Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 54 (season 2)


__ADS_3

Pagi harinya,


Zara menggeliat kecil di atas kasurnya. Ia malas untuk bangun. Tetapi hari ini ia harus pulang ke panti asuhan setelah mendapat izin dari Zidan menginap selama satu minggu.


Semalam, setelah pulang dari rumah orang tua Zidan, Zara segera mengemas barang yang ia bawa untuk pulang ke panti. Zara duduk di tepi ranjangnya. Ia merapikan rambutnya dan menguncirnya asal. Zara mengambil handuk dan perlengkapan mandinya, lalu ia bergegas untuk mandi.


Selesai mandi, Zara bersiap-siap untuk pergi. Namun sebelum itu, Zara ingin keluar sebentar membeli sarapan. Ini masih pukul 07.00 pagi.


Zara berjalan di sekitar area kostnya hingga jalanan dekat kampus. Suasana pagi memang begitu menyegarkan. Sebelum sarapan, Zara ingin berolahraga pagi dengan jalan-jalan di sekitar taman yang tak jauh dari sana. Selesai jalan pagi, Zara langsung menuju warung makan untuk sarapan.


Zara pulang kembali setelah mengisi perutnya. Ia harus bersiap-siap untuk pulang ke kostnya. Ternyata, Zidan yang akan mengantarnya secara langsung untuk pulang ke panti asuhan. Sekalian, Zidan juga ada urusan di sana. Karena mereka akan pergi nanti siang, Zara memilih untuk beristirahat di kostnya sambil menunggu waktunya tiba.


Zara berjalan santai menuju kostnya. Sampai di depan gerbang kost, ia terdiam seketika. Karina sudah berdiri dengan cantiknya di depan gerbang kost Zara. Ia tersenyum cantik ke arah Zara.


"Ka-karina," ucap Zara terbata. Zara takut dengan kehadiran Karina yang secara tiba-tiba. Karina tersenyum cantik dan mendekati Zara.


"Untuk apa dia ke sini?" batin Zara bingung.


"Zara, jangan takut. Aku ke sini hanya ingin meminta maaf padamu," ucap Karina dengan lembut. Zara mengernyitkan dahinya. Ucapan itu terlihat tulus dari hatinya.


"Maafkan aku Zara. Aku tahu, aku sudah banyak menyulitkanmu dan Zidan. Karena kebodohanku juga sekarang papaku bangkrut. Sebelum aku pergi dari kota ini, aku ingin meminta maaf padamu Zara. Kamu mau kan memaafkanku?" ucap Karina sedih. Karina menggenggam tangan Zara dengan lembut.


"I-iya. Aku tidak mempermasalahkannya lagi. Aku sudah memaafkanmu Karina," balas Zara. Karina tersenyum dan memeluk Zara.


"Terima kasih Zara. Zidan benar, kamu adalah wanita yang begitu baik. Zidan begitu beruntung bisa memilikimu," ucap Karina. Ia melepas pelukannya. Karina meneteskan air matanya. Zara hanya tersenyum canggung. Hingga saat ini Zara masih begitu takut dengan Karina.


"Bagaimana kalau aku traktir kamu makan? Kita jalan-jalan sebentar. Yaa, itung-itung sebagai perayaan kamu mau memaafkanku Zara," ucap Karina memohon.


"Eh, tidak perlu! Aku hanya tidak ingin ada dendam di antara kita saja. Aku ada urusan setelah ini. Maaf, aku tidak bisa ikut denganmu hari ini," jawab Zara sedikit panik.

__ADS_1


"Kenapa Zara? Kamu masih meragukanku kalau aku akan mencelakaimu?" tanya Karina sedih.


"Tidak! Bukan seperti itu maksudku," ucap Zara panik. Ia ingin menolak ajakan tersebut, namun begitu susah baginya.


Karina menunduk sedih. Ia terlihat kecewa karena Zara tidak ingin ikut dengannya. Melihat Karina yang seperti itu membuat Zara tidak tega.


Zara terdiam sejenak. Ia berpikir mungkin tidak apa jika Zara ikut dengan Karina sebentar. Zara juga tidak enak hati terus menolak Karina.


"Baiklah, aku mau ikut sama kamu," ucap Zara. Karina mengembangkan senyumnya. Ia memeluk Zara sekilas.


"Terima kasih Zara," ucap Karina.


