Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 97 (season 2)


__ADS_3

Di dalam ruangan operasi, dokter berusaha yang terbaik untuk Zara dan janin yang ada dalam kandungannya. Di dalam ruangan itu terasa hening. Zara masih belum tersadar. Hanya terdengar suara alat yang terpasang pada tubuh Zara.


"Bagaimana dok?" tanya suster yang membantu dokter itu menangani Zara. Dokter tersebut menggelengkan kepalanya pelan. Ia menyuruh suster untuk menyiapkan operasi. Sedangkan dokter tersebut keluar untuk memberikan kabar pada keluarga Zara.


"Keluarga pasien?" ucap dokter tersebut. Diana dan Anton segera mendekat ke arah dokter itu.


"Begini pak, kami harus segera melakukan tindakan operasi secepatnya. Benturan yang terjadi pada pasien cukup keras. Kami sudah berusaha, namun bayi yang ada dalam kandungannya tidak bisa kami selamatkan. Kami butuh persetujuan untuk melakukan tindakan ini," ucap dokter tersebut.


Diana seketika terduduk lemas di lantai. Tatapannya kosong. Ia berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan dokter itu. Anton berusaha menenangkan istrinya meski dirinya sendiri sedang kalut.


"Dokter pasti bohongkan? Tidak mungkin cucuku tiada," ucap Diana histeris. Namun itu adalah kenyataannya. Bayi yang ada dalam kandungan Zara tidak bisa diselamatkan.


Zidan berlari menuju ruangan itu setelah ia berlari hampir mengelilingi seluruh ruangan rumah sakit itu. Karena panik, Zidan tidak terpikir untuk menghubungi Anton.


"Ma, Pa, apa yang terjadi?" tanya Zidan saat melihat kondisi mama mertuanya dalam keadaan kacau.


"Maafkan mama, mama tidak bisa menjaga Zara dengan baik dan membuat Zara keguguran," ucap Diana sambil menatap Zidan. Anton membantu Diana untuk bangun dan duduk di kursi tunggu.


Zidan masih terdiam mematung. Air matanya menetes, dadanya terasa sesak. Baru dua hari ia berpisah dengan istrinya. Dan kini sesuatu telah terjadi pada istrinya.


"Ma, katakan jika ini tidak benar, anakku pasti baik-baik saja," ucap Zidan dan menatap Diana dengan lekat. Diana semakin terisak. Diana berharap ini hanya mimpi saja, namun nyatanya tidak.


Anton menghampiri Zidan. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Mau bagaimanapun juga, musibah ini telah terjadi. Anton juga merasa bersalah karena tidak memperketat keamanan Zara.

__ADS_1


"Semuanya sudah terjadi. Dokter bilang Zara harus segera melakukan tindakan operasi, karena jika ditunda justru membahayakan kondisi Zara," ucap Anton.


"Ini yang kamu sebut sebagai melindungi? Ayah macam apa kau ini! Menjaga putrimu sendiri kamu tidak bisa!" ucap Zidan berteriak. Ia hendak memukul Anton namun tangannya terhenti tepat di depan wajah Anton. Zidan mencengkram tangannya sendiri dengan kuat.


"Semuanya merasa sedih akan hal ini. Tapi jangan lupa, Zara segera butuh pertolongan. Kita bisa menyelesaikan kesalah pahaman ini nanti," ucap Anton.


"Bagaimana aku bisa tenang? Anakku telah tiada, bagaimana aku bisa menghadapi kenyataan ini, hah!" teriak Zidan semakin menjadi. Ia pikir, Zara akan aman tinggal di rumah Anton. Namun kenyataannya di luar apa yang ia pikirkan.


"Maaf, pasien harus segera ditangani. Siapa suami dari wanita itu?" ucap dokter memecah ketegangan.


Zidan berjalan dengan gontai menghampiri dokter tersebut. Ia berucap pasrah apapun yang terbaik buat Zara dan bayinya.


"Saya suaminya dok, lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka," ucap Zidan penuh harap. Air matanya terus mengalir.


