Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 93


__ADS_3

Sesuai kesepakatan mereka kemarin. Kini Alina terlihat senang, akhirnya keinginannya untuk bekerja disetujui oleh suaminya. Namun ia masih bingung, antara membawa Barra bekerja bersamanya atau mencari pengasuh baru lagi untuk menjaga putranya tersebut.


Namun Arvin lebih menyarankan agar Barra dititipak kepada orang tua mereka. Alina bisa memilih antara orang tua Arvin atau orang tuanya. Alina sedikit ragu. Ia juga tidak ingin merepotkan orang tuanya. Apalagi ini adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.


Tetapi Arvin lebih suka jika Barra diasuh oleh nenek dan kakeknya selama Alina bekerja. Hitung-hitung agar Barra lebih dekat dan mengenal siapa kakek dan neneknya.


Jadwal kegiatan Alina waktu di rumah juga berubah. Biasanya ia bangun pagi pukul 05.30 sekarang ia harus bangun pukul 04.30. Itu ia lakukan agar pekerjaan di rumah bisa cepat terselesaikan. Meskipun nantinya ada bi Narsih yang membantunya tetap saja Alina tidak bisa lepas tangan begitu saja. Alina juga merasa kasihan jika semuanya dikerjakan oleh bi Narsih.


Pertama kali bangun jam segitu terlalu berat untuk Alina. Ini bukan kebiasaannya. Namun ia harus membuktikan kepada suaminya jika ia mampu mengurus keduanya.


"Hooaaamm..." Alina menguap entah yang keberapa kalinya. Ia berjalan gontai menuju dapur. Hal pertama yang akan ia lakukan adalah memasak untuk sarapan mereka nanti.


Rumah nampak sepi. Kedua putranya yang saat ini berada satu kamar di kamar Zidan dan Alina terpaksa mengiyakan usulan Arvin untuk memisahkan Barra dengan dirinya membuatnya sedikit takut. Jadi mulai tadi malam Barra telah dipindahkan di kamar Zidan. Tahu kenapa? Alasan Arvin agar mereka bisa lebih fokus agar Alina segera hamil lagi.


Suaminya dan kedua putranya masih terlelap dalam tidur. Alina berhenti sejenak di depan almari es untuk mengambil air minum. Agar dirinya lebih segar lagi jika meminum minuman dingin seperti ini. Ia mulai menyiapkan bahan-bahan untuk menu memasaknya hari ini. Sebenarnya matanya masih sangat mengantuk. Apalagi ia baru tidur beberapa jam yang lalu.


"Nyonya sudah bangun? Biar bibi saja nyonya yang melakukan tugas ini," ucap bi Narsih yang setiap hari ia ucapkan kepada Alina agar tidak memasak. Ini adalah tugasnya.


"Tidak perlu bi, bibi bisa kerjakan hal yang lain saja," ujar Alina dan tersenyum tipis ke arah bi Narsih.


Setelah berkutat dengan dapur pagi-pagi sekali ini, akhirnya menu sarapan sudah tertata rapi di atas meja. Dirinya menghela napas lega dan kembali menuju kamarnya untuk menyiapkan baju kerja suaminya.


Alina sibuk memilih pakaian mana yang akan dikenakan untuk Arvin nanti. Ia nampak bingung, namun itu bukan hal sulit baginya. Setelah beres, baru dirinya beralih ke kamar putranya.

__ADS_1


Alina tersenyum lega melihat anak-anaknya tidur dengan pulas. Bahkan Barra juga tidak merengek menangis saat Alina tidak tidur di dekatnya. Alina berjalan pelan mendekat ke ranjang mereka. Ia memandangi dua malaikat kecil yang selalu menghiasi hari-harinya. Alina mengecup pelan kening mereka secara bergantian.


Ia berdiri dan menuju almari. Ia membuka pintu almari dan menyiapkan seragam sekolah untuk Zidan. Alina jarang menyiapkan segala keperluan Zidan. Karena Zidan yang melarang Alina untuk menyiapkan segala keperluannya termasuk seragam untuknya sekolah. Namun tetap saja Alina harus tetap perhatian kepadanya.


Setelah itu, ia kembali lagi ke kamarnya berniat membangunkan suaminya.


"Mas," panggil Alina lirih.


