Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 115 (season 2)


__ADS_3

Saat Zara ingin beranjak memanggil Zidan, Zidan sudah lebih dulu menghampiri mereka.


"Sayang, siapa yang datang?" tanya Zidan. Wanita itu menoleh menatap Zidan. Ia tersenyum lebar dan langsung berlari memeluk Zidan. Zara hanya menatap nanar ke arah mereka. Hubungan mereka begitu dekat dan itu membuat hati Zara sakit.


"Astagaa... Aku kangen banget sama kamu," ucap wanita itu dengan senang. Zidan justru hanya tersenyum tanpa berusaha melepas pelukan wanita itu. Zara merasa cemburu melihat Zidan dekat dengan wanita lain. Ia memilih untuk meninggalkan mereka dan pergi ke kamarnya.


"Jangan lama-lama pelukannya," celetuk Zara sambil berlalu meninggalkan mereka begitu saja.


"Kak, lepasin. Kakak ingin membuat rumah tanggaku berantakan gara-gara dia salah paham sama kak Naura?" ujar Zidan. Naura tertawa kecil sambil melepas pelukannya.


"Maaf, aku tidak akan bercanda lagi. Bukannya setiap kali bertemu selalu begini?" ucap Naura sambil beralih duduk di sofa. Zidan juga ikut duduk di sana.


Selama ini Naura ikut orang tuanya ke Jepang. Setelah lulus SMA, ia langsung dibawa orang tuanya ke sana. Briant dan Dewi harus mengurus perusahaan yang ada di sana selepas kepergian orang tuanya. Dulu, hubungan Zidan dan Naura cukup dekat karena mereka bersekolah di tempat yang sama. Tentunya dengan tujuan agar Naura ada yang menjaganya.


"Kenapa tidak bilang dulu kalau mau ke sini?" tanya Zidan.


"Sudah, tapi tante bilang suruh langsung ke rumah saja," jawab Naura santai.


"Baru datang langsung ke sini?" tanya Zidan lagi.


"Memangnya mau ke mana lagi? Tidak ada tujuan lagi selain di sini. Lagipula aku hanya ingin liburan ke sini," jawab Naura sambil menyandarkan tubuhnya.


Di kamar, Zara menutup rapat pintu kamarnya. Lalu ia duduk di tepi ranjang. Kali ini suasana hatinya benar-benar buruk. Ia meremas jemarinya sendiri dan merasa gelisah. Hatinya telah dipenuhi aura cemburu yang semakin membuatnya marah. Bahkan Zara sampai meneteskan air matanya. Entah apa yang ia tangisi, suasana hatinya sedang buruk.

__ADS_1


"Kak, aku tinggal sebentar ya," ucap Zidan. Ia tidak ingin Zara salah paham padanya.


"Apa dia tadi istri kamu?" tanya Naura. Zidan mengangguk pelan.


"Maaf, aku tidak tahu. Pasti saat ini istrimu salah paham padaku," ujar Naura merasa bersalah. Selama ini ia tidak tahu jika Zidan telah menikah. Yang ia ketahui hanya Barra yang sudah menikah dan ia mengira Zara adalah istri dari Barra. Naura tidak berniat untuk mengacaukan kehidupan rumah tangga Zidan.


"Tidak apa-apa. Biar aku yang menjelaskan padanya," ucap Zidan. Naura mengangguk tipis. Ia berharap jika Zara tidak salah paham padanya.


Mendengar suara langkah kaki, Zara buru-buru berbaring di atas kasurnya dan menyelimuti dirinya sendiri. Zara membelakangi pintu kamar tersebut. Zidan mendekati Zara perlahan. Lalu ia duduk di tepi ranjang.


"Sayang, ada yang harus aku jelaskan sama kamu," ucap Zidan pelan. Namun Zara tetap diam.


"Aku tahu kamu belum tidur," ujar Zidan lagi. Namun lagi-lagi Zara hanya terdiam. Zidan menghela napasnya sejenak. Lalu ia ikut berbaring dan memeluk Zada dari belakang.


