
Paginya seperti biasa, Alina bangun dan membantu bi Sumi menyiapkan sarapan dan membereskan rumah. Ia juga mengurus ketiga putranya itu. Setelah sarapan, Arvin izin untuk berangkat ke kantornya.
"Mas," ucap Alina pelan.
"Ya sayang?" jawab Arvin sambil berjalan keluar rumah.
"Nanti aku izin ke rumah mama ya," ucap Alina.
"Mas antar ya. Kita ke rumah mama nanti setelah mas pulang kerja saja," jawab Arvin dengan lembut.
"Eh, nggak usah mas. Aku hanya sebentar kok. Boleh ya mas?" pinta Alina hati-hati.
Arvin terdiam sejenak. Biasanya jika ingin ke rumah orang tuanya, pasti Alina ingin pergi bersama suami dan putranya. Kenapa tiba-tiba ingin pergi sendiri.
"Ya sudah mas izinkan. Hati-hati ya," jawab Arvin. Ia mencium kening Alina dan pamit ke kantor. Alina menghela napasnya lega.
"Mom, Zidan berangkat dulu," ucap Zidan lalu mencium tangan Alina.
"Hati-hati sayang," balas Alina. Zidan mengangguk dan ikut ke dalam mobil yang ditumpangi Arvin.
Alina masuk ke dalam. Masih ada satu lagi yang harus ia urus. Putranya yang kedua masih asik bermain. Seperti biasa lagi, ia harus sabar-sabar untuk membujuk Barra.
Setelah mengantar Barra ke sekolah, Alina meminta pak Kariman untuk pulang dan tidak perlu mengantarnya lagi. Pak Kariman sempat menolak, karena mengantar Alina adalah perintah langsung dari Arvin. Tapi Alina terlalu keras kepala, akhirnya pak Kariman memutuskan untuk kembali ke rumah sendirian.
"Pak, saya hanya sebentar. Pak Kariman bisa kembali, tidak perlu mengantar saya," ucap Alina.
"Tapi nyonya, ini adalah perintah dari tuan langsung. Saya tidak berani untuk melanggar," ucap pak Kariman dengan sopan.
"Saya hanya ke rumah mama sebentar pak. Saya hanya ingin naik taksi," jawab Alina kekeh.
"Nyonya jangan mempersulit saya. Jika terjadi apa-apa dengan nyonya.."
"Saya akan jamin saya baik-baik saja. Silakan pak Kariman kembali pulang. Saya ingin naik taksi saja," sahut Alina. Ia tak peduli lagi dengan jawaban pak Kariman. Alina membawa Raffa dan mereka naik taksi. Pak Kariman hanya bisa menghela napasnya. Berdoa semoga keputusannya kali ini tidak salah.
__ADS_1
Bukannya menuju ke rumah orang tuanya, Alina menuju ke salah satu rumah sakit yang agak jauh dari rumahnya. Ia ingin memeriksakan dirinya.
Sampai di rumah sakit, ia segera membuat janji dengan dokter kandungan. Alina mengantri menunggu panggilan dari dokter tersebut. Dengan gusar Alina menunggu sambil menggendong Raffa. Sesekali ia berdiri dan berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu untuk menghilangkan rasa bosannya.
Akhirnya kini giliran Alina. Ia ragu-ragu masuk ke dalam.
"Silakan duduk bu," ucap dokter tersebut dengan ramah. Alina mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, apakah dengan bu Alina?" tanya dokter tersebut memastikan.
"Iya dok," jawab Alina sambil mengangguk.
"Baiklah, mari bu saya periksa dulu. Silakan berbaring di sini. Sus, bisa minta tolong jaga anaknya sebentar," ucap dokter tersebut. Perawat itu mengambil alih Raffa. Alina mulai berbaring dan diperiksa oleh dokter. Ia juga menjalani USG.
"Apa yang ibu keluhkan akhir-akhir ini? Saya bisa buatkan resep untuk meredakan gejalanya bu," ucap dokter itu saat duduk di kursi kerjanya.
