
Setelah kelas selesai, Zara ingin membicarakan tentang tugas dari bu Nirmala dengan Raffa. Namun Raffa sudah keluar kelas beberapa detik yang lalu. Mau tak mau Zara harus mengejar Raffa.
"Raffa tunggu!" ucap Zara. Ia masih berlari kecil mengejar Raffa. Berharap Raffa menghentikan langkahnya.
"Raffa!!" teriak Zara. Namun Raffa tidak mendengarnya karena ia sedang mendengarkan lagu lewat headphonenya.
Hingga sampailah mereka di parkiran. Raffa ingin membuka pintu mobilnya namun ditahan oleh Zara.
"Tunggu dulu!" ucap Zara. Dirinya terengah-engah karena habis berlari. Zara mengusap-usap dadanya untuk mengatur napasnya.
Raffa yang terkejut langsung melepas headphonenya. Ia menatap Zara.
"Ada apa?" tanya Raffa.
"Kamu sih tadi aku panggil nggak jawab. Capek tahu ngejar sampai parkiran," ucap Zara yang masih berusaha mengatur napasnya.
"Maaf, tadi aku tidak mendengarnya," ucap Raffa. Ia tersenyum tipis ke arah Zara.
"Hah? Dia senyum kan tadi?" batin Zara. Karena selama ini belum pernah sekalipun ia melihat Raffa tersenyum.
"Santai saja. Oh iya, semalam aku sudah mempelajari tugas dari bu Nirmala. Aku sudah punya ide sih buat konsepnya nanti. Bagaimana kalau kita duduk dulu dan berdiskusi sebentar, biar aku sama kamu tahu tugas masing-masing," ucap Zara.
"Kenapa nggak ngechatt saja? Kan aku sudah tulis nomor whattsapku di ponselmu kemarin," jawab Raffa.
"Oh iya, kenapa aku bisa lupa ya. Hehehe..." ucap Zara yang seketika teringat bahwa ia sudah punya nomor whattsap Raffa.
"Tuhkan, gara-gara semalam pacaran mulu sih sama Zidan, jadi lupa deh," batin Zara. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, maaf sudah mengganggu waktumu. Nanti aku sampaikan di whattsap saja ya," ucap Zara canggung. Ia ingin segera pergi dari sana.
"Mau ke mana? Kan kita sudah bertemu, ngapain harus dibahas di chatting? Ayo," ucap Raffa. Zara menatap Raffa bingung.
"Masuk dulu, kita diskusi di tempatku saja," ajak Raffa. Zara mengangguk dan ikut masuk mobil. Raffa menjalankan mobilnya menuju rumah. Karena ia tidak tahu juga tempat yang pas untuk mereka mengerjakan tugas kelompok itu.
Hingga sampailah mereka di rumah Raffa. Zara memerhatikan bangunan yang begitu mewah itu. Ia mengagumi bangunan indah di depan matanya.
__ADS_1
"Ayo," ajak Raffa. Ia membuka pintu mobilnya.
"Eh tunggu dulu!" Zara tanpa sengaja memegang tangan Raffa. Mereka saling pandang.
"Tenang saja, di rumah ada mommy dan adikku juga kok," ucap Raffa yang seolah tahu apa yang dipikirkan Zara. Zara tersenyum.
Mereka keluar mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Raffa menyuruh Zara untuk duduk di ruang tamu. Sedangkan ia memanggil mommy nya untuk menyambut Zara.
Raffa sudah ganti pakaian dengan yang lebih santai. Ia menuju ruang tamu sambil membawa laptop dan beberapa buku. Ia duduk di samping Zara.
"Sudah bertemu sama mommy ku?" tanya Raffa.
"Belum," jawab Zara singkat.
Tak lama, Alina menuruni tangga. Ia menuju ruang tamu dan menyambut Zara dengan baik.
"Halo tante," ucap Zara sambil mencium punggung tangan Alina. Alina tersenyum dan mengusap kepala Zara dengan lembut.
"Sudah lama? Maaf ya, tadi tante ada sedikit kendala," ujar Alina. Mereka saling duduk.
"Mom, ini Zara, teman sekelasku," ujar Raffa memperkenalkan Zara pada mommy nya. Zara hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya sudah, kalian teruskan kembali tugas kelompoknya, tante mau ke dapur sebentar ya," pamit Alina. Ia menuju ke dapur untuk menyiapkan minuman dan camilan untuk mereka berdua.
