
Pagi hari, Alina terbangun dari tidurnya. Namun suaminya sudah tak ada di sampingnya. Alina duduk dan berjalan ke kamar mandi. Ia melihat sebentar ke arah ranjang bayi namun Raffa tak ada di sana.
Setelah dari kamar mandi, Alina dengan malas menuruni tangga mencari keberadaan Raffa dan suaminya. Alina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, namun tak mendapati mereka.
Di dapur juga hanya ada bi Narsih. Makanan juga sudah tersaji di meja makan. Alina berjalan menuju meja makan dan mengambil lauk lalu ia makan begitu saja. Ia juga menuangkan air putih lalu meminumnya.
"Tuan di mana bi?" tanya Alina.
"Di teras nyonya," jawab bi Narsih. Alina mengangguk dan berjalan menuju teras.
"Mas," panggil Alina. Arvin menoleh dan tersenyum tipis.
"Nggak kerja?" tanya Alina sambil mendekat ke arah Arvin yang sedang menggendong Raffa.
"Nggak, aku mau libur saja hari ini," jawab Arvin santai.
"Oh... Sini, Raffa biar aku susui dulu," ujar Alina. Ia mengambil alih Raffa dan duduk di kursi. Ia mulai menyusui Raffa.
"Sayang, gimana kalau Raffa minum susu formula saja? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan kehamilan kamu," ucap Arvin.
"Kenapa mas? Asinya juga lancar-lancar saja kok. Aku nggak ada masalah," jawab Alina.
"Ya takut saja. Atau kita konsultasi dulu ke dokter biar lebih amannya," ucap Arvin.
"Boleh, nanti sekalian ke rumah mama ya. Jemput anak-anak," ujar Alina. Arvin mengangguk.
Setelah selesai menyusui, mereka sarapan dan Raffa sementara dijaga oleh bi Narsih. Mereka bersiap untuk konsultasi ke dokter terlebih dahulu. Baru nanti ke rumah Soraya untuk menjemput kedua anaknya.
Setelah siap, mereka berangkat menuju rumah sakit. Mereka membawa Raffa sekalian. Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah sampai di rumah sakit dan menuju ruang dokter kandungan yang sudah menangani Alina dari kehamilan pertamanya.
Setelah menjalani pemeriksaan, mereka mulai berkonsultasi. Arvin menanyakan terkait bahaya atau tidaknya jika Alina menyusui putranya itu dengan kondisi dirinya sedang hamil.
"Tidak masalah jika ibu dan bapak ingin mengganti dengan susu formula. Tetapi harus sesuai dengan takaran karena usia tiga bulan itu bayi belum memiliki pencernaan yang sempurna . Saya menyarankan jika ingin mengganti dengan susu formula jika usia putra bapak dan ibu minimal 12 bulan. Atau bisa terus menyusui juga tidak apa-apa jika proses menyusui si kecil berjalan lancar."
"Tetapi biasanya akan terjadi kontraksi pada rahim ibu. Karena ada peningkatan hormon oksitosin pada tubuh. Hormon ini meningkat guna untuk mempermudah proses kelahiran nanti."
"Untuk memastikan kesehatan ibu bisa rutin memeriksakan diri agar kelancaran menyusui dan kesehatan saat kehamilan bisa diperoleh. Hal ini juga untuk mencegah hal-hal yang memungkinkan terjadinya komplikasi."
"Tidak perlu khawatir, kontraksi ini biasanya cenderung ringan. Tidak sampai menyebabkan keguguran."
__ADS_1
"Namun jika ada keluhan lainnya misal mual dan muntah secara berlebihan atau yang lainnya bisa langsung memeriksakan diri untuk penanganan lebih lanjut."
"Ingat, selalu jaga kondisi jangan sampai kelelahan ya bu. Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" ucap dokter itu menjelaskan sedetail mungkin. Alina merasa lega dengan adanya penjelasan dari dokter terkait kondisinya.
"Terima kasih dok. Untuk sementara sudah cukup," ucap Arvin. Dokter tersebut tersenyum tipis.
Mereka pamit undur diri. Alina tidak perlu lagi khawatir yang berlebihan yang malah mengganggu kesehatannya dan calon bayinya.
"Bagaimana? Masih mau berpikiran untuk menggugurkan kandungannya?" ucap Arvin dan tertawa kecil. Alina memukul lengan Arvin.