Alina menggoyangkan tubuh Arvin dengan pelan. Meskipun ini terlalu pagi untuknya bangun.


"Mas," panggil Alina lagi. Namun Arvin hanya menggeliat kecil.


Alina menghela napasnya sejenak. Ia justru membaringkan kembali dirinya di samping Arvin. Dan akhirnya ia ketiduran.


Alina mengerjap saat merasakan sesuatu menyentuh pipinya. Alina membuka matanya perlahan. Ternyata Barra berada di samping ranjangnya dengan menusuk-nusuk pipi Alina dengan telunjuknya yang mungil.


"Iya, ini mommy sudah bangun sayang," ucap Alina dan dirinya duduk bersandar dan memangku Barra. Alina menciumi seluruh wajah putranya itu dan membuat Barra tertawa lepas.


Alina melirik jam yang berada di atas nakas. Oh tidak! Ini bahkan sudah pukul 06.45. Dirinya tertidur begitu lama dan Arvin tak membangunkannya. Ia dengan cepat keluar kamarnya bersama Barra.


Arvin dan Zidan sudah memulai sarapannya. Alina yamg baru saja bergabung tersenyum kikuk.


"Mommy lama," ucap Zidan yang kemudian melahap makanannya.

__ADS_1


"Maaf sayang. Mommy hari ini terlambat bangun," balas Alina sambil duduk di samping Zidan. Ia mulai mengambil makanan untuk Barra dan menyuapinya.


"Tidak masalah. Kata papa, mommy sangat capek hari ini. Jadi Zidan tidak berani membangunkan mommy. Papa juga sama, iyakan pa?" ucap Zidan panjang lebar. Iya, Alina memang merasa capek. Karena ia belum terbiasa untuk bangun dan beraktivitas di waktu yang terlalu pagi seperti ini.


"Zidan, cepat habiskan makananmu. Kamu akan terlambat sekolah nanti," ujar Arvin dan Zidan mengangguk. Ia segera menghabiskan makanan yang ada dipiringnya.


"Mas hati-hati ya, Zidan juga. Belajar yang rajin," ucap Alina saat mengantarkan suami dan anaknya sampai ke depan rumah.


Arvin tersenyum dan mengecup sekilas kening Alina dan Barra secara bergantian. Kemudian Zidan mencium tangan Alina dan mencium pipi Barra. Alina melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai Arvin mulai meninggalkan rumah. Oke, sekarang giliran dia yang bersiap-siap.


Alina lebih dulu memandikan Barra dan menyiapkan segala kebutuhannya. Barulah ia bisa mandi dengan tenang, karena Barra lagi dijaga oleh bi Narsih.


Setelah siap, Alina menyiapkan bekal untuk Barra mulai dari baju ganti, susu, dan makanannya. Ia sudah memikirkan dengan mantap jika ia akan menitipkan Barra ke rumah orang tuanya selagi ia bekerja.


Alasannya karena jarak antara rumah Alina dengan restoran tidak terlalu jauh dan juga searah. Itu akan lebih memudahkannya jika sewaktu-waktu Barra membutuhkan dirinya.


Alina diantar oleh pak Kariman. Sopir pribadi mereka yang dengan setia mengantarkan dirinya ke mana saja. Ini suatu kebanggaan bagi pak Kariman karena ia telah jadi orang kepercayaan untuk mengantar Alina ke mana saja.


"Ke rumah mama ya pak," ucap Alina dan ia memasuki mobil. Pak Kariman mengangguk paham. Di dalam mobil hanya hening. Tak ada sesuatu yang mereka bahas pagi ini.


Sampai di depan rumah orang tuanya, Alina segera masuk ke dalam dan memberitahukan perihal kedatangannya kali ini.


"Ma, Alina bisa titip Barra di sini setiap hari nggak? Setiap sore Alina jemput juga kok," ujar Alina sambil meletakkan barang yang telah ia bawa tadi.

__ADS_1


"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Soraya yang mengambil alih Barra dari gendongan Alina.


Putranya ini memang tak banyak bicara. Hanya bicara seperlunya saja. Namun adakalanya Barra aktif dan ceria. Alina rasa ini keputusan yang tepat untuk menitipkan Barra di rumah orang tuanya.


__ADS_2