
"Zara, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Raffa khawatir.
"Bisakah kita hari ini izin saja? Aku merasa pusing," ucap Zara. Raffa berpikir sejenak. Kemudian ia mengangguk dan membawa Zara menuju mobilnya.
Kini mereka sudah berada dalam satu mobil. Raffa menatap Zara sekilas. Ia ingin menanyakan apa saja yang mereka bicarakan tadi. Tetapi, ia mengurungkan niatnya. Raffa tak ada hak untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan waktu di taman. Raffa melajukan mobilnya hingga ke rumah.
"Raffa, aku ingin ke kantor Zidan sebentar," ucap Zara. Raffa mengangguk dan memutar arah menuju kantor Zidan. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di kantor. Zara meminta agar Raffa kembali saja. Jika ingin kembali ke kampus, dirinya juga tidak masalah. Selepas Zara mengucapkan terima kasih pada Raffa karena sudah mengantarnya, Raffa kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Mau kembali ke kampus juga naggung, pasti dirinya akan telat saat tiba di sana.
Zara mulai memasuki kantor suaminya sendirian. Pikirannya sedikit terusik, ia hanya ingin menemui suaminya dan berbagi cerita dengannya.
Sesampainya di dalam ruangan Zidan, Zara langsung menghampiri Zidan dan memeluknya. Ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Zidan. Untungnya para karyawannya tadi sudah meninggalkan ruangannya beberapa menit yang lalu. Zidan mengusap rambut Zara dan menciumnya sekilas.
"Sudah pulang dari kampus? Kok tumben ke sini sendiri," ucap Zidan dengan lembut.
"Aku izin tadi, aku merasa tidak enak badan," balas Zara.
"Kamu sakit? Aku akan suruh Fanny untuk menghubungi Jack ya. Kamu istirahat di sini dulu," ucap Zidan dengan panik. Namun Zara menggeleng pelan. Ia menarik Zidan duduk di sofa. Zara mulai bercerita dengan apa yang ia alami tadi waktu di kampusnya. Zidan mengernyitkan dahinya. Selama ini ia menyelidiki Zara tetapi tidak menemukan petunjuk apapun. Tetapi hari ini tiba-tiba ada yang mengaku sebagai ibunya. Itu membuat Zidan sedikit khawatir. Ia takut jika ini dimanfaatkan oleh beberapa orang yang ingin menyakiti Zara.
"Sayang, biar aku pastikan dulu siapa wanita itu ya. Untuk sementara kamu jaga jarak darinya. Aku takut jika mereka akan menyakitimu dan bayi kita," ucap Zidan. Ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Fanny. Ia menyuruh Fanny untuk menyelidiki latar belakang Diana sesuai yang diarahkan oleh Zara.
"Tapi anehnya aku seperti mengenal beliau. Aku merasa dekat dengannya," sambung Zara.
__ADS_1
"Tidak bisa! Tetap dipastikan dulu. Kamu tidak boleh pergi sendirian ya. Kalau di kampus harus sama Raffa terus," ujar Zidan. Zara tersenyum dan mengangguk pelan. Zidan memeluk dan mencium kening Zara dengan lembut.
***
Hari-hari berlalu. Beberapa hari terakhir ini juga Diana sering menemui Zara. Namun Zara berusaha untuk menghindar karena ia takut jika ada niat buruk dibalik ini. Zara juga jarang keluar kampus jika waktunya jam istirahat untuk menghindari pertemuannya dengan Diana.
Saat ini, Diana dalam perjalanan untuk memberitahu Zara bahwa ia adalah putri kandungnya yang selama ini hilang. Beberapa waktu lalu, Ochie telah menyelidiki dan mengetes kecocokan DNA mereka. Itu membuat Diana senang, penantiannya selama ini akhirnya membuahkan hasil.
"Chie, bagaimana jika dia membenciku karena berpikir aku telah menelantarkannya?" tanya Diana yang gugup dan gelisah. Ia duduk di jok belakang Ochie yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Nyonya hanya tinggal ceritakan bagaimana kejadiannya dulu. Nyonya tidak perlu khawatir," balas Ochie.
