
Seperti yang telah Arvin dan Anton janjikan sebelumnya. Setelah kedatangan Zara kemarin, hari ini secara khusus Anton dan Diana datang ke keluarga Mahardika. Mereka ingin menjenguk Zara sekaligus ingin berdamai dengan Arvin. Anton sadar, keegoisannya hanya akan membawa sengsara bagi anak dan cucunya nanti. Begitu juga dengan Arvin. Mereka sama-sama keras kepala dan gengsi untuk mengakui kesalahan masing-masing.
Pagi ini di ruang tamu, mereka sudah berkumpul untuk membahas beberapa hal bersama dengan Zidan dan Zara.
"Vin, ini hanya demi Zara aku bersedia berdamai denganmu. Jika bukan, aku tidak akan mau merendahkan harga diriku untuk meminta maaf padamu," ucap Anton.
"Memangnya, kau pikir aku mau berdamai denganmu jika bukan karena putraku?" balas Arvin. Alina dan Diana hanya saling menggeleng kepalanya pelan.
"Pa, yang namanya minta maaf itu harus ikhlas. Zara tidak mau jika hanya demi Zara saja," ucap Zara. Arvin dan Anton hanya saling pandang dan berpikir sejenak.
"Zara benar mas, tidak ada gunanya juga seperti ini terus," tutur Diana.
Anton menghela napasnya pelan. Ia berdiri dan mendekati Arvin. Arvin melakukan hal yang sama. Lalu mereka saling memeluk untuk pertama kalinya. Mereka yang menyaksikan momen itu menatap dengan senang.
'Tolong maafkan aku Vin," ucap Anton dengan tulus.
"Aku juga minta maaf," ucap Arvin. Mereka sama-sama tersenyum kaku. Lalu mereka duduk kembali.
"Bolehkan kalau saya dan istri saya mengadakan pesta penyambutan?" tanya Anton dengan hati-hati. Semua terdiam sejenak.
"Kenapa?" tanya Arvin.
"Saya ingin mengumumkan kalau Zara adalah putriku. Putri keluarga Mahindra," jawab Anton.
"Terserah kamu," balas Arvin. Anton tersenyum.
Setelah itu, mereka menuju ke ruang makan untuk makan bersama. Ini pertama kalinya bagi mereka. Meskipun pernah ada dendam sebelumnya, kini mereka benar-benar ingin berdamai demi putra dan putrinya.
__ADS_1
***
"Bagaimana kondisi anak dan istri saya dok?" tanya Barra saat menemani Kayla untuk cek kandungan.
Usia kandungan Kayla kini memasuki bulan kelima. Perutnya juga mulai membesar. Hari ini adalah jadwal mereka untuk cek kandungan sekaligus ingin mengetahui jenis kelamin calon anak mereka.
"Kondisi keduanya sehat pak, untuk asupan makanannya tolong lebih diperhatikan. Takutnya jika terlalu sering makan makanan manis nanti berat badan si bayi berlebih dan itu tidak baik," ucap dokter. Karena selama hamil Kayla lebih sering memakan makanan manis.
"Iya dok, terima kasih banyak. Lalu, apakah kita bisa mengetahui jenis kelamin calon bayi kita?" tanya Barra.
"Seperti yang saat ini Anda lihat, sepertinya berjenis kelamin perempuan," jawab dokter itu sambil menunjuk ke arah layar USG. Kayla dan Barra tersenyum senang. Apapun jenis kelaminnya yang terpenting ibu dan anak sehat.
Setelah menjalani USG, dokter memberikan beberapa vitamin untuk Kayla. Mereka berkonsultasi sebentar seputar kehamilan Kayla. Karena ini yang pertama kalinya untuk mereka berdua. Setelah cukup berkonsultasi, mereka pamit untuk pulang.
"Mas, kita ke rumah mommy sekalian yuk. Aku ingin ke sana sebentar," ucap Kayla saat mereka berada di dalam mobil. Barra belum menjawabnya karena masih fokus dengan kemudinya.
Saat mereka sampai, ternyata di sana ramai karena kedatangan Anton dan Diana. Kayla segera masuk ke dalam rumah.