"Aku bilang selamatkan mereka berdua! Apa kau tidak mendengarnya? Mereka harus selamat, apa kau mengerti! Jika kau tidak mampu menjadi seorang dokter, aku akan carikan dokter yang lebih hebat untuk menyelamatkannya!" ucap Zidan dengan penuh penekanan. Ia belum bisa menerima kenyataan ini.


Fanny menghampiri Zidan. Ia mencoba menenangkan Zidan. Namun Zidan tetap mengacau dan tidak bisa menerima kenyataan ini. Dokter tersebut segera masuk ke dalam ruangan operasi kembali setelah mendapat persetujuan dari Anton. Ia akan berusaha yang terbaik agar Zara baik-baik saja.


Zidan menyandarkan tubuhnya di dinding. Pikirannya kacau. Ia menghela napasnya beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Istrinya masih berada di ruangan itu. Beberapa jam berlalu namun dokter tak kunjung memberikan kabar lagi.


Zidan mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi Arvin untuk memberitahukan kabar duka ini. Arvin sangat terkejut dengan kabar tersebut. Namun ia berusaha untuk tidak panik. Arvin segera pulang dan memberitahukan istrinya tentang hal ini.


Diana tak hentinya menangis. Hatinya hancur saat ini. Di rumahnya sendiri, ia menyaksikan Zara yang tak berdaya. Kejadian siang tadi membekas dipikirannya hingga saat ini. Diana merasa bersalah akibat kelalaiannya. Ia bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tadi. Anton yang setia menemani Diana di sampingnya juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


"Jangan menangis terus sayang, ini bukan kesalahanmu," ucap Anton lirih. Namun Diana belum bisa berhenti menangis.


Tak lama setelah itu, dokter keluar. Perawat membawa Zara ke ruang perawatan. Operasi tadi berjalan lancar. Namun untuk saat ini keadaan Zara belum baik-baik saja. Zidan dan yang lainnya segera menuju ke ruangan Zara.


Zidan duduk di samping Zara. Ia menggenggam tangan Zara yang masih lemah tak berdaya.


"Maaf, jika aku tahu akan kehilangan bayi kita. Aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke rumah itu," batin Zidan.


Diana dan yang lainnya berdiri tak jauh dari ranjang Zara. Mereka sengaja memberikan waktu untuk Zidan. Semua ini memang berat bagi mereka. Apalagi ini terjadi secara tiba-tiba dan tanpa terduga.


Tak lama setelah itu, Arvin dan Alina datang dengan tergesa. Sejak mengetahui kabar dari menantunya itu membuat mereka tak tenang. Diana memeluk Alina dengan erat. Mereka menumpahkan kesedihan mereka dalam pelukan itu.


Anton membawa mereka untuk duduk di sofa yang sudah disediakan. Suasana masih hening. Mereka masih memperhatikan Zidan dan Zara.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Alina memecah keheningan.


"Aku tidak tahu, saat itu aku berada di dapur. Kami baru pulang dari belanja. Zara merasa lelah dan ingin cepat istirahat. Saat hampir sampai di lantai atas, Zara tergelincir dan terjatuh," ucap Diana sambil menangis dengan pilu.


Anton terdiam sejenak. Dua hari ini Zara baik-baik saja dan hari ini tiba-tiba terjadi musibah ini. Anton merasa janggal dengan kejadian tersebut, namun ia memilih untuk diam dan akan menyelidiki penyebab kejadian hari ini.


Alina menghampiri Zidan. Ia mengusap pelan bahu Zidan. Zidan sedikit terkejut dengan kedatangan Alina. Zidan berdiri dan langsung memeluk Alina. Ia menangis dalam pelukan Alina.


"Sabar sayang... Kamu harus kuat," ucap Alina. Ia terus mengusap punggung Zidan dengan lembut. Zidan melepas pelukannya. Apa yang dikatakan Alina memang benar. Ia tidak boleh lemah. Ia harus menjadi sumber kekuatan untuk Zara ketika Zara tersadar nanti. Zidan menatap Zara yang masih terbaring lemah. Bagaimana jika nanti Zara tersadar dan mengetahui telah kehilangan bayinya? Membayangkan saja Zidan tak mampu.

__ADS_1


__ADS_2