
Karina perlahan menoleh dan melihat Fanny yang sudah berdiri diambang pintu.
"Ka-kamu!" ucap Karina gugup. Fanny tersenyum ramah. Karina mundur satu langkah. Mukanya sudah pucat pasi.
"Apa kabar nona?" sapa Fanny ramah.
"Apakah Anda sedang mencari dua pria tak berguna itu? Atau Anda sedang mencari nona Zara?" tanya Fanny. Ia mendekat ke arah Karina.
"Di mana dia? Apakah kamu yang menyembunyikan mereka?" teriak Karina.
"Anda tenanglah. Jika tidak, saya mungkin akan menyakiti Anda. Nona, silakan ikut saya," jawab Fanny. Karina terlihat kebingungan. Kalau seperti ini bukankah rencananya gagal total.
"Dasar dua pria tak berguna itu! Aku masih belum tahu apakah mereka sudah melakukannya atau tidak. Ini justru ketahuan si Fanny sialan! Aku harus kabur dari sini secepatnya," gumam Karina.
Karina berusaha kabur, namun saat di depan pintu kamar ia dihadang oleh tiga pengawal yang dibawa oleh Fanny. Karina ditangkap dam dibawa paksa oleh mereka.
"Hei lepaskan aku! Kalian pikir kalian siapa!" teriak Karina.
"Awas saja kamu! Aku akan membalaskan dendamku padamu! Dasar asisten sialan! Tak berguna!" ujar Karina mengumpat Fanny. Fanny tidak membalas perkataannya. Justru ia menampilkan senyumnya yang membuat Karina semakin marah.
Pengawal yang dibawa oleh Fanny membawa Karina keluar dari hotel tersebut. Mereka membawa Karina ke suatu tempat.
"Haih, merepotkan saja. Waktunya istirahat," batin Fanny. Ia kembali ke kamarnya.
Sementara di kamar satunya, Zara masih belum bangun. Zidan duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Zara. Ia menusuk-nusuk pipi Zara dengan jari telunjuknya.
"Apa dia tidak lapar?" tanya Zidan pada dirinya sendiri. Zidan masih setia memperhatikan wajah Zara.
Hampir satu jam Zidan menunggu Zara bangun. Namun tak ada tanda-tanda Zara ingin membuka matanya. Malam semakin larut, Zidan juga merasa lelah. Ia beranjak tidur di samping Zara dan memeluknya.
__ADS_1
***
Paginya, Zara menggeliat kecil namun matanya enggan terbuka.
"Nyaman sekali. Tapi sepertinya bukan guling di kamar kostku," gumam Zara. Ia masih memeluk erat tubuh Zidan.
"Eh, seperti tubuh seseorang." Tangan Zara meraba-raba tubuh Zidan. Ia mulai membuka matanya. Zara terkejut saat Zidan tidur di sampingnya dan lebih terkejut lagi dirinya tidak memakai sehelai kain yang menempel di tubuhnya.
Zara langsung terduduk dan mengecek tubuhnya sendiri. Terlihat bercak darah di bawah selimutnya. Zara menutup mulutnya sendiri dan beralih menatap Zidan yang masih terlelap.
"Apakah semalam terjadi sesuatu? Dan, ini di mana? Seperti bukan di apartemen Zidan," gumam Zara takut. Ia memperhatikan sekitar kamar tersebut.
Zara meringkuk dan menangis. Ia takut dengan kenyataan yang ada. Zara membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Tubuhnya menggigil.
"A-aku dan Zidan, apakah kami tidur bersama?" gumam Zara. Ia semakin terisak.
Zidan terbangun mendengar suara tangis Zara. Zidan menatap Zara dan tersenyum tipis. Ia menarik Zara agar masuk ke pelukannya. Namun Zara segera menepisnya. Zidan mengernyitkan dahinya.
"Kenapa sayang?" tanya Zidan bingung. Kemudian ia beralih duduk dan menghadap Zara yang masih menangis.
"Jangan menyentuhku Zidan, aku sudah kotor," ucap Zara. Ia semakin menangis. Zidan menatap Zara bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Zidan semakin bingung.
"Kita... Apakah kita semalam, semalam melakukan, melakukan itu?" ucap Zara sesenggukan. Zidan menghela napasnya sejenak. Ia merengkuh Zara dan memeluknya.
