
"Pakai uang saya saja. Minuman yang mbak ini pesan biar masuk ke tagihan saya," sahut seseorang yang berada di belakang Alina. Alina terdiam kaku. Ia sepertinya mengenal suara ini.
Kasir tersebut menerima uang yang diberikan oleh laki-laki tersebut. Alina belum berani menoleh ke belakang. Alina terpaksa menerima minuman yang ia pesan tadi.
Perlahan ia menoleh ke belakang. Ia berharap itu bukan seseorang yang ia kenal.
"Hai, apa kabar Alina sayang," sapa seseorang itu dan tersenyum tampan ke arah Alina.
"Hah!" Alina terkejut dan seketika minuman yang ia bawa tumpah.
"Dan-Danis!" ujar Alina tak percaya. Ia segera berlari menjauh dari food court tersebut. Alina trauma dengan kejadian beberapa tahun lalu yang hampir membuat hidupnya hancur. Ia tak ingin bertemu dengan orang yang telah mencoba menyakitinya dulu.
"Alina tunggu!" teriak Danis yang mengejar Alina.
Alina terus berlari kecil berusaha menghindari Danis. Alina sampai lupa jika ia sedang mengandung. Ia tidak ingin bertemu dengan Danis untuk saat ini.
"Tunggu!" ucap Danis yang sudah berada di belakang Alina dan menarik tangan Alina.
"Lepaskan aku Danis! Tolong jangan ganggu aku lagi!" ucap Alina berusaha melepaskan cengkraman tangan Danis. Namun Danis semakin mengeratkan tangannya. Alina mulai menangis. Ia sungguh ketakutan jika Danis berbuat sesuatu yang nekad.
"Kamu takut padaku Alina? Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar," ujar Danis yang berusaha menyentuh wajah Alina.
Alina menepis tangan Danis dan menjauhkan dirinya sedikit. Bagaimanapun juga tempat ini sangat ramai. Alina tidak ingin menjadi pusat perharian orang. Tapi orang yang ada di depannya ini sama sekali tak ingin melepas tangan Alina.
"Menurutlah, jika tidak ingin menjadi pusat perhatian," bisik Danis yang sukses membuat nyali Alina menciut. Seketika ia terdiam.
Mata Danis mengarah ke perut Alina yang mulai membesar. Tatapannya masih memperhatikan wanita yang selama bertahun-tahun ini selalu ia rindukan. Namun ia tidak ingin menyakiti Alina. Kedatangannya kali ini semata ingin mengetahui kabar Alina dan ingin meminta maaf.
Danis membawa Alina ke tempat yang tidak terlalu ramai. Alina masih begitu ketakutan. Tubuhnya gemetar menahan takut.
"Duduklah!" Perintah Danis namun Alina ragu.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyakitimu Alina. Aku datang mencarimu karena aku ingin minta maaf padamu. Tidak ada niat lain," ujar Danis berusaha meyakinkan Alina. Alina duduk di sana. Mereka saling berhadapan.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan Danis!" ucap Alina ketus.
"Alina, sudah bertahun-tahun lamanya aku mencarimu. Aku berharap suatu saat nanti kamu dapat memaafkanku. Aku tidak ingin dirundung rasa bersalah terhadapmu. Melihat kamu bisa bahagia seperti ini saja aku sudah sangat senang. Maaf Alina. Maafkan aku," ungkap Danis.
Ia berharap Alina memaafkannya. Ia merasa bersalah dulu telah melakukan hal yang hampir membuat Alina kehilangan nyawa. Dulu ia dibutakan oleh rasa cemburunya sehingga nekad berbuat sesuatu yang sekarang ia sesali.
"Alina..." ucap Danis pelan.
Alina tetap diam. Ia meremas jemarinya. Alina masih ragu untuk memaafkan Danis. Namun jika ia tidak memaafkannya maka Danis akan menahannya di sini terus.
"Aku sudah memaafkanmu. Tolong jangan temui aku lagi. Biarkan aku pergi sekarang Danis. Aku harus segera pulang," jawab Alina. Ia berdiri dan ingin meninggalkan tempat. Namun baru satu langkah ia merasa perutnya sakit.
