Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 53 (season 2)


__ADS_3

Dua hari kemudian


Semua berjalan dengan baik. Tidak ada masalah lagi dalam hubungan Zara. Saat ini, Zara juga sudah kembali bekerja di perusahaan Zidan. Zara lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Zidan dan menemaninya menemui beberapa kliennya.


Saat ini sudah memasuki jam makan siang. Zidan masih ada meeting penting dengan dewan direksi. Zara hanya menunggunya di ruangan Zidan. Sambil menunggu Zidan selesai, Zara belajar untuk menyusun laporan sesuai yang sudah Aletta ajarkan padanya.


Zara melirik jam yang menempel di dinding. Ini bahkan sudah pukul 12.30 siang. Harusnya Zidan sudah kembali setengah jam yang lalu. Zara berjalan mondar-mandir menunggu Zidan kembali.


"Fan, kamu boleh pergi sekarang. Ingat, jangan ganggu aku kalau aku sedang bersama Zara," ucap Zidan tepat berada di depan pintu ruangannya. Fanny mengangguk paham.


"Tolong kamu tangani pekerjaan hari ini," ucap Zidan lagi.


"Baik tuan muda. Masih ada lagi?" ucap Fanny sebelum pergi meninggalkan Zidan. Zidan menggeleng pelan. Ia masuk ke dalam ruangannya.


"Sayang, apa kamu sangat merindukanku?" ucap Zidan. Ia menghampiri Zara dan memeluknya dari belakang. Zidan mencium rambut Zara sekilas.


"Tentu saja aku rindu. Ayo makan siang dulu, aku sudah memasak menu spesial hari ini," balas Zara.


"Bagaimana kalau aku memakanmu terlebih dulu?" bisik Zidan dan tersenyum jail.


Zara melirik Zidan dengan tajam. Namun pipinya tanpa ia sadari merah merona.


"Jangan harap!" jawab Zara. Ia berbalik dan mencubit perut Zidan. Zidan mengaduh kesakitan. Ia mengusap perutnya berulang kali. Zara berjalan menuju sofa dan mulai menyajikan makanan yang ia bawa tadi.


"Galak banget sih. Untung sayang," gumam Zidan senang. Ia duduk di samping Zara.


Zidan masih menatap Zara dengan tatapan penuh arti. Bahkan tatapan itu tak lepas dari Zara hingga Zara merasa salah tingkah. Zidan tersenyum lebar melihat Zara yang malu-malu seperti itu. Ia memeluk Zara dengan gemas lalu mencium pipi Zara sekilas.


"Zidan, jangan menggodaku lagi. Ayo cepat habiskan makananmu," ucap Zara tegas.


"Oke," jawab Zidan. Ia melepas pelukannya. Mereka mulai untuk makan.


"Mmm... Sayang," ucap Zara pelan. Zidan menghentikan makannya dan menatap Zara.


"Ada apa?" balas Zidan.


"Kalau misalnya aku pulang ke panti untuk sementara bagaimana? Aku sudah lama tidak jenguk mereka sejak kita kembali," ucap Zara. Ia menatap Zidan dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Yah, bakal jarang ketemu dong. Memangnya berapa hari kamu tinggal di sana?" tanya Zidan.


"Mungkin sampai liburan ini selesai," ucap Zara.


"Apa? Lama banget! Nggak mau! Aku hanya mengizinkanmu menginap selama tiga hari," balas Zidan cepat. Zara menghela napasnya sejenak.


"Aku merasa bosan kalau tidak ada kegiatan di sini. Lagipula setelah bekerja, aku juga free. Nggak ada kegiatan lainnya. Nggak ada teman untuk mengobrol, bergurau. Kalau aku di panti, kan seru ada banyak teman," tutur Zara.


Apa yang dikatakan Zara ada benarnya juga. Namun jika selama liburan Zara pulang ke panti, pasti akan sulit baginya untuk menemui Zara.


"Kenapa nggak tinggal di rumah saja?" tanya Zidan.


"Rumah siapa? Jangan bercanda!" balas Zara.


"Rumah mommylah, siapa lagi? Di sana ramai kok. Ada Alisya jugakan? Kamu pasti nggak bakal kesepian," ucap Zidan.


"Mana boleh seperti itu?" jawab Zara. Ia melanjutkan makannya.


"Tenang saja, biar aku yang urus semuanya," ucap Zidan. Ia tersenyum tipis.


Kini Zidan dan Zara sudah selesai makan. Zara membersihkan bekas makan tersebut. Setelah itu, mereka kembali membahas masalah tadi.


