Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 94


__ADS_3

Alina masih terdiam. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Soraya. Ia takut jika Soraya tidak mengizinkannya bekerja sama halnya dengan suaminya itu. Ia masih berpikir bagaimana caranya memberitahu ibunya sehingga tidak salah paham.


"Ma, jika Alina kembali mengelola restoran mama marah gak?" tanya Alina dengan hati-hati. Ia tidak langsung bilang jika dirinya hari ini mulai bekerja untuk pertama kalinya.


"Mama sih nggak marah ya. Tapi apa kamu yakin bisa membagi waktumu antara pekerjaan dan keluargamu? Kalau mama berharapnya kamu jadi istri dan ibu rumah tangga yang baik itu sudah cukup," ujar Soraya dan tersenyum tipis ke arah Alina.


"Tuhkan, kenapa sih semuanya nggak bolehin aku bekerja lagi? Bahkan mama juga gitu," Batin Alina bergemuruh.


"Selama suami kamu mengizinkan, mama akan terus dukung kamu sayang. Apa ini alasan kamu untuk menitipkan Barra di sini setiap hari? Mama sangat senang jika Barra bisa bermain dengan mama setiap hari," ujar Soraya senang. Ia mencubit gemas pipi Barra.


Alina sebelumnya sudah begitu yakin dengan keputusannya untuk kembali bekerja. Namun hari ini ia terlihat sedikit ragu. Bagaimana jika dirinya nanti tidak bisa menjalankan tugas utamanya sebagai istri dan ibu dari dua putranya itu. Ia akan sangat merasa bersalah terhadap keluarganya. Namun jika ia kembali mengurungkan niatnya, ia akan semakin terbebani.


Setelah sedikit mencurahkan isi hatinya kepada mamanya, Alina kini semakin yakin bisa melakukan peran tersebut. Dukungan penuh dari mamanya dan suaminya adalah kekuatan terbesar baginya. Tidak salahkan jika Alina ingin mencobanya.


Alina meninggalkan Barra di rumah Soraya. Namun saat ia ingin pergi, Barra terus menangis dan tidak ingin melepaskan pelukannya dari Alina. Ia harus ekstra bersabar untuk menenangkan Barra.


"Sama nenek dulu ya sayang. Mommy janji nanti ke sini lagi untuk jemput Barra ya," ucap Alina berusaha membujuk Barra.


"Tidak mau mommy, Balla ingin telus tama mommy," rengek Barra yang semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan Soraya hanya menjadi penonton saja. Sesekali ia tersenyum melihat Alina yang berusaha memberikan pengertian kepada anaknya.


"Ma, tolong Alina," ujar Alina yang tidak tahu lagi harus berbuat apa agar putranya ini bisa ditinggal di sini.


"Kamu bawa saja dulu. Pelan-pelan kamu memberikan pengertian terhadapnya," jawab Soraya dengan santai.


Alina menghela napasnya sejenak. Ini salahnya juga yang sedari kecil tidak membiasakan Barra dijaga oleh orang lain selain dirinya. Andai jika Barra diasuh oleh babysitter sedari kecil pasti ini akan mudah untuknya.


Akhirnya hari ini Alina memutuskan untuk membawa Barra dengannya. Karena Barra masih kekeh tidak mau ditinggal olehnya.


"Ya sudah, Alina berangkat dulu ya Ma. Maaf sudah ngrepotin mama," pamit Alina yang kini membawa serta Barra ke restorannya.

__ADS_1


"Tidak sayang. Mama justru senang jika Alina sering datang ke sini dan meminta bantuan mama," ujar Soraya sambil mengusap kepala Alina.


Sekali lagi, ia mencoba untuk membujuk Barra agar mau dijaga oleh Soraya. Namun Barra malah menangis kencang dan mengeratkan pelukannya. Soraya hanya tersenyum dan mencium kening cucunya itu. Tak mudah memang membujuk anak kecil agar menurut apa yang mereka mau.


Alina menuju restorannya. Kali ini ia harus bekerja dobel. Mengawasi Barra dan restorannya. Namun ia tak patah semangat. Ini sudah keputusannya. Apapun resikonya ia berusaha untuk menyelesaikannya dengan baik.


Kedatangannya disambut oleh karyawannya. Mereka sangat senang dengan kembalinya Alina mengelola restoran ini kembali. Alina sangat ramah dan perhatian kepada karyawannya. Itu sebabnya mereka betah untuk bekerja di sini.


"Selamat datang kembali bu Alina," sambut para karyawan yang sudah berjejer di depan dengan rapi. Alina bahkan tak menyangka jika akan disambut seperti ini.


