Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 100


__ADS_3

"Apa? Kamu sudah bertemu dengannya? Apa dia menyakitimu sayang?" tanya Arvin panik.


"Nggak mas. Tadinya aku juga berpikir begitu, namun dia hanya ingin minta maaf saja. Dan hanya sebentar kok," jawab Alina.


Arvin bernapas lega. Ia memeluk Alina kembali dan menciumi puncak kepala Alina. Arvin sebenarnya sudah tahu bahwa Danis sudah bebas dari penjara. Hari ini ia mengetahui kabar dari anak buahnya jika Danis berada di mall. Ia takut jika sampai menemui Alina dan berbuat sesuatu yang tidak baik. Maka dari itu, ia segera menyusul Alina ke restoran dan menjemputnya pulang.


"Apa kamu yakin jika dia hanya datang untuk meminta maaf saja sayang?" ucap Arvin yang belum bisa percaya dengan niat Danis.


"Tapi dia juga tidak menyakitiku mas. Kamu tidak usah khawatir," balas Alina. Arvin mengangguk pelan.


"Mas, tadi aku sempat berlari saat menghindar dari Danis. Aku merasa perutku sedikit sakit sekarang," ucap Alina ragu-ragu. Takut Arvin marah padanya.


"Kenapa baru bilang sekarang? Ayo kita ke rumah sakit sekarang sayang. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kamu dan anak kita," Arvin menarik Alina pelan untuk mengikuti langkahnya keluar rumah. Alina hanya menurut saja. Karena ia juga takut terjadi apa-apa.


Sampai di rumah sakit, Alina diperiksa oleh dokter kandungannya. Dan dokter tersebut berkata jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Alina dan Arvin tersenyum lega. Hanya perlu istirahat dan tidak boleh diulangi lagi kejadian tadi. Demi keselamatan dirinya dan bayinya.


Sepulang dari rumah sakit, mereka mendapati Zidan sudah pulang sekolah. Alina juga menenteng lima porsi bakso yang ia beli sepulang dari rumah sakit.


"Mom, Pa, dari mana?" tanya Zidan sambil mencium tangan mereka bergantian.


"Dari rumah sakit sayang, mengecek keadaan dedek bayi," jawab Arvin. Alina langsung menuju dapur untuk mengambil mangkok. Ia sudah tidak sabar mencicipi itu.


Arvin dan Zidan juga ikut ke meja makan. Arvin terkekeh melihat Alina yang begitu lahapnya. Tapi ia juga senang Alina karena nafsu makan Alina meningkat.


"Eh, kok hanya lihatin Alina saja mas. Ini loh," ujar Alina yang menyadari Arvin dan Zidan memperhatikannya. Alina sampai lupa menawari kepada mereka.


Zidan juga ikut makan bakso tersebut. Sedangkan Arvin hanya ingin menemani Alina makan. Satu porsi telah habis ia makan. Alina merasa senang dan kenyang sekarang.


Setelah selesai makan, ia beranjak ke kamarnya. Arvin juga masih mengikuti Alina. Saat ini mereka sedang duduk bersandar di ranjang. Meskipun tidak melakukan aktivitas apa-apa. Mereka hanya mengobrol santai saja. Sampai Alina benar-benar mengantuk dan akhirnya mereka tertidur.


***

__ADS_1


"Tuan, ini informasi yang Anda minta," ucap seseorang kepada Danis sambil menyerahkan amplop coklat.


Danis menerima amplop tersebut dan menyuruh bawahannya untuk keluar dari ruangannya. Orang tersebut mengangguk paham dan pamit keluar.


Danis mulai membuka amplop tersebut. Danis mengerutkan dahinya melihat beberapa foto yang terlampir di dalamnya. Itu adalah foto Alina bersama Arvin dan anak-anaknya.


Raut wajah Danis berubah sendu. Harusnya ia yang menjadi suami Alina. Harusnya ia yang menjadi alasan Alina bahagia seperti ini. Andai Alina tak bertemu dan menerima Arvin kembali.


"Jadi kamu sekarang lagi hamil Alina," ujar Danis setelah membaca informasi tersebut.


"Kamu tahu, betapa menderitanya aku selama ini? Alina, kini aku sadar bahwa cinta tak harus dipaksakan. Aku ingin memperbaiki hubungan kita agar kembali seperti dulu Alina. Biarkan aku menjagamu sebagai sahabatmu seperti dulu," gumam Danis menatap foto-foto tersebut dengan sedih.


