
"Pa, kami berangkat dulu ya," pamit Barra saat menghampiri ayahnya. Barra mencium punggung tangan Arvin. Kemudian Barra mendekati Alina.
"Mom, berangkat dulu," pamit Barra ia juga mencium punggung tangan Alina.
"Hati-hati. Jangan pulang terlalu malam, besok adikmu masih harus sekolah," ujar Alina. Ia mengusap pipi Barra dengan lembut. Barra mengangguk paham.
Alisya juga melakukan hal yang sama. Ia pamit kepada Arvin dan Alina. Tak lupa juga pamit pada Raffa. Sebenarnya mereka ingin pergi bertiga, namun Raffa malas untuk keluar rumah dan memilih berdiam diri di kamarnya.
Barra melajukan mobilnya menuju mall. Apapun yang Alisya ingin lakukan, ia menurutinya begitu saja. Sudah lama mereka tidak pergi menghabiskan waktu libur berdua seperti ini.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di parkiran mall. Barra turun dari mobil diikuti Alisya. Alisya berjalan mendekati Barra.
"Ayo bang," ucap Alisya dan menarik tangan Barra.
"Sebentar," ucap Barra. Ia melepas tautan tangan Alisya dari lengannya dan mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya.
Ia membuka ponsel tersebut dan mengirim pesan kepada seseorang yang entah siapa Alisya tidak tahu. Alisya diam-diam mengintip, namun kepalanya ditahan oleh Barra. Alisya mendengus kesal dan melipat tangannya di depan dada.
"Ayo masuk," ajak Barra. Ia menarik tangan Alisya. Alisya mengikutinya begitu saja.
"Hari ini mau ngapain saja? Nonton? Belanja? Atau makan?" tanya Barra sembari memandang Alisya.
"Semuanya boleh tuh," ujar Alisya dan tersenyum lebar.
"Baiklah tuan putri. Tetapi sebelum itu ikut abang menemui seseorang ya," ujar Barra dan tersenyum lebar. Alisya hanya mengangguk dan menyatukan jari telunjuk serta jari jempolnya membentuk tanda oke.
Barra merangkul Alisya. Ia menuju tempat yang telah dijanjikan pada seseorang tersebut.
Langkah mereka terhenti di salah satu food court dan sorot matanya memerhatikan seperti mencari keberadaan seseorang. Setelah ketemu, Barra langsung menuju tempat meja itu.
__ADS_1
"Hai, maaf sudah nunggu lama," ucap Barra lembut. Ia duduk di depan wanita itu. Sedangkan Alisya di samping Barra. Alisya masih bingung siapa wanita ini. Matanya menatap Barra dan wanita itu secara bergantian.
"Tidak apa-apa kok. Aku juga baru sampai," ucap wanita tersebut. Ia tersenyum tipis. Senyumnya begitu menyejukkan. Tampilannya yang anggun dan kalem. Sungguh, Alisya saja merasa kagum dengan wanita yang ada di sampingnya itu.
"Kay kenalin ini adik aku, Alisya. Alisya, ini Kayla," ucap Barra. Alisya dan Kayla saling berjabat tangan dan melempar senyum.
"Alisya."
"Kayla."
"Ehm, dia ini pacar abang," ucap Barra malu-malu. Ia melirik Kayla yang ekspresinya sama seperti dirinya.
Alisya terkejut dan langsung menatap Barra dengan lekat. Belum pernah Barra sekalipun menceritakan wanita ini padanya atau mommy nya. Dan tiba-tiba Barra mengenalkan wanita yang kini sudah menjadi pacarnya itu.
"Serius bang? Kapan jadiannya? Kok Alisya tidak tahu," ujar Alisya dan masih menatap Barra dengan tatapan menyelidik.
"Kok bisa kak Kay suka sama bang Barra? Padahal kan orangnya..." ucap Alisya dan melirik ke arah Barra. Alisya menyengir saat Barra menatapnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Kayla hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Tak lama pesanan yang sudah dipesan Kayla sebelumnya sudah datang. Mereka menghentikan ngobrolnya dan makan bersama. Alisya masih banyak yang ingin ditanyakan sebenarnya, tetapi ia mengurungkannya lebih dulu.
"Pantas saja hari ini dia begitu semangat mengajakku jalan. Ternyata mau ketemu pacarnya. Hihihi... Habis ini cerita ke mommy ah. Pasti bakalan heboh," batik Alisya terkikik.
