
Di sisi lain, Raffa sedang nongkrong bersama teman-temannya di kantin. Kebetulan hari ini dosennya tidak bisa hadir mengisi perkuliahan. Jadinya mereka free dan kini memilih untuk berkumpul di kantin.
Raffa memiliki empat teman yang satu geng dengannya. Namun Raffa juga tidak terlalu dekat dengan mereka. Sifat Raffa yang dingin dan pendiam, membuat temannya sedikit canggung. Tetapi mereka terus berusaha agar hubungan pertemanan mereka terjaga.
Raffa hanya menjadi pendengar setia teman-temannya saat bercanda atau saat membicarakan tentang wanita yang mereka suka.
Sedangkan Zara memilih untuk berdiam di kelas. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya di kelas sambil membaca buku. Semenjak ia bekerja di kantor Zidan, Zara tak lagi berjualan minuman di pinggir jalan atau taman kota. Gajinya sudah lebih dari cukup untuk biaya sehari-hari. Bahkan Zara sempat mengirim uang kepada pengurus panti yang selama ini sudah membesarkannya.
Karena bosan di kelas, Zara memutuskan untuk ke kantin sebentar membeli minuman lalu kembali ke kostnya. Setelah ini juga tidak ada mata kuliah lagi. Hanya mengumpulkan tugas dan tanda tangan saja.
Zara mengambil minuman dingin dan membayarnya. Ia berjalan keluar kantin. Duduk di taman yang rindang sambil menikmati minumannya.
"Zara, apa kabar?" tanya Arka yang baru saja tiba dan langsung duduk di samping Zara. Zara langsung menatap Arka dan sedikit memundurkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Arka.
"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Zara. Karena ini masih area kampus.
"Bagaimana pekerjaanmu? Lancar?" tanya Arka balik. Ia mengabaikan pertanyaan Zara.
"Lancar kok," jawab Zara singkat.
Zara berdiri dan ingin pergi dari sana. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Arka.
"Tunggu Ra!" ucap Arka. Ia menggenggam tangan Zara agar Zara tidak pergi.
"Lepasin aku Ka. Nggak baik dilihat orang," ucap Zara sambil berusaha melepas genggaman tangan Arka.
"Tunggu sebentar Ra," ucap Arka. Ia berdiri di depan Zara. Arka menggenggam kedua tangan Zara. Tatapannya begitu serius.
"Aku suka sama kamu Ra. Aku sayang sama kamu," ujar Arka. Zara membelalakkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang telah ia dengar barusan.
__ADS_1
"Jangan bercanda Arka. Ini nggak lucu," jawab Zara. Ia melepas genggaman tangan Arka dan dirinya berjalan sedikit menjauhi Arka.
"Aku serius Ra. Aku sudah lama suka sama kamu. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu," ucap Arka meyakinkan Zara. Selama ini Zara juga sudah mengetahui jika Arka menyukainya. Namun semenjak pak Ramdhani memperingatinya agar Zara tidak dekat-dekat dengan Arka, Zara sebisa mungkin menghindari Arka. Ia juga tidak ingin memberikan Arka harapan palsu yang nantinya akan menyakiti Arka. Zara berjalan mendekati Arka. Ia mengusap lengan Arka dengan lembut.
"Maaf, aku tidak bisa menerima cintamu Arka. Aku mohon hargai keputusanku," jawab Zara. Ia tersenyum tipis sebelum meninggalkan Arka. Namun Arka menggenggam tangan Zara kembali. Bahkan Zara sempat meronta, namun Arka tidak juga melepasnya.
"Kenapa Ra? Kenapa kamu tidak bisa menerimaku?" ucap Arka tak terima. Zara terus meronta namun Arka tak peduli.
"Lepasin dia!" ucap seseorang yang tak jauh dari mereka. Zara dan Arka menoleh untuk menatap orang itu. Mata Zara membulat sempurna. Raffa berjalan menghampiri mereka berdua.
"Apa kamu tidak paham bahasa manusia? Dia sudah meronta ingin dilepaskan, tetapi kenapa kamu tetap menahannya?" ucap Raffa datar. Raffa menarik paksa tangan Zara agar Zara berdiri di sampingnya.
"Siapa kau? Jangan ikut campur!" ucap Arka kesal. Ia ingin menarik Zara kembali namun Raffa menghadangnya.