"Terima kasih semuanya. Kalian tidak perlu menyambutku seperti itu," ucap Alina yang merasa sungkan dengan perlakuan dari karyawannya ini.


"Tidak bu, kami sangat senang mendengar kabar jika bu Alina kembali ke restoran lagi. Itu sebabnya sebagai rasa hormat kami hanya ini yang bisa kami lakukan," ucap salah satu karyawan. Alina tersenyum tipis dan mengangguk. Harusnya tidak perlu seheboh ini, ia bisa bekerja lagi di sini itu sudah cukup.


Alina mulai memasuki ruangannya. Dan tentunya dengan setia ia masih menggendong Barra. Sejak kejadian tadi di rumah orang tuanya, Barra terlihat lebih murung dan pendiam. Ia bahkan tidak suka jika ada orang asing yang berusaha mendekat padanya.


"Sayang, turun yuk. Main di sana dulu. Mommy harus bekerja sayang," ucap Alina berusaha membujuk Barra.


Tak banyak yang bisa ia kerjakan di sini. Karena ini yang pertama kalinya ia bekerja lagi, ia hanya fokus pada Barra agar bisa lepas sejenak darinya. Dan semua itu tidak mudah.


"Ran, bawa beberapa makanan ke ruanganku sekarang ya," ucap Alina kepada Rani. Mungkin dengan adanya beberapa makanan perhatian Barra sedikit teralihkan.


Rani membawakan benerapa makanan yang diminta Alina. Ia menatanya di meja. Rani membungkuk hormat dan keluar ruangannya.


"Dek, mau makan ini nggak?" ucap Alina sambil menunjuk udang goreng yang ada dihadapannya. Barra mengangguk dan alhasil Barra turun dari gendongan Alina.


Barra mulai mengambil sendiri udang goreng yang ada dipiring. Ia memakannya melahap. Meskipun belepotan tapi itu menggemaskan. Udang goreng memang kesukaan Barra. Alina bernapas lega karena Barra akhirnya bisa lepas sejenak dari gendongannya.


Ada beberapa makanan yang tersaji di mejanya. Tentunya itu makanan kesukaan anaknya itu. Setelah Barra mulai fokus dengan makanannya, ia mulai bisa bekerja. Tetapi tetap saja ia harus sering mengawasi Barra.

__ADS_1


"Mommy, tini" ucap Barra sambil mengayunkan tangannya memanggil Alina.


"Iya sayang?" jawab Alina sambil mendekati Barra.


"Nih, aaaa..." ujar Barra sambil memberikan satu udang goreng ke Alina. Barra ingin menyuapi mommy nya.


Alina tertawa kecil. Ia menerima suapan dari putra kecilnya itu. Kemudian menciumi pipi Barra dengan gemas.


Barra sudah teralihkan dunianya. Kini Alina kembali fokus dengan pekerjaannya. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Waktunya jam makan siang. Alina menghentikan pekerjaannya sejenak. Dilihatnya Barra sudah mulai mengantuk. Ia menidurkan Barra terlebih dahulu.


Klek


"Mommy..." Teriak Zidan yang baru saja memasuki ruangan Alina. Ia berlari ke arah Alina yang sedang menidurkan Barra.


"Ssstt..." ucap Alina sambil mengarahkan telunjuknya di depan bibir Alina. Zidan segera menutup mulutnya dengan tangannya. Zidan mengendap ke arah Alina dan mencium tangannya.


"Ke sini sama siapa sayang?" tanya Alina. Zidan duduk di sofa dan meletakkan tasnya.


"Sama papa," jawab Zidan.


"Kok nggak pulang ke rumah saja?" tanya Alina lagi. Ia yakin Zidan dan Arvin langsung ke restorannya tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu. Zidan hanya mengangkat bahunya. Ia hanya menurut pada papanya.


"Hai sayang, bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Arvin yang baru memasuki ruangannya.


"Loh? Barra gak jadi dititipkan sama mama?" tanya Arvin sambil berjalan mendekati Alina. Ia mencium kening Alina dan mengelus pipi putranya.


"Tadi Barra rewel mas. Jadinya aku ajak ke sini. Nggak apa-apa kan?" tanya Alina pelan. Arvin tersenyum dan mengangguk.


"Kamu juga jangan terlalu capek," ucap Arvin.

__ADS_1


Alina mengangguk. Arvin duduk di samping Zidan dan sedikit bergurau dengannya. Alina lega ternyata suaminya begitu pengertian padanya.


__ADS_2