Tanpa mereka sadari, ternyata sudah waktunya jam pulang. Zidan dan Zara masih betah berduaan. Zidan menyandarkan kepalanya di pangkuan Zara. Sedangkan Zara mengusap-usap rambut Zidan dengan gemas.


"Nanti mau mampir dulu ke rumah mommy gak?" tanya Zidan. Zara terdiam sejenak. Memang dia belum ke rumah lagi semenjak tahu Zidan adalah putra dari Alina dan Arvin. Sekarang, Zara merasa canggung jika bertemu mereka lagi.


"Boleh sih. Memangnya kamu juga ikut?" tanya Zara kembali.


"Iya, aku mau memberitahu mereka perihal hubungan kita," jawab Zidan santai.


"Tapi..." ucap Zara menggantung.


"Tidak perlu khawatir. Mommy sangat suka sama kamu. Jika aku tidak memberitahu mereka sekarang, nanti ada yang salah paham," ucap Zidan. Ia menatap Zara dan meraih tangan Zara. Zidan mencium telapak tangan Zara.


"Maksudnya?" tanya Zara bingung. Zidan menghela napasnya sejenak.


"Bukan apa-apa. Ayo siap-siap ke rumah mommy," ujar Zidan. Ia beranjak duduk dan membenarkan jasnya. Zidan membawa Zara ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


***


Saat ini, Zidan dan Zara sudah sampai di kediaman orang tuanya. Mereka mulai masuk ke rumah diikuti dengan Fanny yang berada di belakang mereka. Zara merasa canggung berkunjung ke rumah itu apalagi bersama dengan Zidan.


"Sudah, ayo. Kenapa takut sekali?" ucap Zidan. Dirinya tertawa kecil. Zidan merangkul bahu Zara dan menemui orang tuanya.


"Pa," sapa Zidan saat baru masuk dan langsung melihat Arvin yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


"Zidan, kamu akhirnya menjenguk kami," ucap Arvin. Arvin segera berdiri dan memeluk Zidan. Begitu juga Zidan, ia memeluk Arvin dengan erat.


"Yang lain ke mana Pa?" tanya Zidan setelah melepas pelukannya. Arvin menyambut Fanny juga. Lalu Zidan dan Zara duduk di sofa. Sedangkan Fanny hanya berdiri di samping tempat duduk Zidan.


"Ada, mungkin mommy mu lagi di dapur," jawab Arvin. Arvin menatap Zidan dan Zara secara bergantian.


"Kaliaaan berduaaa.." ucap Arvin menggantung. Padahal sebenarnya Arvin sudah tahu hubungan mereka.


Zara menundukkan wajahnya. Ia sedikit meremas ujung bajunya. Zara takut jika Arvin tiba-tiba tidak suka padanya.


"Kami berdua resmi pacaran Pa. Bahkan sebelum Zara datang ke sini," balas Zidan. Arvin tersenyum tipis.


Alisya dan Raffa baru datang entah dari mana. Mereka langsung menuju ruang tengah dan menaruh beberapa kantung yang berisi makanan ke atas meja.


"Kak Zara," ucap Alisya senang. Dirinya menghampiri Zara dan memeluknya. Zara membalas pelukan tersebut dan tersenyum tipis. Sedangkan Raffa duduk di samping Arvin.


Alisya duduk di samping Zara. Tetapi seketika Alisya menatap Zidan dan Zara secara bergantian.


"Ehem, sepertinya ada yang baru jadian nih," celetuk Alisya. Zidan mengacak rambut Alisya dengan kasar. Membuat Alisya memanyunkan bibirnya.


Zidan memeluk Zara dengan posesif. Zara terkejut, bahkan di depan keluarganya Zidan berani melakukan hal itu. Zara melirik Zidan agar melepas pelukannya.


"Waah, ini beneran? bang Zidan sama kak Zara jadian?" tanya Alisya merasa tak percaya. Zara mengangguk dengan malu-malu. Alisya memeluk Zara kembali dengan senang.


"Kak, pokoknya kak Zara sering-sering ke sini ya. Temani Alisya, oke?" ujar Alisya senang.


"Tidak boleh! Zara hanya boleh bersamaku!" ucap Zidan posesif. Zara hanya tersenyum canggung. Sedangkan Alisya memanyunkan bibirnya.


Alina datang ke ruang tengah. Tak lupa, Zidan dan Zara saling menjabat tangan Alina dan mencium punggung tangannya. Zara dan Zidan memeluk Alina secara bergantian. Alina senang, akhirnya Zidan memperkenalkan wanita yang ia cintai ke keluarganya. Setelah berbincang sedikit, mereka makan malam bersama. Hanya satu yang kurang, yaitu kehadiran Barra. Barra masih sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2