Ia hanya ingin tahu tentang kehidupan Alina setelah menikah. Jika Arvin tak dapat membahagiakan Alina, Danis berpikir ingin merebut Alina kembali. Namun ia salah. Dari hasil penyelidikannya, Alina begitu bahagia bersama dengan Arvin.


Danis menaruh foto tersebut di meja kerjanya. Ia harus memikirkan cara agar Alina mau menerimanya kembali menjadi sahabatnya seperti dulu.Tapi itu tidak mudah, pasti Arvin tidak akan tinggal diam begitu saja.


Danis memutar kursinya dan ia berdiri. Berjalan menuju dekat jendela. Ia mengamati ramainya kota tersebut dari ruangannya. Kembalinya dirinya kali ini hanya karena Alina.


Danis mengambil jasnya dan memakainya kembali. Ia akan berkunjung ke restoran Alina. Walaupun ia belum pasti bisa bertemu Alina atau tidak. Ia sangat ingin ke sana dari jauh-jauh hari. Namun ia tahan karena ragu untuk menginjakkan kakinya di sana.


Diantar oleh sopir pribadinya, mobil tersebut melaju menuju restoran Clarissa. Restoran yang sempat ia kelola bersama Alina dahulu.


Sampainya di sana, ia tak langsung turun. Ternyata restoran ini ramai pengunjungnya. Nuansa dari restoran ini tak banyak yang berubah. Mungkin hanya penambahan beberapa fasilitas di restoran tersebut.


Danis mulai turun dari mobil. Tak lupa ia memakai kacamata untuk menyamarkan dirinya. Ia tidak ingin karyawan di sini menyadari kedatangannya. Danis berjalan pelan sambil memperhatikan sekitarnya. Hingga dirinya duduk di kursi yang berada di pokok.


"Selamat sore tuan, mau pesan apa?" tanya Rani yang menghampiri Danis.


"Apa saja," jawab Danis yang tak begitu memperhatikan Rani.


Rani mengerutkan dahinya. Baru pertama kali ini ada pengunjung yang memesan makanan apa saja. Maksudnya apa?

__ADS_1


"Maaf tuan, maksud tuan bagaimana ya? Saya belum mengerti," tanya Rani sekali lagi. Karena ia tidak ingin kena marah karena salah menyajikan makanan.


"Hidangkan apa saja. Menu andalan kalian di restoran ini," ujar Danis datar.


Rani menganguk dan tersenyum tipis meskipun dengan paksaan. Baru kali ini ada pengunjung yang begitu arogan.


Sebenarnya Danis tak berniat untuk makan di sini. Namun jika tidak memesan makanan itu akan membuatnya diusir dari sana.


"Ini menu yang tuan pesan. Selamat menikmati," ujar Rani sopan. Danis hanya mengangguk pelan tanpa ada ekspresi di wajahnya.


"Huh, sombong banget sih," gerutu Rani yang sambil meninggalkan meja yang dipesan Danis.


Danis menatap makanan dihadapannya. Ia tersenyum kecil kemudian mencicipi makanan tersebut. Rasanya juga masih sama waktu ia masih mengelola restoran ini.


Danis menghabiskan waktunya di sana hingga malam hari. Meskipun makanan di depannya sudah habis sejak tadi. Ia enggan untuk beranjak dari sana. Sampai restoran tersebut akan tutup. Danis masih setia duduk di kursinya sambil memainkan ponselnya.


"Maaf tuan, restorannya akan kami tutup," ujar Rani sesopan mungkin.


Danis menatap Rani dengan tajam. Pelayan ini lagi. Apa di sini tidak ada pelayan lain lagi. Melihat Rani membuat Danis sedikit jengah.


"Ya tutup saja," jawab Danis arogan. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Maaf sekali lagi tuan, tapi kami benar-benar akan tutup," ujar Rani kembali.


Danis berdiri dan sekarang dirinya terlihat kesal. Ia berjalan melewati Rani. Namun sebelum benar-benar menjauh, lengan Danis menyenggol Rani untuk memberinya sedikit pelajaran.


Bukannya Rani terjatuh ke sisi lain, Rani justru terjatuh ke belakang. Sehingga dengan refleks Danis meraih tubuh Rani.


"Lain kali hati-hati," ucap Danis dengan datar dan melepas pelukannya.


"Bukannya tuan tadi yang hampir membuat saya terjengkal," gumam Rani yang menjauh dari Danis.

__ADS_1


Danis mengerutkan dahinya. Ia menuju kasir untuk membayar makanan yang tadi ia pesan.


__ADS_2