Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 124


__ADS_3

"Siapa juga yang jadi mantannya Danis. Itu dulu hanya pacar pura-pura mas. Cemburumu itu nggak berlandas sama sekali," jawab Alina. Arvin terkekeh melihat Alina yang seperti emosi menanggapi ucapan Arvin. Padahal dirinya hanya bertanya asal saja.


"Ya sudah, nggak usah marah juga kali," balas Arvin.


"Siapa juga yang marah," jawab Alina santai. Ia kembali mengambil rotinya dan memakannya. Kini Alina bersandar di bahu Arvin sambil sesekali menyuapi Arvin roti kacang.


Tak ada banyak hal yang mereka lakukan. Hanya menonton tv, bercanda dan mengurus Raffa. Hingga tanpa terasa waktu sudah semakin siang.


"Mas, kapan jemput anak-anak?" tanya Alina.


"Nanti malam kalau nggak besok pagi saja," jawab Arvin.


"Kenapa nggak nanti sore saja? Kasihan mama. Gimana kalau mereka nanti rewel?" ujar Alina resah.


"Nggak akan. Kalau memang rewel, mama pasti sudah menghubungi kita untuk menjemput mereka kan?" ucap Arvin.


"Aku ikut ya mas kalau nanti mau jemput Zidan sama Barra," ucap Alina pelan.


"Nggak! Biar mas sendiri yang jemput. Ingat, nggak boleh kelelahan," ujar Arvin tegas. Alina mengangguk pasrah.


Arvin berjalan menuju dapur untuk mengambil makan siang. Ia juga mengambilkan untuk Alina sekalian. Tak lupa Arvin membuatkan susu ibu hamil untuk Alina.


"Mas, suapin ya..." pinta Alina.


"Suapin dengan cara apa? Mas bisanya hanya lewat mulut," goda Arvin. Alina melayangkan pukulannya di lengan Arvin.


"Jorok ih," ujar Alina. Ia memanyunkan bibirnya. Kemudian mengambil makanannya dan mulai memakannya. Arvin tersenyum tipis dan mengambil alih piring dan sendok Alina.


"Sini, mas suapi," ujar Arvin. Alina mengembangkan senyumnya dan makan dengan lahap. Setelah selesai menyuapi Alina, ia beralih ke makanannya dan memakannya.


Setelah makan, Alina menyusui Raffa sejenak. Kemudian Arvin menyuruhnya untuk istirahat di kamar. Arvin bergegas ke ruang kerjanya. Ia harus melihat beberapa email yang sudah dikirim Farhan padanya. Disela-sela ia bersantai di rumah, Arvin juga tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.


Cukup lama Arvin berada di ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa hal yang belum sempat ia selesaikan. Hingga waktu semakin sore namun Arvin masih betah di sana.

__ADS_1


Alina terbangun. Ia mencari keberadaan suaminya di sampingnya namun tak ada. Alina menengok ke ranjang bayi dan ternyata Raffa sudah terbangun entah berapa lama. Alina mengembangkan senyumnya dan mendekati putranya itu. Ia mengusap pipi Raffa dengan gemas.


"Loh, sudah bangun?" ujar Arvin saat masuk ke kamarnya.


"Baru saja. Dari mana mas?" tanya Alina.


"Ada urusan kantor sedikit sayang. Habis ini mau ke kantor sebentar sekalian menjemput Zidan dan Barra," ucap Arvin. Ia mencari pakaiannya sebelum menuju kamar mandi. Arvin mandi dan sudah bersiap untuk ke kantor.


"Mas, aku ikut ya," ucap Alina pelan.


"Kamu di rumah saja sama Raffa," ucap Arvin yang sambil mengancingkan lengan bajunya.


"Ya sudah, titip salam sama mama ya mas. Kamu hati-hati," ucap Alina. Arvin mengangguk dan mencium kening Alina sekilas sebelum dirinya pergi.


Arvin melajukan mobilnya menuju kantor. Ia segera menemui Farhan untuk membahas hal-hal mengenai pekerjaan. Arvin juga menandatangani beberapa berkas yang sudah sepakat untuk kerja sama. Setelah selesai, ia melajukan mobilnya kembali menuju rumah mertuanya.


"Selamat sore tuan, silakan masuk," ucap salah satu pembantu menyambut kedatangan Arvin. Arvin mengangguk dan masuk ke dalam.