Diana terus memandangi surat hasil tes DNA itu. Ia tak sabar ingin segera memeluk putrinya. Mencurahkan segala kerinduannya selama ini.
Tanpa terasa, mobil mereka sudah sampai di dekat kampus. Ochie keluar dari mobil tersebut dan segera mencari keberadaan Zara. Sedangkan Diana menunggu mereka di dalam mobil. Tanpa ia sadari, Diana meneteskan air matanya. Bahkan suaminya sendiri belum mengetahui kebenaran ini. Ia berniat memberikan kejutan untuk suaminya nanti jika Zara berhasil ia yakinkan dan bersedia ikut pulang bersamanya.
Ochie mencari-cari di mana kelas Zara berada. Ia bertanya ke sejumlah mahasiswa dan ternyata tak banyak yang mengenal Zara. Itu membuat Ochie kesulitan untuk menemukan di mana kelas Zara saat ini.
"Aku harus menemukan nona segera," batin Ochie.
Tak lama setelah itu, akhirnya ia menemukan kelas di mana Zara belajar. Untungnya Zara saat ini berada di luar kelas. Memudahkannya untuk menemukan Zara.
__ADS_1
"Nona, ikutlah bersama saya sebentar. Ada sesuatu hal penting yang ingin nyonya kami bahas dengan Anda," ucap Ochie dengan ramah. Teman-teman Zara seketika berbisik untuk membicarakan Zara.
Zara langsung berdiri saat melihat Ochie yang langsung menemuinya di kampus. Zara meremas jemarinya karena bingung harus menjawab apa.
"Bisakah Anda mengatakannya sekarang?" tanya Zara. Jika itu memang hal penting, Zara juga tidak ingin ikut dengan Ochie. Karena suaminya telah melarangnya untuk bertemu mereka.
"Tidak bisa nona, ini menyangkut hal pribadi," ucap Ochie kembali. Dengan berbagai cara Ochie lakukan agar Zara mau ikut dengannya sebentar. Dan akhirnya Zara pun mengikuti Ochie dengan ditemani oleh Raffa.
Sesampainya di tempat Diana berada, Zara hanya terdiam sambil memandangi Diana yang keluar mobil. Zara penasaran, apa yang akan dikatakan oleh Diana padanya. Diana langsung memeluk Zara seperti yang ia lakukan saat baru pertama bertemu. Zara hanya diam tanpa membalas pelukan tersebut.
"Sayang, coba kamu lihat ini," ucap Diana. Ia menyerahkan selembar kertas itu. Awalnya Zara menatap Diana bingung, tetapi setelah membaca isi kertas tersebut, Zara langsung membelalakkan matanya lebar-lebar. Dadanya berdenyut nyeri saat mengetahui isi dari selembar kertas itu. Zara memandangi Diana dan kertas tersebut secara bergantian.
"Tidak, Anda bukan ibu saya," ucap Zara. Ia mendorong Diana hingga Diana hampir terjatuh. Napasnya terengah, Zara merasa sesak di dalam dadanya. Air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja.
"Kamu adalah Ziva, putri kandungku. Percayalah sayang. Aku adalah ibu kandungmu," ucap Diana sambil menangis.
"Tidaaakkk!! Aku tidak punya ibu sepertimu! Kamu bohongkan?" teriak Zara. Raffa segera menghampiri Zara. Zara langsung memeluk Raffa dan itu membuat Raffa terkejut.
"Raffa, tolong bawa aku pergi dari sini. Mereka mencoba membohongiku. Aku memang tidak tahu siapa orang tuaku, tetapi aku tidak mengizinkan mereka untuk mengaku sebagai orang tuaku," ucap Zara. Raffa mengusap punggung Zara pelan agar Zara berhenti menangis.
"Aku tidak berbohong, itu adalah bukti asli. Aku adalah ibu kandungmu sayang," ujar Diana pilu. Kenyataan yang telah ia bayangkan waktu di perjalanan tadi bukanlah yang seperti ini. Ia sedih jika Zara tidak mau mengakuinya sebagai orang tuanya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Maaf, mungkin bisa kita bicarakan lain waktu. Permisi," ucap Raffa. Ia langsung membawa Zara pergi.