"Jangan ngledek ah," ucap Alina dan dirinya memanyunkan bibirnya. Arvin justru menikmati ekspresi Alina yang seperti itu.
Setelah dari dokter kandungan, mereka tak jadi menjemput kedua putranya. Arvin melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.
"Sini, biar mas saja yang gendong Raffa sayang," ucap Arvin setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah. Arvin mengambil alih Raffa.
Alina berjalan ke ruang tengah dan merebahkan dirinya di sofa. Sedangkan Arvin menidurkan Raffa di ranjang bayi. Arvin bermain dengan Raffa.
"Kenapa? Capek?" tanya Arvin yang menatap Alina. Alina hanya mengangguk.
"Mau makan sesuatu?" tanya Arvin.
"Tunggu di sini, mas ambilkan dulu," ucap Arvin. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil kue kacang yang diminta Alina.
Alina menyalakan tv. Ia bangkit dan duduk bersandar di sofa. Sambil sesekali tangannya mengusap perutnya yang masih rata itu. Arvin kembali dengan membawa kue kacang satu toples dan menaruhnya di meja.
Alina menyambarnya dan membawa toples berisi kue kacang tersebut ke pangkuannya. Sambil menonton acara tv, Alina dengan lahap memakan kue tersebut.
Arvin hanya tersenyum tipis saat melihat Alina. Ia beralih menjaga Raffa dan bermain dengannya.
"Yank," panggil Arvin.
"Hmm," Alina masih fokus dengan acara tv.
"Fokus banget sih lihatnya. Aku sampai dicuekin loh," ucap Arvin sambil menoel pipi Alina.
"Lagi asik mas. Bentar ya, tolong jaga Raffa sebentar saja," jawab Alina tanpa menoleh ke arah Arvin.
"Sayang,"
__ADS_1
"Apa sih mas?"
"Ih, lihat sini dong,"
"Apaaa..??" ucap Alina sambil menoleh.
Cup
Arvin mengecup sekilas bibir Alina. Alina segera menutup bibirnya dengan punggung tangannya.
"Salah sendiri suaminya dicuekin. Kalau lagi kerja disuruh cepat balik. Tapi kalau sudah di rumah malah gak diperhatiin. Lihat Raffa, mommy jahat nih sama papa," ucap Arvin sedikit melirik Alina. Alina tersenyum tipis dan bersandar di bahu Arvin.
"Jangan lebay deh mas," jawab Alina santai. Ia sebenarnya sedikit salah tingkah jika Arvin menggodanya seperti itu.
Arvin mencubit kedua pipi Alina dengan gemas. Berulang kali mengecup bibir Alina. Ia tersenyum bangga setelah berhasil mendaratkan ciumannya.
"Sudah ya, ini pipi bukan squishy," ujar Alina sambil memegangi pipinya. Arvin tertawa dan merengkuh Alina. Mencium kening Alina sesaat.
"Maaf tuan, ada undangan untuk nyonya," ucap pak Kariman yang tiba-tiba masuk sambil menyodorkan undangan tersebut. Arvin menerimanya dan membacanya sekilas, undangan pernikahan. Kemudian memberikannya kepada Alina. Setelah itu pak Kariman kembali lagi. Alina mulai membuka undangan tersebut.
"Dari siapa sayang?" tanya Arvin penasaran.
"Rani mas, pegawai restoran aku mau menikah," jawab Alina santai.
"Eh kok bisa?" ucap Alina terkejut.
"Maksudnya?" Arvin bertambah bingung.
"Rani menikah sama Danis loh. Ini Julian Daniswara itu kan?" tanya Alina masih dengan keterkejutannya.
"Siapa sih, coba lihat," Arvin mengambil undangan tersebut dan membacanya. Setelah itu ia meletakkan undangan tersebut di meja.
"Kenapa wajahmu seperti itu sayang? Nggak ikhlas ya mantan pacarmu menikah, hmm?" tanya Arvin asal. Ia menyandarkan kepalanya di sofa.
"Apaan sih mas. Nggak jelas banget," jawab Alina.
"Ya habisnya heboh banget kaya nggak rela mantannya menikah," ujar Arvin sedikit kesal.
"Siapa juga yang jadi mantannya Danis. Itu dulu hanya pacar pura-pura mas. Cemburumu itu nggak berlandas sama sekali," jawab Alina. Arvin terkekeh melihat Alina yang seperti emosi menanggapi ucapan Arvin. Padahal dirinya hanya bertanya asal saja.
__ADS_1