Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 55 (season 2)


__ADS_3

Karina menjentikkan jemarinya. Kemudian muncul dua pria yang bertubuh kekar seperti seorang preman. Karina menatap mereka bergantian. Ia tersenyum sinis.


"Kalian tahukan apa yang harus kalian lakukan?" tanya Karina.


"Anda tenang saja. Kami akan melakukan apa yang Anda suruh nona," ujar salah satu pria tersebut. Karina tertawa kecil.


"Zara, jangan salahkan aku. Ini semua salah Zidan yang sudah menghancurkan keluargaku. Aku juga akan menghancurkanmu," batin Karina.


"Jika aku tidak bisa memiliki Zidan, jangan harap kamu bisa memilikinya Zara. Selamat bersenang-senang malam ini," batin Karina lagi.


"Lakukan sekarang!" ucap Karina. Ia berjalan meninggalkan kamar tersebut dan tak lupa menutup pintunya.


Karina berjalan ke salah satu kamar hotel yang ia pesan sebelumnya. Ia ingin bermalam di tempat ini dan menyaksikan kehancuran Zara secara langsung.


Sesampainya di kamar hotel, Karina segera merebahkan dirinya. Ia merasa sangat lelah setelah mempersiapkan semua itu. Ia berbaring sambil menatap langit-langit kamar hotel itu.


"Aku sudah menghabiskan tabunganku untuk semua rencana ini. Aku hanya ingin melihat kehancuran Zidan dan Zara. Ya, mereka tidak boleh bahagia," ucap Karina. Lalu ia tertawa penuh kemenangan.


Di tempat lain, Fanny berusaha menghubungi Zidan. Ia berulang kali menelepon Zidan namun Zidan tidak juga menjawabnya. Itu membuat Fanny semakin khawatir. Terpaksa Fanny harus mengalihkan perhatian mereka agar tidak menyakiti Zara.


Fanny berpakaian seperti pelayan hotel. Ia mengetuk pintu kamar tersebut berulang kali. Hingga dua pria tadi mendengus kesal.


"Apa yang kau lakukan? Tidak bisakah kau tidak mengganggu kami?" ucap pria tersebut.


"Maaf, saya hanya menyampaikan pesan dari nona Karina. Jus ini dibuat khusus untuk Anda tuan," jawab Fanny. Kedua pria tersebut merebut gelas yang berisi jus dan segera meminumnya tanpa berpikir panjang. Fanny tersenyum tipis melihat mereka menghabiskan jus itu.


"Dasar manusia bodoh. Hanya dengan menyebut nama nona Karina saja mereka sudah percaya. Aku sudah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman tadi," gumam Fanny senang. Fanny melirik ke dalam kamar. Penampilan Zara semakin kacau.


"Nona, tolong Anda bersabar sebentar lagi. Tuan muda pasti akan menolong Anda," batin Fanny.


"Pelayan bodoh! Masih berdiri di sana saja? Pergi sana!" ucap pria itu. Mereka mengusir Fanny dengan kasar dan mengunci pintu tersebut. Mereka mulai mendekati Zara.


"Sial! Mereka mengunci pintunya!" batin Fanny kesal.


Drrtt... Drrtt... Drrtt...

__ADS_1


Ponsel Fanny berdering. Ternyata Zidan yang menghubunginya. Fanny segera menjawabnya.


"Di mana? Aku sudah sampai di lobi," ucap Zidan.


"Anda tunggulah di sana. Saya akan menjemput Anda tuan muda," ucap Fanny. Ia mematikan sambungan teleponnya dan segera menjemput Zidan.


Zidan terlihat panik. Fanny langsung membawa Zidan menuju kamar yang telah Karina pesan untuk Zara.


"Tuan muda, Anda tenanglah. Saya sudah memberi mereka obat tidur. Harusnya mereka tidak akan sampai melecehkan nona," ucap Fanny agar Zidan lebih tenang.


"Jika sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkan Karina!" ucap Zidan. Ia mengepalkan tangannya.


"Zi-Zidan, tolong aku," ucap Zara pelan.


Dua pria itu mendekat ke arah Zara. Salah satu dari mereka membelai pipi Zara dan tersenyum nakal.


"Malam ini kita untung besar, hahaha," ucap pria itu.


"Benar, malang sekali nasib gadis ini," balas pria satunya lagi.


