Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 38 (season 2)


__ADS_3

Selesai makan, mereka berkumpul di ruang tengah. Zara berinisiatif untuk membuatkan mereka kopi. Setelah mambantu Alina mencuci piring dan lainnya, Zara meminta izin kepada Alina untuk menyajikan kopi untuk mereka.


Setelah selesai menyeduh, Zara segera menuju ke ruang tengah dengan membawa nampan yang berisi empat gelas kopi.


"Silakan, maaf kalau tidak sesuai selera," ucap Zara. Yang ia sajikan satu kopi hitam untuk Arvin dan tiga gelas lainnya kopi hitam plus susu.


"Waahh, terima kasih ya Zara," ucap Arvin. Ia tersenyum tipis.


"Loh, Zara tidak minum?" tanya Alina saat menyadari bahwa hanya ada empat gelas saja.


"Tidak Tan, setelah ini Zara harus pulang," ucap Zara. Alina menatap Zara sekilas.


"Kenapa? Ada kepentingan ya?" tanya Alina.


"Yahh, nggak asik dong kalau kak Zara pulang," ucap Alisya sedih.


"Iya. Maaf tante," ucap Zara canggung.


Setelah pamitan, Zara berjalan keluar rumah dengan Alina yang mengantar Zara sampai depan rumah.


"Hati-hati ya sayang. Sering-sering main ke sini juga. Anggap saja rumah sendiri. Maaf loh kalau tante sudah ngrepotin Zara seharian ini," ucap Alina. Baru kali ini ia menemui wanita yang begitu sopan seperti Zara.


"Zara senang kok kalau bisa bantu tante. Ya sudah, Zara pulang dulu tante," ucap Zara. Ia mencium punggung tangan Alina.


"Zara tunggu," ucap Alina menghentikan langkah Zara. Zara menoleh ke arah Alina.


"Raffa, sini sayang," panggil Alina. Raffa keluar menghampiri Alina.


"Kamu antar Zara ya. Mommy akan marah jika kalian menolak," ucap Alina.


Raffa dan Zara saling bertukar pandang. Mereka sama-sama terkejut. Namun Raffa juga bukan orang yang suka membantah. Ia mengangguk dan berjalan ke dalam untuk mengambil kunci mobil. Zara sempat menolak, namun tetap saja Alina bisa membuat Zara untuk menyetujuinya. Mau tidak mau Zara harus diantar oleh Raffa.

__ADS_1


Mereka masuk ke mobil dan Raffa mulai melajukan mobilnya. Zara sangat canggung sekali. Ia tidak ada hubungan sedekat itu hingga Raffa mengantarnya pulang. Zara hanya menunduk untuk mengurangi kecanggungannya.


Ketika sampai di pintu gerbang, mobil mereka berpapasan dengan mobil Zidan. Namun Zidan maupun Zara sama-sama tidak menyadarinya. Mereka sama-sama tidak memperhatikan sekitarnya.


"Siapa tadi yang keluar Fan?" tanya Zidan dan melirik sekilas bagian belakang mobil Raffa.


"Tuan Raffa. Sepertinya ada seorang perempuan di sampingnya tadi," jawab Fanny.


"Sepertinya aku melihat nona Zara tadi," batin Fanny antara yakin atau tidak.


"Oh ya? Siapa? Alisya?" tanya Zidan. Ia juga tidak begitu penasaran dengan urusan adiknya itu.


"Saya tidak tahu tuan muda," ucap Fanny. Mereka sampai di halaman rumah. Fanny membukakan pintu untuk Zidan. Lalu mereka masuk ke dalam.


"Mommy," sapa Zidan saat melihat Alina. Ia langsung memeluk Alina dan menumpahkan kerinduannya.


"Apa kabar sayang?" tanya Alina. Zidan tersenyum.


Mereka mengobrol santai. Zidan sempat bertanya siapa yang keluar bersama Raffa tadi. Karena ia sempat mengira jika itu Alisya namun nyatanya bukan. Tetapi Alina hanya menjawab teman kampus Raffa tanpa menyebutkan namanya. Merasa bukan urusannya, Zidan memilih tidak bertanya kembali.


"Tumben kalian ngopi?" tanya Zidan heran. Karena biasanya hanya Arvin atau Barra yang ngopi. Sedangkan Raffa dan lainnya jarang sekali.


