Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 52 (season 2)


__ADS_3

Saat ini, Barra dan Kayla lagi cuti sehari dari kerjanya. Barra berkunjung ke rumah Kayla. Barra dan Kayla sedang duduk di pinggir kolam ikan yang terletak di halaman belakang rumah Kayla. Meskipun tidak terlalu besar, namun cukup banyak ikan yang ia pelihara.


Kayla memberikan makanan kepada ikan tersebut. Sedangkan Barra hanya memperhatikan Kayla dan duduk di belakang Kayla. Kayla menyandarkan dirinya ke punggung Barra.


"Sayang, nanti kalau kita sudah menikah mau tinggal di mana?" tanya Barra. Kayla menghentikan memberi makan ikan tersebut. Ia sedikit menatap Barra.


"Terserah kamu di mana saja asal kita tetap bersama-sama," jawab Kayla santai.


"Aku belum punya apartemen sendiri. Sedangkan kalau tinggal di rumah, pasti ramai banget. Kita nggak bisa berduaan dong," ucap Barra sambil berpikir. Karena ia baru mulai bekerja dan belum sesukses abangnya.


"Aku sih tidak masalah mau tinggal di mana Bar, kalau saranku sih, mending kita sewa tempat tinggal sendiri saja deh. Aku juga tidak mau merepotkan orang tuaku dengan tinggal di sini," ujar Kayla. Ia tersenyum tipis.


Mereka sama-sama terdiam sejenak. Memikirkan apa yang mereka bicarakan tadi.


"Kamu mau kalau misalnya hidup susah sama aku?" tanya Barra. Meskipun itu tidak akan terjadi, karena Arvin juga tidak akan membiarkan anak-anaknya menderita nantinya.


"Kamu nantangin aku, hem?" ucap Kayla. Kini ia berbalik menatap Barra. Kayla menatap Barra dengan sewot. Barra tertawa kecil melihat ekspresi Kayla yang lucu menurutnya.


"Masa iya anak gadis orang aku ajak hidup susah sih," ucap Barra. Ia mengacak rambut Kayla. Barra mendekat ke arah Kayla dan memeluknya dengan erat.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup susah sayang," gumam Barra. Ia mencium puncak kepala Kayla. Kayla hanya tersenyum.


Mereka kembali masuk ke dalam rumah. Di rumah hanya ada Kayla dan Risti saja. Suasana begitu sepi dan hening.


"Aku buatkan minuman ya," ucap Kayla. Barra mengangguk. Ia menuju ruang tengah untuk menonton acara tv.


Kayla berjalan menuju dapur dan menyiapkan minuman serta makanan ringan untuk Barra dan dirinya. Setelah selesai, ia menuju ruang tengah tempat Barra berada.


"Sayang, mama tinggal arisan sebentar ya. Kalian tidak apa-apakan mama tinggal?" ucap Risti saat baru keluar dari kamarnya. Ia sudah siap untuk pergi arisan.


"Iya Ma. Mama hati-hati ya," ucap Kayla. Risti mengangguk dan tersenyum tipis.


"Jangan aneh-aneh," ucap Risti.

__ADS_1


"Nggaklah Ma," jawab Kayla singkat.


Risti pamit pergi menuju rumah salah satu teman arisannya. Barra dan Kayla memang sering berduaan di rumah seperti ini. Namun Barra juga masih bisa menjaga batasannya sendiri. Ia ingin menjaga Kayla semampunya. Itulah kenapa Risti tidak pernah khawatir jika mereka ditinggal berduaan. Baik Kayla maupun Barra tidak pernah melampaui batasan mereka.


Setelah memastikan Risti pergi, Kayla menuju ruang tengah dan duduk di samping Barra. Ia mengambil biskuit dan menyuapkan ke Barra. Barra memakannya dengan senang hati. Mereka menikmati acara tv siang ini.


Karena serunya menonton, Barra tak sadar jika Kayla tertidur di bahunya. Barra membenarkan posisinya agar Kayla merasa nyaman. Barra memeluk Kayla dan dirinya terus fokus pada acara tv.


Beberapa jam kemudian, Kayla terbangun. Ia menyadari ada tangan kekar yang memeluknya. Kayla mendongak menatap Barra. Barra tersenyum tipis lalu mengecup kening Kayla.