"Mom, apa kabar?" tanya Barra saat mereka baru menginjakkan kakinya di ruang makan. Semua yang ada di sana melihat ke arah Barra dan Kayla.
"Hei, sini sayang. Ayo kita makan bersama," ucap Alina senang. Mereka berdua ikut duduk di sana.
"Mommy sangat bahagia dengan kedatangan kalian. Bagaimana kondisi Kayla dan calon anaknya?" tanya Alina.
"Baik-baik saja Mom," jawab Barra.
Mereka mengobrol sambil makan di ruang makan. Pertemuan kali ini sungguh di luar dugaan. Awalnya hanya antara Anton dan Arvin untuk saling meminta maaf, tapi nyatanya justru keluarganya berkumpul di sini kecuali Raffa. Selesai makan, mereka melanjutkan ngobrolnya di ruang keluarga.
__ADS_1
Siangnya, Barra pamit untuk ke persidangan. Sedangkan Kayla masih di rumah itu. Barra belum sempat mengantar Kayla pulang. Karena waktu Barra yang tidak cukup dan akan terlambat nanti.
Anton dan Diana juga sekalian pamit untuk pulang. Mereka akan menyiapkan acara pesta penyambutan untuk Zara nanti. Meskipun pesta itu akan diadakan satu bulan lagi.
Kayla dan Zara saling berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, Zara terlihat senang. Zidan hanya memperhatikan Zara yang duduk tak jauh dari Zara. Sesekali ia tersenyum melihat keceriaan terpancar di wajahnya setelah bertemu dengan Kayla.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Sorenya, Barra datang lagi untuk menjemput Kayla. Barra hanya istirahat sejenak lalu segera pamit untuk pulang. Alina juga tidak bisa melarangnya. Karena putranya punya kehidupannya sendiri.
Kini keadaan rumah sepi kembali. Zidan dan Arvin pergi ke ruang kerja untuk membahas pekerjaan. Sedangkan Alina dan Zara membersihkan sisa dari pertemuan tadi.
Hingga menjelang malam, Raffa baru pulang dari kampus. Semenjak Zara tak lagi pergi untuk kuliah, Raffa lebih sering pulang malam seperti ini. Entah apa yang dilakukan Raffa di luar sana. Entah mengerjakan tugas kuliah atau hanya sekedar bertemu dengan Viona. Setelah makan malam, mereka mempunyai urusan masing-masing. Raffa pergi ke kamarnya untuk mengerjakan tugasnya, sedangkan Zara dan Zidan juga pamit ke kamar mereka. Di ruang keluarga hanya tinggal Alina dan Arvin saja. Alina sengaja menemani suaminya menonton acara TV kesukaannya sambil mengobrol santai.
"Zidan, aku tidak menyangka jika perut Kay sudah sebesar tadi," ucap Zara saat ia memilih baju gantinya. Sedangkan Zidan langsung merebahkan dirinya di atas kasur.
"Namanya juga hamil, ya pasti lama-lama akan membesar juga kan," jawab Zidan asal sambil memejamkan matanya.
Zara menghela napasnya sejenak lalu pergi ke kamar mandi untuk ganti baju. Setelah itu, ia beranjak ke tempat tidur untuk mengistirahatkan dirinya.
"Aku tidak sabar untuk menanti momen itu," ucap Zara saat bersandar pada ranjangnya. Zidan menatap Zara dan ikut menyandarkan tubuhnya. Ia merengkuh Zara dan memeluknya.
"Asal kita berusaha pasti akan segera dipercaya kembali untuk menjadi orang tua," ujar Zidan.
"Ayo, istirahatlah. Kamu pasti lelah kan?" ucap Zidan dengan lembut. Zara mengangguk dan segera berbaring menghadap Zidan. Zidan menyelimuti Zara dan tak lupa memberikan ciuman selamat tidur. Lalu ia memejamkan matanya sambil memeluk Zara.
"Selamat malam suamiku," ucap Zara. Lalu ia menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Zidan. Zidan tersenyum tipis dan mengecup kening Zara sekali lagi.
"Selamat malam istriku," bisik Zidan.
__ADS_1