"Fan, kenapa pintunya tidak bisa terbuka?" ujar Zidan panik saat mereka sudah berada di depan kamar tersebut.


"Kamarnya terkunci tuan muda. Tapi Anda tenang saja, saya sudah meminta kunci duplikatnya tadi," jawab Fanny.


"Kenapa masih berdiri di situ? Buka pintunya Fan! Apa kau ingin aku pecat sekarang juga?" teriak Zidan.


"Anda tenanglah tuan. Jika nona Karina melihat Anda nanti, pasti akan menyulitkan Anda," gumam Fanny.


Fanny segera membuka pintu tersebut. Zidan tak sabar ingin segera masuk. Saat pintu terbuka, Zidan segera mencari keberadaan Zara.


Zidan berlari menghampiri Zara. Ia menepuk pipi Zara agar segera sadar.


"Zara sadarlah," ucap Zidan. Ia duduk di samping Zara dan berusaha membuat Zara sadar.


"Fan, pesankan satu kamar dan urus dua orang tak berguna ini!" perintah Zidan. Fanny segera melaksanakan perintah Zidan.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, ia sudah membawa kunci kamar nomor 117. Zidan menggendomg Zara menuju kamar tersebut.


"Hubungi Jack juga Fan! Suruh dia datang ke sini sekarang!" ucap Zidan. Fanny hanya bisa melaksanakan segala yang diperintahkan Zidan.


Zidan merebahkan Zara di ranjang. Namun Zara memeluk erat Zidan dan enggan melepasnya. Meskipun Zidan sudah berusaha untuk melepas pelukan tersebut, Zara semakin mengeratkannya.


"Zidan tolong aku," ucap Zara. Zidan menatap Zara.


"Zara, tolong sadarlah!" ujar Zidan.


"Fan, berapa lama lagi Jack akan datang?" tanya Zidan. Ia tak bisa melihat Zara tersiksa lebih lama.


"Tolong Anda bersabarlah sebentar tuan. Jack sedang dalam perjalanan," jawab Fanny sopan.


"Apa kau buta? Kau tahu bagaimana keadaan Zara sekarang? Saat ini dia sedang menderita Fan, apa kau pikir aku akan tetap bersantai begitu saja?" ucap Zidan meninggi. Ia merasa kesal dengan Fanny. Fanny menepuk jidatnya pelan. Baru kali ini ia melihat Zidan bertindak tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Apalagi memarahinya dan Jack.


"Memang benar, nona Zara sudah mengalihkan dunia tuan muda," batin Fanny.


Cukup lama, akhirnya Jack datang ke kamar mereka. Ia sudah cukup berusaha agar lebih cepat sampai di lokasi. Namun letak lokasi ini lumayan jauh dari kota dan tempatnya praktik. Jadi, ia tidak bisa langsung datang begitu mendapat panggilan dari Zidan.


Jack memeriksa Zara. Ia memberikan obat kepada Zidan agar Zara meminumnya sesegera mungkin. Ia melakukan apa yang ia bisa. Semampunya.


"Segera suruh dia untuk minum ini," ucap Jack dan menyerahkan obat kepada Zidan.


"Kau yakin obat ini bisa meredakannya?" tanya Zidan tak percaya.


"Jika tidak percaya maka jangan berikan padanya. Kau bisa membantunya untuk melepas hasratnya itu. Aku yakin kamu paham maksudku," ujar Jack. Ia menepuk bahu Zidan dan tersenyum tipis. Zidan menatap Jack dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Jack pamit untuk pergi. Sedangkan Fanny mengurus dua pria tadi. Kini tinggalah Zidan dan Zara dalam kamar tersebut.


"Jack, maaf telah merepotkanmu," ucap Fanny saat ia mengantar Jack sampai ke lobi.


"Tidak masalah. Aku hanya melakukan tugas kecil saja. Apa kau tahu apa yang sudah aku lakukan tadi? Aku memberinya obat dengan efek yang tidak terlalu kuat. Jika Zidan tidak bisa menahan dirinya, maka malam ini mereka akan melakukannya," bisik Jack.


"Kau! Kenapa kau sangat jahil sekali? Bagaimana jika tuan muda marah padamu?" tanya Fanny. Jack tertawa kecil. Ia merangkul Fanny dari samping.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Mereka saling mencintai, apa salahnya?" jawab Jack santai. Ia pamit untuk pulang lebih dulu.


__ADS_2