Aku ketiduran ya," ucap Kayla. Ia beranjak untuk duduk dan bersandar di sofa.


"Maaf sayang," ucap Kayla.


"Tidak apa-apa. Kamu kelihatannya capek," ucap Barra.


"Aku pulang dulu ya. Kamu istirahatlah, besok kita ketemu lagi di tempat kerja," ujar Barra. Ia mencium kening Kayla sebelum pulang.


***


Di restoran, Alina masih betah di sana. Sedangkan Raffa dari tadi siang tidak mau keluar dari mobilnya. Beberapa kali juga Viona menghampiri mobil Raffa dan memintanya keluar, tapi Raffa tidak peduli.


"Tante, kenapa Raffa tidak mau keluar dari mobilnya?" tanya Viona. Alina memandang Rani dan berganti memandang Viona.


"Masa sih?" tanya Alina tak percaya.


"Iya tante, padahal Viona sudah berulang kali menyuruh Raffa untuk keluar, tapi dia tidak mau," ucap Viona. Ia memanyunkan bibirnya.


"Mungkin dia sedang tidak ingin diganggu Vi," ujar Rani. Alina hanya tersenyum.


Karena hari semakin sore, Alina pamit untuk pulang. Seharian Alina berada di resto ini. Tak lupa juga, Rani membawakan beberapa makanan untuk Alina.


"Kapan-kapan aku akan ke sini lagi. Aku pamit pulang dulu ya. Terima kasih atas waktunya hari ini," ucap Alina. Ia memeluk Rani dan berganti memeluk Viona.

__ADS_1


"Sama-sama mbak. Rani juga senang mbak Alina mau datang ke sini," ujar Rani.


Rani dan Viona mengantar Alina sampai di mobil. Alina melambaikan tangannya sebelum mobilnya benar-benar pergi dari resto tersebut.


Dalam perjalanan, Alina melirik Raffa yang sedang fokus mengemudi. Alina heran, putranya ini sangat kaku sekali bahkan terhadap dirinya.


"Raffa, menurutmu bagaimana Viona?" tanya Alina pelan. Raffa mengernyitkan dahinya dan menatap Alina sekilas.


"Biasa saja," jawab Raffa. Alina menghela napasnya pelan.


"Maksud mommy, kamu ada rasa apa gitu nggak sama Viona?" tanya Alina lagi.


"Nggak tahu Mom. Viona terlalu berisik," jawab Raffa jujur. Karena Raffa tipe orang yang suka ketenangan.


"Zara juga berisik, tapi kok Raffa betah berada di dekatnya?" tanya Alina pelan. Seketika Raffa mengerem mobilnya secara mendadak membuat Alina terkejut.


"Astaga, hati-hati sayang," ujar Alina. Ia mengelus dadanya.


"Maaf Mom. Raffa tidak sengaja," jawab Raffa. Raffa kembali menjalankan mobilnya.


"Raffa suka sama Zara?" tanya Alina. Ia menatap Raffa dengan lekat. Manunggu jawaban dari Raffa.


"Iya, tapi Zara sudah punya bang Zidan. Mommy pernah bilangkan jika kami tidak boleh bertengkar hanya gara-gara seorang wanita," ucap Raffa. Alina menatap Raffa sedih. Tapi bagaimanapun juga, Zara sudah lebih dulu mengenal Zidan. Alina juga tidak ingin menjadi ibu yang egois.


Alina mengusap-usap bahu Raffa. Ia tahu pasti putranya ini sangat sedih. Hanya saja tak mau menampakkan di depannya.


"Mommy yakin Raffa pasti bisa menghilangkan rasa suka itu. Kenapa Raffa tidak mencoba buka hati untuk Viona? Sepertinya dia suka sama kamu," ucap Alina. Siapa tahu Raffa juga ingin membuka hatinya untuk Viona. Raffa mengernyitkan dahinya.


"Raffa tidak mau dijodohkan Mom. Jangan paksa Raffa untuk suka dengan orang lain. Mommy tenang saja. Raffa juga tidak berkeinginan berebut dengan bang Zidan," ujar Raffa. Alina tersenyum dan memeluk Raffa dari samping.


"Baiklah kalau seperti itu. Mommy juga tidak khawatir lagi," ucap Alina.


Tak lama setelah itu, mereka sampai di rumah juga.

__ADS_1


__ADS_2