"Dia sudah menolakmu. Apa kau tidak punya malu sedikitpun?" ujar Raffa. Arka terdiam di tempatnya. Ia menatap Zara sekilas. Kemudian ia memilih untuk pergi dari sana. Entah kenapa tatapan laki-laki itu sungguh mengerikan.
Setelah kepergian Arka, Zara menghela napasnya lega. Untung saja ada Raffa yang membantunya. Jika tidak, mungkin Arka akan terus memaksanya.
"Aku hanya tidak suka ada wanita yang ditindas seperti tadi," ucap Raffa tanpa ekspresi.
Raffa meninggalkan Zara. Ia segera menuju parkiran. Sebenarnya tadi ia ingin pulang, lalu tanpa sengaja Raffa melihat Zara yang sedang diganggu seseorang. Raffa membantu Zara begitu saja. Mungkin karena mereka teman satu kelas dan Raffa juga mengenal Zara.
"Dingin banget sih sikapnya. Entah seperti apa orang tuanya," gumam Zara lirih. Ia juga segera pergi menuju kostnya.
Saat tiba di mobil, Raffa tak langsung menjalankan mobilnya. Ia kepikiran dengan ucapan Zara yang terakhir tadi. Raffa bercermin sekilas. Melihat ekspresinya, apakah benar seperti yang diucapkan Zara.
Raffa kepikiran dengan sikapnya yang dingin ini apakah nantinya akan membuat orang tuanya malu atau tidak. Tetapi ia juga tidak bisa bersikap ramah seperti Alisya. Ia juga bingung.
Sesampainya di kost, Zara langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ia tiba-tiba merasa bersalah dengan Arka. Tetapi ia juga tidak ingin Arka salah paham terhadap perasaannya. Zara menganggap Arka sebagai teman, dan itu tidak lebih.
__ADS_1
Tring
Satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Zara. Zara segera mengambil ponselnya. Ia membuka pesan tersebut.
'Nona Zara, jika Anda tidak sibuk tolong segera ke kantor.' Siapa lagi kalau bukan Fanny yang mengirimnya.
"Aiihh, ada apa lagi sih. Bukannga jam kerjaku mulai jam satu ya?" gumam Zara. Ia tidak membalas pesan tersebut. Zara meletakkan kembali ponselnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan malas Zara mengambil ponselnya kembali. Bukan Fanny namun Zidan sendiri yang menelponnya. Zara segera duduk dan membenarkan posisinya.
"Halo," jawab Zara.
"Di mana?" tanya Zidan.
"Di kost," jawab Zara seadanya.
"Aku beri kamu waktu 15 menit untuk datang ke kantor. Kalau tidak aku akan menghukummu!" ucap Zidan. Ia segera menutup sambungan teleponnya.
"Hah? Ini kan masih lama? Masih jam 10.00 juga," gumam Zara. Namun ia tak punya pilihan lain. Jika sampai dirinya terlambat, entah hukuman apa yang akan Zidan berikan padanya.
Zara bahkan tak gangi pakaiannya. Ia hanya membasuh wajahnya dan memolesnya dengan sedikit bedak. Zara langsung mengambil tas dan ponselnya. Ia mengunci kamar kostnya dan sedikit berlari keluar kost untuk mencari taksi.
Hanya sisa satu menit lagi untuknya sampai di ruangan Zidan. Kini Zara sudah sampai di lobi. Ia berjalan menuju lift yang kebetulan hari ini ramai digunakan. Zara masuk bersama karyawan yang lainnya.
Hingga sampailah di lantai di mana ruangan Zidan berada. Zara berjalan dengan cepat menemui Aletta, sekretaris Zidan. Lalu Aletta langsung membawa Zara menemui Zidan.
"Lama sekali. Kamu naik apa sih ke sini?" protes Zidan tidak suka.
"Maaf, tadi di jalan macet. Aku naik taksi untuk ke kantor," jawab Zara yang menundukkan kepalanya. Zidan menghela napasnya sejenak.
__ADS_1
"Ikut aku rapat. Kamu bersiaplah," ucap Zidan. Zara sedikit terkejut. Bukankah ada asisten dan sekretaris pribadinya. Untuk apa ia ikut rapat tersebut. Namun Zara hanya mengangguk pasrah.