Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 113


__ADS_3

Cukup lama Alina berada di kamar mandi. Ia masih saja menangis sambil memegangi hasil tes tersebut. Ia bahkan tidak tahu harus sedih atau bahagia saat ini. Perasaannya campur aduk. Ia merasa belum siap untuk itu. Ia mengusap pelan perutnya yang masih rata.


"Sayang? Apa kamu di kamar mandi?" tanya Arvin secara tiba-tiba saat masuk ke kamar.


Alina terkejut dan segera mengunci pintu kamar mandi. Ia tidak ingin memberitahukan pada suaminya terkait kehamilannya saat ini.


"Sayang?" ujar Arvin sambil berusaha membuka pintu kamar mandi.


Alina menjadi panik. Ia harus menyembunyikan test pack tersebut sebelum Arvin mengetahuinya. Tapi ia harus buang itu di mana? Tidak mungkin ia membuangnya di tempat sampah dalam kamar mandi tersebut. Suaminya bisa saja menemukannya nanti.


"Alina? Jawab dong?" Suara Arvin yang masih di depan pintu.


"I-iya mas. Maaf perutku sedikit sakit. Sebentar lagi aku akan keluar," jawab Alina setenang mungkin.


Tangannya masih gemetaran membawa test pact itu. Akhirnya ia membuangnya di kloset. Dengan begitu, Arvin tidak akan curiga atau tidak akan menemukan apa-apa.


Sebelum membuka pintu kamar mandi, ia menghela napasnya sejenak. Ia tidak boleh terlihat panik apalagi sedih.


Tenang Alina, suamimu belum tahu apa-apa," batin Alina sambil mengelus dadanya. Alina mulai membuka pintu kamar mandi.


"Apa masih sakit sayang? Kali ini kita ke dokter ya. Aku takut kamu ada masalah dengan kesehatanmu," ujar Arvin dengan panik.


"Lihatlah, wajahmu terlihat pucat seperti ini," ujar Arvin sambil memegangi kedua bahu Alina.


"Nggak mas. Aku baik-baik saja. Aku hanya salah makan tadi waktu di luar. Jangan berlebihan ya, aku mohon. Kalau aku sakit, aku akan bilang kok mas," ungkap Alina. Sebenarnya ia merasa risih jika terus ditanya dan disuruh untuk periksa ke dokter.


Alina meninggalkan Arvin yang masih terdiam di depan kamar mandi. Alina duduk di tepi kasurnya. Tatapannya sendu. Ia dilema antara memberitahukan pada suaminya atau tidak.


"Ada apa? Cerita sama mas," ujar Arvin sambil jongkok di depan Alina. Ia menangkup wajah Alina dengan kedua tangannya. Alina berusaha tersenyum dan dirinya belum berani memberitahukan kabar baik ini pada suaminya.


"Mas, kalau misalnya kita punya anak lagi mas senang gak?" tanya Alina tiba-tiba. Arvin mengerutkan dahinya.


"Kenapa masih bertanya seperti itu. Ya mas sangat senang sekali sayang. Kenapa? Apa kamu hamil lagi?" ujar Arvin dengan senang.


Deg

__ADS_1


Jantung Alina terpacu kencang. Apa yang ditanyakan suaminya itu memang benar. Dirinya hamil lagi.


"Sayang?" panggil Arvin dengan lembut.


"Ma-mana ada! Jangan menduga hal yang nggak pasti mas. Aku juga nggak ingin hamil untuk sekarang ini," jawab Alina sambil memalingkan wajahnya.


"Apa ada yang disembunyikan dariku Alina? Apa hal yang tidak aku ketahui darimu saat ini?" batin Arvin bertanya-tanya. Menurutnya setelah keluar dari kamar mandi, sikap Alina berubah seolah ada yang sedang dia tutupi.


Arvin beralih duduk di samping Alina. Ia membelai lembut pipi Alina dan menatapnya dengan lekat. Arvin tersenyum tipis.


"Ya sudah, jangan dipikirkan lagi," ucap Arvin. Alina mengangguk dan tersenyum masam.


"Maaf mas, aku masih takut untuk memberitahukan hal ini kepadamu," gumam Alina merasa bersalah.


Alina memeluk Arvin dengan erat. Ia hanya ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu sampai ia yakin akan memberitahukan kabar ini padanya. Saat ini pikirannya sedang kacau.