"Aahh..." Alina berdesis menahan perutnya yang sakit.
"Alina, apa kamu baik-baik saja? Atau biar aku antar kamu," ujar Danis menawarkan diri.
"Tidak perlu! Menjauhlah dariku Danis!" balas Alina dan menepis tangan Danis.
Ponselnya berdering. Alina mengeluarkan ponselnya dan ternyata Arvin yang sedang menghubunginya. Tanpa berpikir panjang ia mengangkat telepon tersebut.
"Halo mas," jawab Alina.
"Kamu di mana sayang?" tanya Arvin.
"Aku di mall dekat restoran mas. Ada apa?" ujar Alina dan ia melihat sekelilingnya.
"Tunggu di sana! Mas akan ke sana sekarang juga," ujar Arvin dan mematikan panggilan teleponnya. Alina mengerutkan dahinya. Ia melanjutkan langkahnya menuju tempat bermain.
Sedangkan Danis hanya memperhatikan Alina tak jauh dari sana. Ia kasihan melihat Alina yang kesakitan seperti itu, namun ia juga sadar jika bantuannya saat ini hanya sia-sia. Jadi, Danis hanya bisa memperhatikan Alina untuk memastikan jika Alina baik-baik saja.
__ADS_1
"Alina, kamu dari mana saja? Aku khawatir kamu nggak balik-balik dari tadi," ucap Dewi yang dari tadi menunggu Alina. Namun ia juga tidak bisa meninggalkan anak-anaknya.
"Maaf tadi ada sedikit masalah. Tapi jangan khawatir, aku baik-baik saja Wi," jawab Alina. Ia tersenyum tipis.
"Hah, syukurlah kalau begitu." Dewi menghela napasnya lega.
Tak lama setelah itu, Arvin datang dan langsung memeluk Alina. Alina heran, ada apa dengan sikap Arvin kali ini. Tak biasanya terlihat panik tanpa ada sebab yang jelas.
"Mas, ada apa?" tanya Alina bingung.
Arvin melirik ke sana ke sini. Seperti sedang memastikan sesuatu. Ia menangkup wajah Alina dan mengecup bibir Alina sekilas. Bahkan Arvin tak peduli, di samping mereka ada Dewi saat ini.
"Kita pulang sekarang ya. Nanti aku ceritakan di rumah," ujar Arvin. Ia menghampiri anak-anak yang tengah bermain. Arvin menggendong Barra begitu juga Dewi yang menggendong Naura. Alina dan Dewi sama sekali tak mengerti maksud dari Arvin ini.
"Kakak ipar pulangnya biar diantar sama sopir kami saja. Terima kasih sudah mau menjaga Barra selama ini," ujar Arvin yang saat ini mereka berjalan menuju parkiran.
"Terima kasih. Saya sangat senang kok bisa menjaga Barra. Karena Naura jadi ada temannya," jawab Dewi dan tersenyum tipis.
Sampai di parkiran, mereka pisah dan pulang ke rumah masing-masing.
"Mas ke restoran sebentar ya. Ada barang yang ketinggalan," ujar Alina. Arvin mengangguk dan melanjukan mobilnya menuju restoran.
Sampai di sana, Alina turun dan segera ke ruangannya. Ia mencari dompetnya, siapa tahu ketinggalan di sana waktu ia buru-buru tadi. Dan ya, ternyata benar. Ia lega, setidaknya dompetnya tak hilang waktu di mall tadi.
Alina menyuruh Rani untuk memberikan laporannya besok. Karena hari ini ia harus pulang lebih awal.
Sampai di rumah, Alina dan Arvin langsung masuk ke dalam. Setelah lelah bermain, Barra tertidur dengan pulas.
Di dalam kamar, Arvin langsung memeluk Alina. Pelukannya semakin erat yang membuat Alina sedikit sesak.
"Ada apa?" tanya Alina tiba-tiba.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya kangen sama kamu saja," jawab Arvin dan mengecup sekilas bibir Alina. Mereka kembali berpelukan.
"Mas, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Danis," ujar Alina yang tak ingin menyembunyikan apapun dari suaminya. Tubuh Arvin menegang mendengar apa yang diucapkan Alina barusan.