"Yah, ini buatan temannya bang Raffa tadi. Enak lho kak, rasanya seperti yang ada di kedai kopi terkenal," jawab Alisya. Zidan mengernyitkan dahinya. Memangnya ada kopi yang enak seenak buatan Zara? Pikir Zidan. Namun apa salahnya ia mencoba sedikit untuk memuaskan rasa penasarannya.


Zidan mengambil gelas Alisya. Ia menyeruputnya sedikit. Zidan mengernyitkan dahinya dan terdiam cukup lama. Ia tahu betul rasa ini. Tak salah lagi, ini seperti kopi buatan Zara.


"Kenapa yang aku rasakan seperti kopi buatan Zara? Memangnya ada ya dua orang yang membuat kopi dengan rasa yang sama?" batin Zidan bingung.


"Ada apa? Apa tidak enak sayang?" tanya Alina heran. Karena Zidan hanya terdiam saja.


"Enak kok Mom. Siapa yang buat ini Mom?" tanya Zidan memastikan.

__ADS_1


"Teman Raffa. Namanya..." ucap Alina.


"Sejak kapan kamu begitu penasaran, hem?" ujar Arvin menyela ucapan Alina. Zidan hanya tersenyum tipis. Ia gagal untuk mengetahui nama dari teman Raffa itu. Yang tak lain dia adalah Zara.


"Sudahlah, mungkin aku yang terlalu banyak berpikir," batin Zidan. Karena akhir-akhir ini juga banyak masalah dalam hubungannya dengan Zara.


Disisi lain, Zara menyuruh Raffa untuk mengantarnya menuju salah satu kafe dekat kampus. Zara sebenarnya sedang ada janji dengan seseorang. Mereka kini sampai di kafe tujuan Zara.


"Terima kasih ya. Salam untuk orang yang di rumah," ucap Zara dengan sopan. Ia tersenyum lebar.


"Ya. Hati-hati," ujar Raffa.


Zara membuka pintu mobil dan keluar dari mobil tersebut. Setelah memastikan mobil Raffa pergi dari kafe, Zara masuk ke dalam kafe tersebut dan mencari keberadaan orang yang mengajaknya bertemu.


Zara menuju meja nomor 08. Di sana sudah ada Karina yang duduk manis sambil menikmati jus alpukat. Ya, orang yang mengajak Zara bertemu adalah Karina. Zara juga ada sesuatu hal yang ingin ia tanyakan mengenai hubungan Karina dengan Zidan. Karena akhir-akhir ini, banyak media sosial yang memberitakan hubungan Karina dengan Zidan.


"Kamu sudah datang," ucap Karina senang. Karina menyuruh Zara untuk duduk.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba memintaku untuk bertemu denganmu?" tanya Zara menyelidik. Karina tersenyum sinis. Gadis yang ada dihadapannya ini sungguh polos sekali.


"Aku sudah tahu tentang hubungan kalian berdua. Kamu pacarnya Zidan kan?" tanya Karina. Zara terdiam. Ia menatap Karina dengan lekat.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Zara balik. Karina tertawa. Ia mengira jika akan sulit menghadapi Zara. Namun sepertinya ini sangat mudah.


"Dari Zidan sendiri. Oh iya, aku saranin supaya kamu meninggalkan Zidan. Kalau tidak, aku akan menghancurkan hidupmu, Zara," ancam Karina.


"Kalau aku tidak mau?" tantang Zara.


"Aku bisa melakukan apapun. Sama seperti Zidan. Kamu salah satu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa kan? Aku bisa membuatmu kehilangan beasiswa itu. Pasti kamu tahukan apa akibatnya jika beasiswa itu dicabut?" ucap Karina. Ia menyeringai menatap Zara.


"Kamu masih punya satu kesempatan. Jika kamu menyiakannya aku akan menyuruh orangku untuk bertindak. Bukan hanya mencabut beasiswamu tapi aku akan membuat hidupmu sengsara Zara. Aku yakin kamu bisa memberikan keputusan yang tepat," ucap Karina. Ia berdiri dan meninggalkan Zara yang masih terdiam di sana.

__ADS_1


Zara bingung. Apakah ia harus menceritakan ini kepada Zidan atau tidak. Ancaman itu sukses membuat hati Zara galau dan resah.


__ADS_2