Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 103


__ADS_3

Alina dan Arvin baru sampai rumah pukul 17.00. Karena tadi mereka sempat mampir dulu ke mall meskipun hanya sebentar. Alina merengek meminta coffee milk yang kemarin belum sempat ia cicipi. Ya katakanlah jika Alina sedang ngidam.


Karena sudah berada di mall sekalian mereka jalan-jalan dan belanja kebutuhan sehari-hari. Mulai dari belanja kebutuhan pokok hingga mainan baru untuk Zidan dan Barra. Karena kedua putranya ini selalu berebut mainan.


"Halo sayang, maaf ya hari ini mommy pulang telat," ucap Alina pada Zidan. Zidan mengangguk paham. Putranya yang satu ini memang selalu mengerti tentang dirinya.


"Tapi mommy juga bawakan abang mainan baru loh. Lihat yang mommy bawa," ujar Alina sambil menunjukkan mainan barunya. Zidan kegirangan mendapat mainan baru. Syukurlah jika putranya ini tak ngambek padanya.


Alina membawa belanjaannya ke dapur dan menatanya di dalam kulkas. Ia juga dibantu oleh bi Narsih. Sedangkan tiga jagoannya yakni Arvin, Zidan, dan Barra bermain di ruang tengah.


Setelah selesai menata belanjaan, Alina bergegas ke kamarnya untuk mandi. Karena badannya sudah lengket sekali. Setelah mandi, ia menuju dapur lagi untuk menyiapkan makan malam yang dibantu oleh bi Narsih. Kini ganti Arvin yang mandi untuk membersihkan diri.


"Nyonya pasti capek. Apa tidak sebaiknya istirahat sebentar biar bibi yang menyelesaikan pekerjaan ini," ujar bi Narsih. Namun Alina hanya tersenyum dan melanjutkan memasaknya lagi. Setelah semua beres, Alina memanggil anak dan suaminya untuk makan.


Mereka makan dengan lahap tanpa ada pembicaraan di antara mereka. Seperti biasa, mereka memang tak banyak bicara waktu makan. Kecuali jika selesai makan atau ada hal yang penting yang harus dibicarakan.


Selesai makan, Alina menemani Zidan belajar. Sedangkan Arvin bermain bersama Barra. Meskipun Zidan jarang sekali bertanya kepada Alina, tetap saja Alina harus menemani Zidan. Tak terasa, putranya yang satu ini sudah semakin besar.


"Mom," panggil Zidan.


"Iya sayang. Ada apa?" tanya Alina dan kini menatap Zidan.


"Boleh minta tolong?" ujar Zidan hati-hati. Alina tertawa kecil.


"Boleh, memangnya abang mau minta tolong apa sama mommy?" tanya Alina penasaran. Tak biasanya putranya ini minta tolong padanya.

__ADS_1


"Soal ini Zidan belum paham. Mommy bisa ajarin Zidan gak?" tanya Zidan sambil menunjukkan pertanyaan yang ia maksud.


Alina menganalisanya sebentar. Soal matematika memang sulit baginya. Tapi sedikit-sedikit Alina masih bisa mengerti. Setelah dibaca dan dipahami, Alina mulai menjelaskan kepada Zidan bagaimana cara menyelesaikan soal tersebut.


"Nah, sekarang sudah paham belum?" tanya Alina setelah mengajari Zidan.


"Sudah. Terima kasih Mom," ucap Zidan senang.


"Mommy ke kamar duluan ya. Maaf tidak bisa menemani Zidan sampai selesai belajar. Jangan malam-malam belajarnya. Kalau sudah selesai segera istirahat, oke?" ujar Alina. Dirinya juga perlu untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian bekerja. Zidan mengangguk paham.


Tak lama setelah itu, Arvin menyusul Alina ke kamar. Alina sedang membaca laporan yang diam-diam ia bawa tanpa sepengetahuan dari Arvin.


"Lagi baca apa sih, serius banget," ujar Arvin yang sudah duduk di samping Alina dan meraih berkas tersebut. Arvin membacanya sekilas dan menatap tajam ke arah Alina.


