
"Syifa mencelakai Zara? Tapi kenapa mas, Zara tidak pernah mengusik Syifa," ucap Diana lirih.
Anton ikut duduk di depan Diana. Ia mencoba menenangkan istrinya. Itu adalah kenyataannya dan tidak bisa terbantahkan. Syifa seperti gadis liar yang terobsesi dengan harta kekayaan yang mereka miliki. Syifa tidak akan terima jika ada yang ingin mengusiknya.
"Itulah kenyataannya sayang. Jangan menangis lagi," ucap Anton dan ia mengecup kening Diana dengan lembut. Diana tidak menyangka bahwa Syifa tega melakukannya. Dan itu semakin membuatnya merasa bersalah.
Anton meminta agar semua dirahasiakan dari semua orang termasuk Zidan dan Zara. Biarlah mereka menganggap bahwa itu adalah murni dari kecelakaan akibat Zara kurang berhati-hati.
***
Hari-hari berlalu. Kini sudah lima hari Zara dirawat di rumah sakit. Namun belum ada tanda-tanda Zara untuk tersadar kembali. Padahal keadaan Zara semakin membaik setiap harinya.
Zidan masih setia menunggu Zara. Ia bahkan sampai menyerahkan urusan kantornya pada Fanny. Untuk sementara, Zidan tidak ingin terganggu dengan masalah lainnya. Ia ingin fokus pada kesembuhan Zara dulu. Sejak Zara masuk ke rumah sakit, Zidan pun juga belum pulang ke rumah untuk sekedar mengistirahatkan dirinya. Zidan terlalu keras kepala dan ia ingin tetap berada di samping Zara.
Pagi ini, dokter kembali memeriksa Zara seperti biasanya. Mereka memeriksa mulai dari tekanan darah, infus dan selang yang terpasang pada hidung Zara untuk menopang makanannya.
"Bagaimana dok? Kenapa istri saya belum sadar juga?" tanya Zidan yang tengah berdiri di samping Zara. Dokter juga heran kenapa Zara belum juga membuka matanya. Padahal kondisinya juga semakin membaik dan harusnya dia sudah membuka matanya kembali.
"Kita sabar dulu ya pak," jawab dokter tersebut. Mereka masih mengamati Zara.
Perlahan, jemari Zara mulai bergerak. Zidan yang panik bercampur senang ingin segera memegang tangan Zara dan mencoba untuk membangunkannya. Namun dokter langsung menahan Zidan dan menggeleng pelan.
"Biarkan dulu, kita tunggu sampai bu Zara membuka matanya," ucap dokter tersebut. Zidan mengangguk pelan dan kembali menatap Zara dengan intens.
__ADS_1
Perlahan, Zara mulai menggerakkan kepalanya. Ia mulai membuka matanya setelah sekian hari tak sadarkan diri. Pertama kali yang ia lihat adalah suaminya. Zidan tersenyum lebar kala melihat Zara yang sedang menatapnya.
"Sayang," ucap Zidan. Zidan segera duduk di kursi samping ranjang Zara.
"Kita, di mana?" tanya Zara pelan.
"Selamat pagi bu Zara, saya adalah dokter pribadi Anda. Bu Zara sedang dirawat di rumah sakit. Mohon maaf, saya periksa sebentar ya bu," ucap dokter tersebut. Zara mengangguk meskipun dirinya masih linglung.
Setelah memeriksa dan memastikan Zara baik-baik saja, dokter memberikan perintah kepada perawat untuk segera melepas alat bantu di tubuh Zara, termasuk selang yang terpasang di hidungnya yang digunakan untuk memberikan asupan makanan.
Dokter membawa Zidan ke ruangannya sembari menunggu Zara dilepas alat bantunya. Saat ini, Zidan dan dokter cantik itu berada dalam satu ruangan.
"Begini pak, untuk sementara biarkan bu Zara dirawat di sini selama beberapa hari ke depan untuk memastikannya lagi. Saya hanya takut jika bu Zara tidak siap menerima kenyataan bahwa dia telah kehilangan bayinya," ucap dokter tersebut.