"Iya, aku juga akan bertanggung jawab padamu. Maaf Zara, aku menghancurkan kepercayaanmu," ucap Zidan. Ia mencium kening Zara sekilas. Zara mendongak menatap Zidan.
"Kenapa kamu mau melakukannya Zidan? Meskipun aku tak ingat apapun, tapi seharusnya kamu tidak melanggar batasmu. Kenapa kamu melakukan ini Zidan? Aku tidak mau! Aku tidak mau!" ucap Zara sambil menangis. Ia memukul-mukul dada Zidan. Zidan berusaha menenangkan Zara. Ia tahu ia salah, namun semalam juga bukan sepenuhnya kesalahannya. Zara yang tidak bisa dikendalikan membuat Zidan khilaf.
__ADS_1
"Kamu tenanglah dulu sayang. Aku janji akan bertanggung jawab. Jangan sedih lagi," ucap Zidan. Ia mengusap air mata Zara.
"Aku ingat sedang makan bersama Karina, tapi kenapa kita berakhir di sini?" tanya Zara. Ia menatap Zidan dengan sendu.
"Kamu dijebak olehnya. Jika aku tidak segera datang, mungkin yang ada di sampingmu bukanlah aku tapi orang lain. Kamu diberi obat perangsang Zara. Aku sudah mengupayakan agar kamu baik-baik saja. Aku juga menyuruh Jack untuk memeriksamu. Tapi semakin lama kamu terus menggodaku. Aku juga manusia biasa Zara, aku laki-laki normal. Maaf jika kenyataan ini membuatmu terpukul. Tapi aku serius sama kamu, aku akan menikahimu," ucap Zidan dengan lembut namun serius. Zara terdiam sejenak. Ia telah melakukan kebodohan yang besar dengan percaya Karina.
"Aku ingin mandi dulu," ucap Zara lirih. Zidan tersenyum tipis.
"Baiklah, mandilah, aku akan cari makanan sebentar. Semalam kamu belum makan, pasti sudah lapar kan?" ucap Zidan. Zara hanya mengangguk. Ia menuju kamar mandi. Zara berjalan pelan karena area bawahnya terasa perih dan nyeri. Saat Zidan merapikan tempat tidurnya, ia melihat ada noda darah di atas seprei kasur tersebut. Zidan tersenyum tipis dan segera menyuruh orang untuk menggantinya.
Zidan menghubungi Fanny untuk mengantarkan sarapan. Zidan tak tega meninggalkan Zara di kamar sendirian. Apalagi dengan kondisi Zara seperti tadi. Zidan duduk di sofa sembari menunggu Zara keluar.
Di kamar mandi, Zara mengguyur tubuhnya dengan air. Ia terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya. Air masih mengucur mengguyur tubuh Zara.
"Aku terlalu bodoh mempercayai Karina begitu saja. Semua sudah terjadi, apa yang harus aku lakukan sekarang," batin Zara semakin merasa kecewa.
Di luar, Zidan sedikit gelisah karena Zara tak kunjung keluar dari kamar mandi. Zidan menatap pintu kamar mandi itu untuk melihat apakah Zara keluar atau belum. Namun tidak kunjung keluar. Zidan menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya.
"Zara... Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zidan. Namun tak ada jawaban dari Zara. Zidan mengetuk pintunya sekali lagi.
"Sayang... Kenapa diam saja? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zidan khawatir. Tak lama setelah itu pintunya terbuka dan Zara keluar dari kamar mandi. Zara menuju sofa dan duduk di sana. Zidan mengikuti Zara dan duduk di sampingnya.
"Sayang, jangan diam saja. Jika kamu mau marah sama aku silakan saja, aku akan terima. Tapi jangan mendiamkanku seperti ini. Atau kamu mau menghukumku? Aku menerimanya Zara, tapi jangan berdiam diri seperti ini," ucap Zidan lembut. Ia menggenggam tangan Zara. Namun bukannya menjawab, air mata Zara justru luruh kembali. Membuat Zidan semakin tak tega. Ia memeluk Zara agar Zara lebih tenang.
"Jangan menangis lagi sayang, aku minta maaf sama kamu," ucap Zidan sambil mengusap punggung Zara.
"Aku hanya takut," jawab Zara pelan. Ia mengeratkan pelukannya.
"Jangan takut, aku akan bertanggung jawab padamu. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu sayang," ucap Zidan. Ia mencium puncak kepala Zara dengan lembut.
__ADS_1