"Lagipula urusan kita yang tadi siang juga belum kelar," ucap Arvin sambil menatap istrinya penuh arti. Perlahan Arvin mendekat ke arah Alina dan mulai menciumnya.


Malam semakin larut. Dan mereka semakin larut dalam indahnya cinta mereka.


***


Satu bulan sudah terlewati dengan aman. Kini usia kandungan Alina memasuki lima bulan. Walaupun dokter mengatakan tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tetap saja Alina harus bisa menjaga diri. Karena perutnya yang semakin besar, Arvin mulai menasihati istrinya untuk segera resign dari pekerjaannya.


Hari ini waktunya untuk cek kandungan. Meskipun mereka sudah persiapan untuk menyiapkan hati mereka masing-masing, tetap saja ini membuat mereka sedikit gelisah. Pasalnya Arvin yang tetap berharap untuk seorang bayi perempuan sedangkan Alina takut jika mengecewakan Arvin.


"Kenapa gemetar sayang?" tanya Arvin saat mereka berhenti tepat di depan pintu dokter kandungan.

__ADS_1


"Aku takut mas. Bagaimana jika kali ini juga laki-laki?" tanya Alina sedih.


Arvin tersenyum dan menggenggam erat tangan Alina. Harusnya Alina tak sekhawatir itu. Apapun nanti hasilnya itu tetap anaknya, darah gadingnya. Harusnya lagi Arvin tak selalu menuntut Alina. Semua itu juga bukan Alina yang menentukan.


Arvin menggelengkan kepalanya pelan. Mereka mulai masuk ke ruangan tersebut. Alina mulai diperiksa oleh dokter. Seputar keluhannya selama hamil ini atau hal-hal yang lainnya.


"Bayinya sehat. Dan kurangi untuk makan yang manis-manis ya bu. Takutnya nanti kelebihan berat badan justru membuat bu Alina kesulitan untuk melahirkan nanti," pesan dokter. Memang akhir-akhir ini Alina sering makan makanan yang manis dalam jumlah yang lumayan banyak.


"Dan untuk jenis kelaminnya, insya Allah perempuan. Selamat ya pak Arvin dan bu Alina," ucap dokter tersebut dengan senang.


Arvin dan Alina terkejut. Mereka tak menyangka jika akhirnya apa yang mereka inginkan terkabulkan. Bayi perempuan yang imut dan lucu. Membayangkan saja sudah membuat hati mereka membuncah. Mata Alina berkaca-kaca. Tak bisa melukiskan kebahagiaannya hari ini.


Setelah dari dokter kandungan, mereka memutuskan untuk pulang dan segera mengabari orang tuanya.


"Terima kasih sayang," ucap Arvin dan menciumi puncak kepala Alina berkali-kali. Ia juga sama bahagianya hari ini. Bayi perempuan yang ia tunggu sebentar lagi akan hadir di antara mereka.


Sampainya di rumah, mereka mengabarkan kepada kedua putranya bahwa sebentar lagi akan hadir seorang bayi perempuan yang imut dan lucu. Tak lupa juga Arvin mengabarkan kepada kedua orang tuanya dan mertuanya.


"Mas, kita kan belum pernah liburan bareng. Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke taman bermain?" ajak Alina karena merasa bosan di rumah dan bekerja terus.


"Boleh, tapi kamu nggak boleh capek-capek," jawab Arvin. Alina mengangguk paham.


Mereka persiapan untuk pergi ke taman bermain. Arvin sendiri secara langsung yang menjadi sopirnya. Dengan Alina yang duduk di sampingnya sedangkan kedua putranya duduk di belakang.


Sampai di taman bermain, Zidan dan Barra bermain bersama. Zidan yang sudah berumur delapan tahun kini sudah bisa diandalkan untuk menjaga adiknya. Sedangkan sang papa menemani Alina yang merengek minta ini itu. Membuat Arvin pusing dengan segala keinginannya namun ia juga senang jika Alina merepotkannya. Arvin merasa lebih diandalkan untuk menjadi seorang suami yang siaga dan selalu ada untuk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2