"Sayang, bagaimana keadaan kamu?" tanya Zidan mendekat ke arah Zara. Zara sudah menangis sambil bersandar di ranjangnya. Zidan langsung menghampiri Zara dan memeluknya.
"Zidan, katakan padaku di mana bayi kita?" tanya Zara yang masih berada dalam dekapan Zidan. Zidan mencium puncak kepala Zara berulang kali.
"Sayang, kamu tenanglah. Karena benturan yang terjadi terlalu keras, bayi kita tidak bisa bertahan dan meninggal," ucap Zidan. Sebenarnya ia tak kuasa memberitahukan hal ini pada istrinya, namun cepat atau lambat Zara harus mengetahuinya juga.
"Tidak, kamu pasti bohong sama aku kan?" ucap Zara sambil meronta dan memukul-mukul lengan Zidan. Zidan mendekatkan keningnya dan kening Zara. Ia mengusap lembut pipi Zara.
"Sayang, ini semua benar. Kita memang sudah kehilangan bayi kita," ucap Zidan dengan pilu. Zara semakin terisak. Ia sudah lalai menjaga anaknya sendiri.
__ADS_1
"Ini semua salahku Zidan. Aku tidak bisa menjaga anak kita. Aku bukan ibu yang baik," ucap Zara. Ia menangis merasa bersalah.
Zidan kembali merengkuh Zara dan mengecup keningnya. Ia berusaha membuat Zara agar tidak bersedih dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.
"Istirahatlah, kamu baru sadar. Kamu juga baru menjalani operasi. Kata dokter tidak boleh banyak bergerak dulu. Aku akan menghubungi papa dan mommy dan memberitahu mereka kalau kamu sudah sadar," ucap Zidan dengan lembut. Ia merebahkan Zara di ranjang dan menyelimutinya.
"Jangan kabari mereka dulu. Aku belum siap bertemu mereka," ucap Zara. Ia memalingkan tubuhnya membelakangi Zidan. Zidan mengusap kepala Zara dan mengecupnya sekilas.
"Baiklah, aku akan menemanimu di sini," balas Zidan. Ia duduk di kursi samping ranjang Zara sambil memperhatikan Zara.
Zara memejamkan matanya dan air matanya mengalir begitu saja. Dadanya terasa sesak dan ia semakin terisak dalam diamnya. Zara belum bisa menerima kenyataan bahwa bayinya telah tiada akibat dirinya sendiri.
"Kenapa harus terjadi padaku? Anakkku, putriku... Maafkan mama sayang," batin Zara. Tangannya mencengkram selimutnya dan berusaha agar tidak mengeluarkan suara. Ia tidak ingin Zidan menyadari bahwa ia saat ini menangis.
Zidan tahu jika Zara butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Ia juga tahu jika saat ini Zara diam-diam menangis. Zidan hanya ingin memberikan ruang terhadap Zara agar hatinya lebih tenang dan bisa menerima kenyataan pahit ini. Ingin sekali Zidan merengkuh tubuh istrinya itu dan membiarkan ia menangis dalam pelukannya. Namun ia tidak bisa melakukannya saat ini.
"Sayang, aku akan tetap di sini, di sampingmu. Kita sama-sama kehilangan bayi kita. Kamu jangan memendam sendiri kesedihan itu. Aku suamimu. Kamu bisa bersandar padaku dan menumpahkan kesedihan itu," bisik Zidan. Ia mengecup telinga Zara sekilas. Tubuh Zara semakin bergetar. Ia semakin menangis dalam balik selimutnya.
"Bagaimana bisa aku menghadapimu Zidan... Aku yang telah membuat kita kehilangan bayi itu... Aku tidak bisa menghadapimu untuk saat ini," batin Zara semakin merasakan sakit dalam dadanya.
Suasana dalam ruangan itu hening. Antara Zidan maupun Zara sama-sama diam. Hingga berjam-jam lamanya, Zara masih betah dalam posisinya.
"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri sayang. Itu bukanlah kesalahanmu, itu adalah kecelakaan," batin Zidan yang sedari tadi memperhatikan Zara. Tanpa terduga, Zidan meneteskan air matanya. Ia merasa sedih jika Zara dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1