"Ya sudah istirahatlah. Tapi aku akan tetap cerita masalah ini padamu," ujar Zidan yakin. Ia membelai rambut Zara dengan lembut. Namun Zara buru-buru menepis tangan Zidan.


"Sayang, dia adalah temanku saat sekolah dulu. Kamu jangan terlalu banyak berpikir, kasihan anak kita nanti. Di antara kami juga tidak ada hubungan apa-apa," tutur Zidan. Meskipun Zara memejamkan matanya, ia masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Zidan.


"Kalau tidak ada hubungan apapun kenapa tidak menolak waktu dia memelukmu?" tanya Zara dengan kesal. Mengingatnya saja membuat Zara serasa kesal dan ingin marah.


"Jadi kamu cemburu?" tanya Zidan. Zara sedikit terkejut. Tetapi ia berusaha untuk tenang. Zara tidak mungkin mengakuinya begitu saja.


"Siapa juga yang cemburu," jawab Zara. Zidan tertawa kecil. Sayangnya ia tidak bisa melihat ekspresi istrinya yang sedang cemburu itu. Zara masih enggan membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.

__ADS_1


"Kak Naura memang seperti itu orangnya. Dia tidak tahu jika kamu adalah istriku," ucap Zidan lagi.


Seketika Zara terduduk. Ia terkejut saat Zidan memanggilnya dengan sebutan 'kak'. Zara semakin bingung apa hubungan mereka sebenarnya. Zidan juga ikut duduk.


"Kak? Kamu memanggilnya kak?" tanya Zara. Zidan mengangguk pelan. Memang itu benar adanya. Meskipun ia lebih tua dari Naura, tetapi Naura adalah anak dari kakak mommy nya.


"Apakah ada yang salah? Dia adalah kak Naura. Anak dari kakaknya mommy. Hari ini ia datang ke sini untuk berlibur. Sayang, maaf telah membuatmu salah paham," ucap Zidan sedih.


Zara masih mencoba mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Zidan. Ia menatap lekat suaminya itu. Zidan nampak serius dengan perkataannya.


"Jadi, kalian adalah kakak dan adik?" tanya Zara memastikan.


"Memangnya masih perlu hubungan yang seperti apa lagi? Kak Naura baru datang dari Jepang. Dia ingin berlibur ke sini sebentar. Aku juga salah, belum menceritakan tentangnya kepadamu. Kak Naura juga belum tahu kalau kamu adalah istriku," ucap Zidan.


"Tapi juga tidak perlu pelukan dengan begitu mesra kan? Melihatnya saja aku merasa ingin marah," batin Zara. Zidan hanya memperhatikan Zara. Zidan memeluk Zara dari belakang. Lalu ia mengecup pipi Zara sekilas.


"Cemburunya jelek ah," ledek Zidan. Zara seketika memanyunkan bibirnya. Ia menatap Zidan dengan lekat. Zidan tertawa kecil lalu mengacak rambut Zara dengan gemas.


Perdebatan masih berlanjut. Zara dan Zidan saling berdebat bahkan itu bukanlah sesuatu yang penting. Setelah beberapa saat, akhirnya Zara percaya juga dengan apa yang ia katakan. Menghadapi Zara yang sedang hamil jauh lebih susah daripada menghadapi Zara yang biasanya. Zidan harus dengan sabar menjelaskannya sedetail mungkin kepada Zara.


Merasa lebih tenang, Zidan membawa Zara untuk menemui Naura dan berkenalan secara resmi. Naura juga salah, ia bertindak sesuka hatinya dan justru membuat Zidan disalah pahami.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu adalah istrinya Zidan. Harusnya aku bersikap lebih hati-hati lagi," ucap Naura merasa bersalah. Zara hanya tersenyum tipis. Zara belum sepenuhnya menerima kenyataan itu. Ia masih marah dan ingin melampiaskannya.

__ADS_1


Selepas itu, Zidan mempersilakan Naura untuk beristirahat. Karena Zidan berpikir jika Naura pasti sangat kelelahan. Sedangkan Zara berlalu begitu saja meninggalkan Zidan di ruang tamu. Zidan menghela napasnya sejenak. Lalu ia segera menghampiri Zara yang sedang duduk di ruang tengah.


__ADS_2