"Oh, Arvin. Mau jemput anak-anak?" tanya Soraya. Arvin mengangguk dan mencium punggung tangan Soraya.


"Tidak Ma, Alina lagi istirahat di rumah," jawab Arvin.


"Ma, apa anak-anak merepotkan mama?" tanya Arvin sembari duduk di sofa.


"Sama sekali tidak. Justru mama senang jika mereka sering menginap di sini. Anak-anakmu lagi bermain bola sama kakeknya di halaman belakang. Mau lihat?" ujar Soraya. Arvin tersenyum lega jika kedua putranya tak merepotkan mertuanya sama sekali.


"Tidak usah Ma, biarkan mereka bermain dulu," jawab Arvin. Soraya mengangguk. Mereka mengobrol santai sambil menunggu Zidan dan Barra selesai main bersama kakeknya.


***


Dua hari kemudian


Alina tengah menyiapkan gaun untuk menghadiri acara pesta pernikahan Danis dengan Rani. Entah bagaimana mereka bisa bersatu dalam ikatan cinta, yang pasti Alina turut bahagia.

__ADS_1


Akhirnya Danis mendapatkan tambatan hatinya selepas kepergian Alina dalam hidupnya. Rani memang gadis yang baik. Alina yakin, Rani mampu membawa Danis menuju jalan yang lebih baik lagi. Meninggalkan dunianya yang dendam dan ambisius itu.


Saat ini, Alina berdiri di depan cermin dengan menempelkan beberapa potong baju. Ia nampak sibuk untuk memilih baju yang pas untuk dirinya. Sedangkan Arvin berada di ranjangnya sedang bermain dengan Raffa.


"Mau pakai baju apapun kamu tetap cantik kok sayang," ujar Arvin. Alina menoleh sekilas dan memutar bola matanya dengan malas.


Arvin bangkit dan berjalan mendekati Alina. Ia memeluk Alina dari belakang. Arvin menempelkan dagunya di bahu Alina.


"Intinya jangan pakai pakaian yang~"


"Terbuka kan? Aku tahu itu mas. Makanya aku lagi memilih gaun yang pas untuk acara besok," ujar Alina menyela. Arvin tersenyum tipis dan mengecup sekilas pipi Alina. Arvin mengusap perut Alina sekilas dan membalikkan Alina untuk menghadap padanya. Arvin memegang kedua bahu Alina.


"Kamu tunggu di sini. Aku akan pilihkan sendiri baju yang pas untuk kamu sayang," ujar Arvin. Alina mengangguk. Arvin mulai memilihkan untuk Alina. Arvin tersenyum lebar saat melihat gaun yang tidak begitu ketat dan tentunya tertutup.


"Bagaimana dengan yang ini?" ucap Arvin sambil menempelkannya ke tubuh Alina.


"Tidak-tidak, ini tidak cocok sama sekali," ucap Arvin dan memilih gaunnya kembali.


"Atau ini?" ucap Arvin menempelkan kembali baju yang berbeda ke tubuh Alina.


"Ini terlalu kuno," ucap Arvin lagi dan melempar ke sembarang tempat. Alina mendesah malas. Ia beralih duduk di ranjang.


"Katanya tadi pakai apa saja tetap cantik," ujar Alina malas.


"Memang, apapun yang kamu pakai kamu tetap terlihat cantik. Bahkan kalau nggak pakai baju sekalipun juga tetap cantik," ujar Arvin disertai gelak tawanya. Alina hanya memanyunkan bibirnya.


"Gimana kalau pakai ini?" tanya Arvin sambil mengeluarkan paper bag untuk Alina. Alina mengernyitkan dahinya. Alina menerima paper bag tersebut dan membukanya. Alina mengeluarkan sebuah gaun berwarna merah.


"Mas, ini?" tanya Alina tak percaya.


"Khusus untuk kamu," jawab Arvin santai.


"Sejak kapan mas siapkan ini?" tanya Alina tak percaya.

__ADS_1


"Dari kemarin," jawab Arvin. Ia duduk di samping Alina. Alina memeluk Arvin dan mencium pipi Arvin sekilas.


"Terima kasih mas," ucap Alina senang. Arvin tersenyum dan membalas mengecup bibir Alina sekilas.


__ADS_2