"Jangan cerita ke mommy dulu ya dek. Nanti biar abang yang cerita sendiri tentang hubungan abang sama Kayla," ucap Barra memperingati. Alisya ini orangnya sedikit ember, jika tidak diperingati sebelumnya pasti bakalan cerita ke mommy nya.
"Kenapa bang?" tanya Alisya santai.
"Abang mau ngenalin Kayla ke mommy kalau bang Zidan sudah punya calon. Yah, kamu tahu sendirikan bang Zidan itu gimana orangnya. Takutnya nanti justru menyinggung perasaannya atau gimana gitu," jawab Barra panjang lebar. Alisya berpikir sejenak. Mencerna setiap kata yang diucapkan Barra.
"Memangnya kak Kay mau seperti itu? Nggak marah?" tanya Alisya yang beralih menatap Kayla. Kayla hanya tersenyum sambil tangannya mengusap pelan tangan Alisya.
__ADS_1
"Awalnya marah, tapi setelah melihat keadaannya aku jadi bisa mengerti," ucap Kayla. Sungguh, wanita ini begitu mengagumkan dimata Alisya. Dia bisa tersenyum dan menganggap hal ini bukan sesuatu yang perlu dipusingkan. Jika Alisya berada dalam posisi Kayla pasti dia akan marah dan minta putus saat itu juga.
"Lagipula aku dan kakakmu sudah serius kok. Kami juga nggak mau buru-buru menikah dulu," ujar Kayla kembali. Alisya hanya tersenyum tipis dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai, mereka bertiga memutuskan untuk menonton film. Alisya dan Kayla saling mengobrol berbagai hal. Alisya yang lebih antusias bertanya kepada Kayla karena rasa penasarannya yang tinggi. Barra bahkan sampai dicuekin oleh mereka berdua. Namun Barra tersenyum lega. Alisya bisa menerima Kayla dengan baik.
"Syukurlah jika mereka bisa akrab secepat ini. Tadinya ku kira bakal susah ngenalin mereka. Kalau tahu begini harusnya dari dulu saja aku mengenalkan Kayla dan Alisya," gumam Barra yang mengikuti langkah mereka dari belakang.
Barra mengantri untuk membeli tiket. Sedangkan Kayla mengajak Alisya membeli popcorn dan minuman dingin. Setelah mendapatkan tiketnya mereka langsung masuk ke dalam bioskop.
Mereka segera duduk di tempat duduknya dengan Kayla yang berada di tengah mereka. Alisya fokus dengan film yang ia tonton begitu juga Kayla. Sedangkan Barra justru fokus memandangi dua wanita yang ia sayangi.
"Gimana kak? Seru kan?" tanya Alisya saat mereka baru keluar bioskop. Mereka berdua tertawa bersama.
"Iya seru banget," jawab Kayla. Barra seperti sedang mengasuh mereka berdua. Dicuekin sedari tadi.
Mereka beralih ke pusat perbelanjaan. Alisya sibuk memilih pakaian untuknya. Ia juga sempat meminta pendapat pada Kayla. Saat Kayla ingin mengikuti Alisya, Barra lebih dulu menarik tangannya.
"Nyesel aku mengajak adikku. Kita jadi nggak bisa berduaan deh," bisik Barra. Kayla tersenyum dan mencubit pinggang Barra.
"Jarang tahu aku punya waktu untuk adik kamu. Jangan marah dong. Kan kita sudah sering menghabiskan waktu bersama," ucap Kayla. Ia mencubit kecil pipi Barra.
"Iyasih. Apa kamu senang hari ini sayang?" tanya Barra. Ia merangkul Kayla.
"Senang sekali. Terima kasih ya," ucap Kayla. Ia mencium pipi Barra sekilas dan buru-buru meninggalkan Barra. Kayla menyusul Alisya yang sedari tadi sibuk memilih pakaian.
"Dasar! Mulai nakal," ucap Barra pelan sambil menggelengkan kepalanya. Tangannya menyentuh pipinya yang baru saja dicium oleh kekasihnya dan tersenyum tipis. Barra berjalan menghampiri mereka berdua.
Waktu semakin sore. Setelah puas berjalan-jalan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Kayla membawa mobil sendiri. Mereka berpisah di parkiran dan segera menuju rumah masing-masing.
__ADS_1