
Viona tengah menunggu Raffa di restoran. Hari ini Viona meminta Raffa untuk mengajari beberapa materinya yang kurang ia pahami. Viona dan Raffa satu jurusan namun beda kampus. Dan kebetulan hari ini ia tidak ada jam mata kuliah apapun.
Viona sedang fokus dengan laptopnya. Ia harus berusaha keras agar lebih memahami materi perkuliahannya. Viona tipe wanita yang malas belajar. Ia hanya akan belajar saat ujian akhir semester tiba. Itupun harus dipaksa oleh Danis atau Rani.
Raffa baru tiba di restoran. Hari ini jadwal kuliahnya lumayan padat. Raffa tak langsung turun dari mobilnya. Perjalanan yang lumayan jauh itu membuatnya lelah. Raffa memejamkan matanya sejenak untuk mengurangi lelahnya. Beberapa saat kemudian, ia turun dan langsung menuju ke toilet lebih dulu sebelum menemui Viona. Ia ingin menyegarkan dirinya terlebih dahulu. Setelah itu, ia kembali dan menemui Viona.
"Lagi apa?" tanya Raffa saat ia baru duduk di samping Viona. Viona menatap Raffa dan tersenyum lebar.
"Lagi milih gedung untuk pernikahan kita," jawab Viona asal. Raffa mengernyitkan dahinya sambil menatap Viona dengan bingung. Viona tertawa keras melihat ekspresi Raffa.
"Sudah tahu lagi buka materi kuliah, masih saja ditanya," ujar Viona membenarkan.
"Aku pikir tadi serius loh, lagi milih gedung untuk pernikahan kita nanti," ucap Raffa sambil menatap Viona dengan lekat hingga Viona salah tingkah.
"Apaan sih, masih lama tahu," balas Viona sambil memalingkan wajahnya. Raffa tersenyum tipis dan ia menarik laptop Viona.
Viona menceritakan keluh kesahnya selama menjadi mahasiswa. Dari awal ia kuliah hingga semester lima ini. Sebenarnya Viona tak tertarik dengan jurusan yang ia geluti saat ini. Namun karena paksaan dari kedua orang tuanya, terlebih lagi latar belakang orang tuanya sebagai pebisnis, mau tak mau ia mengambil jurusan itu. Dengan harapan suatu saat nanti ia bisa menggantikan kedua orang tuanya untuk memimpin perusahaannya.
Selama lima semester ini, Viona merasa belum cukup menguasai ilmu dan pengalamannya dalam bidang bisnis. Maka dari itu, ia meminta Raffa untuk mengajarinya. Agar ia juga layak bersanding dengan Raffa suatu saat nanti.
__ADS_1
Raffa menjelaskan hal-hal yang belum dipahami oleh Viona. Meskipun hampir semuanya Viona belum menguasainya. Raffa dengan sabar mengajari Viona. Pada dasarnya, Viona anak yang cerdas. Namun karena rasa malasnya untuk belajar terlalu besar, jadi ia harus belajar mulai dari dasar terlebih dahulu.
Berjam-jam Raffa menjadi guru dadakan untuk Viona. Raffa begitu serius mengajari Viona hingga Viona merasa takut jika ingin main-main. Viona mendengarkan setiap pengarahan dari Raffa dengam seksama.
"Hah, sudah cukup?" tanya Raffa sambil merenggangkan otot-ototnya. Saat ini mereka berada di ruangan yang dulu Raffa gunakan saat membantu pekerjaan di sini.
"Terima kasih ya sayangku... Aku jadi lebih paham dengan materi ini," ucap Viona. Ia tersenyum lebar di hadapan Raffa. Raffa mencubit hidung Viona dengan gemas.
"Mulai hari ini harus rajin belajar. Ingat ya, jika kamu tidak lulus tepat waktu nanti, aku akan mencari wanita lain untuk aku nikahi," ancam Raffa. Sorot matanya terlihat serius hingga Viona sedikit takut.
"Eh, kok gitu? Curang banget sih kamu," ucap Viona tidak terima.