Zara dan Raffa memilih untuk duduk di lantai. Agar lebih nyaman saat mengerjakan tugasnya. Alina hanya tersenyum saat memerhatikan mereka berdua. Baru pertama kalinya Raffa mengajak teman perempuannya untuk belajar di rumah.
Alina kembali ke ruang tamu untuk menyajikan minuman dan makanan ringan yang telah ia siapkan. Entah mengapa, saat melihat Zara untuk pertama kalinya ia jadi teringat akan dirinya saat dulu masih muda. Alina juga bisa menilai bahwa Zara adalah wanita yang baik, meskipun baru pertama bertemu.
Alina sengaja meninggalkan mereka di ruang tamu. Ia tidak ingin mengganggu belajar mereka. Alina memilih ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
"Mommy, Alisya pulaaaang..." teriak Alisya saat baru pulang dari sekolah. Alisya memang sudah terbiasa seperti itu. Meski Alina sudah berkali-kali memperingati Alisya agar lebih anggun lagi. Namun nyatanya Alisya masih sama saja.
"Eh, ada bang Raffa," ucap Alisya yang terkejut melihat Raffa dan Zara di ruang tamu.
Alisya mendekati mereka berdua. Ia mendekatkan wajahnya. Menatap Zara dan Raffa bergantian.
__ADS_1
"Bang, siapa? Pacar baru?" tanya Alisya sambil menaik turunkan alisnya. Ia bertanya tepat di depan wajah Zara namun tatapannya mengarah ke Raffa.
"Kenapa?" tanya Raffa singkat.
Alisya berdiri. Ia beralih duduk di samping Raffa.
"Serius bang? Kyaaa... Mommy... Akhirnya anak kesayangan mommy ini punya pacar juga huaaa.." ujar Alisya lebay. Ia memegang dagu Raffa. Seolah ia tak percaya. Alisya mencubit kedua pipi Raffa dengan gemas.
"Mom, Alisya ganggu Raffa belajar," ucap Raffa merasa jengah karena Alisya terus mengganggunya.
"Ih, nggak asik banget sih. Siapa juga yang ganggu," ucap Alisya kesal.
"Alisya, jangan ganggu abang kamu," ucap Alina yang masih berada di dapur. Sedangkan Zara hanya tersenyum melihat tingkah adik kakak itu. Alisya beranjak dari sana. Ia segera menuju dapur untuk menemui Alina.
"Tunggu! Dia bukan pacar abang. Hanya teman saja," ucap Raffa sebelum Alisya menghilang dari ruang tamu.
"Iya mungkin sekarang teman. Tapi siapa yang tahu nantinya," ledek Alisya.
Alisya menghampiri Alina. Ia duduk di kursi dan mengambil air minum. Lalu ia meneguknya.
"Mommy percaya jika mereka hanya teman?" ucap Alisya.
"Kenapa tidak, kakakmu tidak pernah berbohong sama mommy," jawab Alina. Ia kembali sibuk dengan memasaknya. Alisya berdiri dan menghampiri Alina.
"Siapa yang tahu bang Raffa berbohong atau tidak," ujar Alisya.
"Mom," panggil Alisya pelan.
"Hmm.."
"Berarti kalau bang Raffa sudah punya pacar, Alisya juga boleh pacaran dong?" tanya Alisya pelan. Ia menggigit kecil bibir bawahnya.
"Nggak boleh! Kamu masih kecil. Ingat ya, mommy nggak akan mengizinkan Alisya untuk pacaran," jawab Alina tegas.
"Yahh mommy, Alisya kan sudah SMA. Banyak kok teman Alisya yang sudah pacaran," protes Alisya. Alina menghela napasnya sejenak. Bukannya ia melarang Alisya pacaran, tetapi ia khawatir jika Alisya terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik. Wajar saja kan sebagai seorang ibu, Alina begitu mengkhawatirkan putrinya yang sudah mulai tumbuh dewasa itu.
__ADS_1
"Sekali tidak ya tidak! Kalau sampai Alisya pacaran, mommy nggak akan kasih uang jajan buat Alisya lagi. Dan mommy akan marah sama Alisya," ucap Alina tegas. Alisya memeluk Alina dengan erat. Sebenarnya ia hanya asal bertanya saja tadi. Dan tanpa ia duga itu berdampak pada Alina yang merasa khawatir padanya.
"Mom, Alisya akan selalu menurut sama mommy kok. Alisya sayang sama mommy," ucap Alisya lirih. Alina mengusap punggung Alisya dan mencium puncak kepalanya. Ia tahu jika putrinya ini tidak akan melakukan hal yang ia larang.