Saat Raffa ingin menjauhkan wajahnya, Viona langsung menahan bahu Raffa. Ia langsung menerkam bibir Raffa dengan sedikit kasar. Raffa tersenyum tipis. Ia membalas ciuman itu. Ciuman bibir untuk pertama kalinya bagi mereka. Karena biasanya hanya kecupan saja.


Raffa melepas ciuman tersebut. Ia terus menatap lekat Viona. Viona seperti kehilangan jiwanya. Perasaannya melayang jauh ke angkasa.


"Sudahkan? Ayo pulang," ucap Raffa. Viona menunduk malu. Raffa bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendahului Viona. Viona menatap Raffa dan tersenyum lebar. Malam ini akan menjadi saksi kisah cinta mereka yang baru.

__ADS_1


Raffa melajukan mobilnya menuju rumah Viona. Selepas dari taman tadi, Raffa sama sekali tidak angkat bicara. Raffa fokus dengan kemudinya. Ia bersikap demikian karena merasa gugup setelah apa yang mereka lakukan di taman tadi. Sedangkan Viona hanya menunduk malu. Ia malu untuk menatap Raffa secara langsung.


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Viona. Viona dan Raffa saling terdiam sejenak di dalam mobil.


"Maaf," ucap mereka bersamaan. Viona dan Raffa tertawa bersama.


"Maaf, tadi aku sudah kelewat batas," ucap Raffa. Ia menghela napasnya sejenak dan menyandarkan tubuhnya pada kursinya.


"Tidak apa-apa. Ya sudah, aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati," ucap Viona. Raffa mengangguk.


Viona keluar dari mobil Raffa. Ia melambaikan tangannya kepada Raffa. Raffa segera melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya sendiri. Setelah kepergian Raffa, Viona masuk ke dalam rumahnya. Viona melewati ruang tamu dan ruang tengah begitu saja. Ia tidak sadar jika Danis sedang duduk di ruang tengah. Ia menunggu Viona kembali.


"Dari mana?" tanya Danis yang terdengar dingin. Suara itu mengejutkan Viona. Viona menghentikan langkahnya yang tengah menaiki anak tangga.


"Eh, papa. Aku dari taman bersama Raffa tadi," jawab Viona. Danis berdiri dan menatap Viona dengan tajam.


"Pergi dengan cowok dan kamu pulang selarut ini?" ucap Danis. Viona membeku di tempatnya. Ia menundukkan wajahnya karena sepertinya papanya sedang marah padanya.


"Semakin hari kamu semakin bertingkah ya?" ucap Danis.


"Bukan begitu Pa, Viona tidak sering kok bertemu dengan Raffa," ucap Viona lirih.


Danis memejamkan matanya sejenak. Ia menghela napasnya pelan. Tak ada gunanya juga ia marah sama putrinya.


"Sudahlah, kamu cepatlah beristirahat. Dan, jangan ulangi lagi," ucap Danis. Viona tersenyum lebar. Ia mengucapkan terima kasih pada papanya dan segera menuju ke kamarnya. Untung saja papanya tidak terlalu marah padanya. Viona langsung menjatuhkan dirinya di atas kasurnya saat sampai di dalam kamarnya. Ia tersenyum membayangkan kejadian waktu di taman tadi.


Kemudian, Viona bangkit dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Viona berendam di bath up cukup lama untuk menenangkan pikirannya.

__ADS_1


Sedangkan Raffa baru saja tiba di rumahnya. Saat tiba di ruang keluarga, ternyata di sana sudah tidak ada orang. Yang artinya orang tuanya sudah istirahat lebih dulu. Raffa menuju ke dapur. Ia merasa lapar karena tadi belum sempat makan. Raffa segera memanasi makanan yang masih ada. Setelah selesai, ia duduk di kursi makan dan melahap makanannya. Raffa melirik jam yang ada di dinding. Ternyata sudah larut malam. Selesai makan, ia segera menuju ke kamarnya. Raffa menjatuhkan dirinya di kasurnya dan segera memejamkan matanya. Ia tidak sempat untuk membersihkan diri. Rasa kantuknya jauh lebih kuat sehingga membuatnya malas ke kamar mandi.


__ADS_2