"Nggak ada kesepakatan seperti itu ya! Aku tidak akan pernah setuju!" balas Viona. Raffa tertawa kecil lalu merangkul bahu Viona. Ia menyandarkan kepalanya pada kepala Viona dan tangan satunya menggenggam tangan Viona.
"Vi, mana mungkin aku mencari wanita lain, sedangkan hatiku sudah menjadi milikmu?" ucap Raffa.
"Gombal banget sih," balas Viona. Ia tertawa mengejek Raffa.
"Kalau aku gombal, pasti pacar aku bukan hanya kamu saja," balas Raffa. Viona langsung menatap Raffa dengan galak. Tatapannya tajam dan begitu mengintimidasi Raffa. Membuat Raffa bergidik ngeri. Lalu Viona mencubit pinggang Raffa. Membuat Raffa terkejut dan sedikit menjauhkan dirinya.
__ADS_1
"Awas ya kalau kamu berani, huh," ucap Viona lalu memalingkan wajahnya.
Raffa meraih tubuh Viona dan memeluknya. Ia memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Viona. Begitu juga Viona. Ia membalas pelukan itu. Pelukan yang mampu membuatnya nyaman dan memberikan kehangatan.
"I love you Viona," bisik Raffa dengan lembut. Viona tersenyum manis dan tanpa ia sadari ia meneteskan air matanya. Namun Viona buru-buru menghapus air matanya sebelum Raffa menyadarinya.
"Kok diam?" tanya Raffa. Viona menghela napasnya sejenak. Mengatur napasnya dan jantungnya yang sudah berdebar sejak tadi.
"I love you too Raffa," ucap Viona pelan. Raffa tersenyum bahagia mendengar ucapan tersebut. Hatinya menjadi tenang dan ia semakin yakin jika ia benar-benar jatuh cinta pada Viona. Wanita yang sedikit bar-bar itu telah memikat hatinya.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu Vi. Tapi aku akan pastikan hanya kamu wanita yang aku cintai. Dulu, aku beranggapan akan susah untuk melupakan Zara karena ia sudah menjadi milik bang Zidan. Namun aku salah. Semenjak kamu hadir dan mengusik kehidupanku, aku baru sadar bahwa aku tidak bisa jauh darimu. Semakin hari cinta ini tumbuh dan bersemi tanpa aku sadari. Terima kasih Viona..." batin Raffa.
"Pada akhirnya hati akan luluh pada ia yang terus memperjuangkannya. Aku tidak pernah menyesal mengejarmu dan menunggumu meskipun itu butuh waktu satu, dua, bahkan bertahun-tahun. Raffa, kamu adalah laki-laki pertama dan terakhir yang dengan berani aku mengejarnya tanpa rasa malu. Tetaplah bersamaku selamanya," batin Viona.
Mereka melepas pelukan itu. Mereka sama-sama salah tingkah dan merasa canggung. Viona memilih mengemasi laptop dan buku-bukunya. Sedangkan Raffa mengambil ponselnya dan memainkannya.
"Kamu pasti lapar kan? Aku ambilkan makanan mau?" tanya Viona. Raffa hanya mengangguk. Viona berjalan keluar ruangan untuk menyiapkan makanan. Ia bahkan turun tangan sendiri untuk membuatnya. Meskipun tidak ahli, tetapi ia masih bisa memasak dan masakannya lumayan enak.
Raffa menyandarkan tubuhnya pada sofa. Ia tersenyum senang saat mengingat momen tadi. Jika ia tidak menahan diri, pasti tadi ia sudah mencium Viona. Raffa tidak ingin kontak fisik terlalu berlebihan. Sebisa mungkin ia akan menjaga Viona dan menghormatinya. Raffa hanya takut ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Jalan mereka masih panjang. Banyak hal yang harus mereka lewati sebelum masuk ke tahap yang lebih serius lagi. Apalagi saat ini mereka masih kuliah dan sama-sama berjuang untuk mewujudkan cita-cita masing-masing. Namun satu hal yang dapat Raffa pastikan, ia serius dengan Viona. Ia akan terus menjaga hatinya hanya Viona seorang.
__ADS_1