Tanpa mereka sadari, Fanny telah lama memperhatikan mereka. Sebenarnya, Fanny ditugaskan langsung oleh Zidan untuk menjemput Zara. Tetapi, apa yang ia lihat hari ini justru membuatnya penasaran.


Zara dan Karina menuju ke sebuah tempat yang sudah Karina pesan sebelumnya. Mereka mengendarai taksi, karena Karina sudah tidak punya mobil lagi. Kehidupannya berantakan setelah papanya bangkrut.


Fanny mengikuti Karina dan Zara. Ia ingin memastikan bahwa Zara baik-baik saja. Diam-diam, Fanny menelepon Zidan dan mengabarkan bahwa Zara dibawa oleh Karina.


"Kita mau ke mana?" tanya Zara penasaran. Karina tersenyum.


"Karena kamu adalah orang spesial, jadi aku mau bawa kamu ke tempat yang spesial juga," jawab Karina.


Tak lama setelah itu, mereka sampai di sebuah hotel dengan nuansa tepi pantai. Karina mengajak Zara menuju restoran untuk mencari makan. Ia menarik tangan Zara dengan tidak sabar.


"Ayo duduklah. Aku akan pesankan kamu makanan dulu," ujar Karina. Zara mengangguk. Karina pergi meninggalkan Zara sendirian. Ia memesan beberapa makanan untuknya dan Zara.


"Mari kita bersenang-senang hari ini," gumam Karina. Ia menatap Zara dengan sinis. Karina kembali dengan membawa nampan berisi makanan.


"Loh, sudah bawa sekalian? Aku pikir akan dihidangkan oleh pelayan restoran," ucap Zara saat melihat Karina kembali dengan sekalian membawa makanan.

__ADS_1


"Iya, tapi aku ingin menyajikan sendiri khusus untuk kamu," ucap Karina. Ia tersenyum tipis.


Zara dan Karina mulai mencicipi makanan yang sudah tersaji di meja. Zara sama sekali tak menaruh curiga terhadap Karina. Ia dengan lahap menyantap makanan tersebut.


"Pertunjukan akan segera dimulai, hehe," gumam Karina dan ia tersenyum tipis sambil menatap Zara.


Fanny duduk tak jauh dari mereka. Ia terus mengamati setiap gerak-gerik Karina. Fanny tak dapat menemukan kecurigaan padanya.


"Apa mungkin nona Karina benar-benar ingin berbaikan dengan nona Zara?" batin Fanny.


"Zara, berapa lama kamu mengenal Zidan?" tanya Karina. Zara menghentikan makannya. Ia menatap Karina.


"Belum lama," jawab Zara singkat. Karina tersenyum lebar.


"Lalu, kamu dari keluarga mana? Kok aku belum pernah mendengar siapa kamu?" tanya Karina lagi.


"Aku yatim piatu. Dari kecil aku tinggal di panti asuhan," jawab Zara. Ia tersenyum tipis.


"Hanya seorang yatim piatu ya. Heh, memangnya dia pantas bersaing denganku? Jangan harap kamu Zara! Sekarang kamu boleh senang dulu, tapi apa kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?" batin Karina. Ia tersenyum penuh arti.


Mereka sudah selesai makan. Karina dan Zara melanjutkan mengobrolnya. Seketika saja mereka terlihat sangat akrab. Tak ada kecanggungan lagi di antara mereka.


"Kenapa aku merasa panas sekali?" batin Zara. Ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Kamu kenapa Zara?" tanya Karina saat menyadari reaksi Zara.


"Kenapa aku juga sedikit pusing. Apa yang terjadi padaku?" gumam Zara. Ia memegangi keningnya.


"Karina, apa kita bisa pulang sekarang? Aku merasa tidak enak badan," ucap Zara. Karina langsung merasa khawatir.

__ADS_1


"Kamu sakit? Apa sebaiknya kita istirahat di hotel sini dulu. Aku akan pesankan satu kamar untuk kita ya," ucap Karina panik.


"A-apa boleh seperti itu? Aku merasa pusing sekarang," ujar Zara. Karina segera memapah Zara menuju kamar hotel yang sebelumnya sudah ia pesan. Keadaan Zara semakin kacau. Karina membaringkan Zara di atas ranjang. Ia tersenyum sinis saat melihat Zara dalam keadaan tak berdaya.


__ADS_2