"Mas, kenapa hari ini pulang cepat?" tanya Alina yang masih memeluk Arvin.


"Nggak sibuk kok di kantor. Daripada diam diri di kantor lebih baik pulang kan. Aku sudah kangen banget sama kamu sayang," ucap Arvin dan menatap Alina dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


"Mau ke mana?" ujar Arvin dan menahan tangan Alina. Arvin terkekeh. Ia menarik Alina hingga Alina terjatuh ke dalam pelukannya.


"Urusan kita belum selesai sayang," bisik Arvin dengan lembut.


Arvin mencium bibir Alina dengan lembut. Ia semakin menarik Alina dalam pelukannya dan Arvin perlahan menjatuhkan dirinya di atas kasur. Posisinya sekarang Alina berada di atas tubuh Arvin.


Klek


"Mommy...." panggil Barra dan Zidan secara tiba-tiba. Mereka berdiri mematung di tengah pintu.


Alina dan Arvin begitu terkejut. Alina segera bangkit dari posisinya. Alina dan Arvin salah tingkah.


"Eh, anak mommy sudah pulang ya," ucap Alina mengalihkan gugupnya.


"Zidan, lain kali kalau mau ke kamar mommy ketuk pintunya dulu dong," tegur Arvin. Zidan hanya cengengesan. Sedangkan Barra tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Maaf pa. Lagipula biasanya papa kan masih di kantor kalau jam segini," ucap Zidan pelan.


Alina menatap tajam suaminya. Tak seharusnya menegur Zidan seperti itu. Itu juga salah mereka yang tidak mengunci pintunya.


"Pasti sudah lapar kan? Sekarang ganti baju dan segera makan siang ya," ucap Alina. Barra dan Zidan mengangguk.


"Lain kali kunci pintu dulu mas," ujar Alina sambil berlalu meninggalkan Arvin. Ia bergegas ke meja makan untuk menyiapkan makanan untuk kedua putranya. Arvin hanya terkekeh melihat Alina yang salah tingkah seperti tadi.


Arvin menghampiri Raffa yang masih lelap dalam tidurnya. Mengusap lembut pipi putranya itu. Sesekali juga menciumnya dengan gemas.


Setelah Zidan dan Barra makan, mereka lanjut bermain bersama. Alina berdiri di dekat meja makan sambil melamun. Dirinya memperhatikan kedua putranya yang sedang asik bermain.


Cup


Arvin mencuri ciuman dipipi Alina. Alina menoleh dan tersenyum tipis. Ia mencubit perut suaminya.


"Selalu saja nggak lihat kondisi dulu kalau mau apa-apa," ujar Alina dan Arvin hanya melempar senyumnya ke arah Alina.


"Siapa suruh dari tadi melamun terus," balas Arvin santai. Ia menarik kursi dan duduk di sana. Alina menyiapkan makan untuk suaminya itu.


Alina kembali melamun. Ia masih terperangkap dengan pikirannya sendiri. Sampai ia tak sadar jika Arvin memperhatikannya sedari tadi.


"Aku yakin pasti terjadi masalah dengan Alina. Tapi apa? Bahkan dia tidak mau cerita sama sekali," batin Arvin yang masih memperhatikan Alina.


"Sayang?" panggil Arvin dengan lembut.


"Eh, maaf mas," jawab Alina sambil tersenyum. Dirinya duduk di kursi dan menemani Arvin makan.


Alina masih mengaduk-ngaduk makanan yang ada di depannya. Ia bahkan tak ada selera sama sekali. Rasanya mual jika melihat makanan yang ada di depannya itu. Tetapi ia tetap menahannya agar Arvin tak curiga padanya.


"Kenapa tidak di makan?" tanya Arvin sambil menyentuh punggung tangan Alina.


"Makan kok mas. I-ini mau makan," jawab Alina. Ia menyuapkan satu sendok ke mulutnya. Baru makanan itu sampai dimulutnya, Alina kembali mual dan ia segera menuju kamar mandi. Arvin buru-buru menghampiri Alina.


"Sayang, kita ke dokter saja yuk. Mas nggak tega lihat kamu seperti ini." Untuk kesekian kalinya Arvin menawarkan periksa ke dokter.

__ADS_1


"Nggak mas! Jangan ke dokter ya. Aku mohon, aku nggak apa-apa," jawab Alina dengan panik. Matanya berkaca-kaca. Arvin tak tega melihatnya. Ia merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.


__ADS_2