"Dok, sa-saya ingin menggugurkan kandungan ini," ucap Alina ragu. Ia menitikkan air matanya namun buru-buru ia seka.
"Kenapa bu? Kandungan ibu baik-baik saja. Tidak ada masalah sedikitpun," jawab dokter tersebut bingung.
Alina menunduk. Percayalah, hatinya begitu sakit ketika ia harus mengucapkan ingin menggugurkan kandungannya. Namun ia belum siap untuk hamil lagi. Dirinya sudah memikirkannya semalaman.
Mungkin Alina adalah ibu terjahat yang tega membunuh darah dagingnya sendiri yang bahkan masih berusia beberapa minggu. Namun ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Jalan satu-satunya yang terpikirkan dalam benaknya adalah dengan menggugurkan kandungannya. Toh suaminya juga belum mengetahui berita tentang kehamilannya.
"Sa-saya belum siap untuk hamil lagi dok. Tolong saya," ucap Alina meski saat ini hatinya bagai tersayat pisau tajam.
"Maaf bu, tapi kami tidak bisa melakukan itu. Sekali lagi kami minta maaf," ucap dokter tersebut.
"Tolong saya dok. Saya tidak akan menyalahkan dokter dalam hal ini. Ada sesuatu hal yang mengakibatkan saya harus menggugurkan kandungan ini. Saya mohon dokter tolong saya," ucap Alina kekeh.
Dokter tersebut menghela napasnya sejenak.
"Tapi itu menyalahi aturan kami bu. Apakah suami ibu sudah tahu akan hal ini? Apakah suami ibu sudah setuju?" tanya dokter itu. Ia tersenyum dan mengusap punggung tangan Alina.
__ADS_1
"Su-suami?" Alina bergumam. Bahkan suaminya sama sekali tak mengetahui hal ini.
"Aku bahkan belum memberitahunya. Apakah keputusanku hari ini sudah benar nantinya? Bagaimana jika mas Arvin tahu akan hal ini?" batin Alina resah.
Dokter tersebut tersenyum. Seolah tahu keluh kesah Alina.
"Aborsi tidak bisa sembarangan dilakukan bu. Semua ada aturannya sendiri. Kandungan bu Alina baik-baik saja. Jadi saya minta, mohon bu Alina pikirkan baik-baik lagi. Anak adalah anugrah yang harus disyukuri," terang dokter tersebut.
Alina memejamkan matanya. Ia memang ibu yang kejam yang tega menggugurkan kandungannya. Bagaimanapun semua sudah terjadi. Keputusannya sudah bulat.
"Maafkan mommy sayang.. Maafkan mommy.." gumam Alina.
"Saya sudah yakin dok. Apapun yang akan terjadi saya siap menanggungnya," ucap Alina dengan yakin.
Dokter tersebut memandangi Alina cukup lama. Ia belum mengambil keputusan apakah menyetujuinya atau tidak.
"Baiklah. Sus, tolong siapkan ruang operasi sekarang juga," perintah dokter itu. Akhirnya dokter tersebut luluh juga. Perawat itu mengangguk dan keluar dari ruangan dokter.
"Mari ikut saya bu," ucap dokter tersebut. Alina mengikuti dokter itu menuju salah satu ruang rawat inap.
"Silakan tunggu di sini bu. Perawat saya yang akan menyiapkan segalanya. Saya akan menyiapkan surat untuk penandatangan bu Alina," ucap dokter tersebut. Kemudian dokter itu keluar ruangan.
Tangis Alina pecah. Ia bahkan tak percaya jika harus melakukan ini pada calon buah hatinya sendiri. Ini demi kebaikan dirinya dan anak-anaknya. Ia harus melakukan itu.
Setelah sekian lama dirinya menunggu, kini tiba saatnya ia menjalani proses aborsi tersebut. Perawat mengambil alih Raffa. Alina juga sudah menandatangani surat yang diberikan oleh dokter tersebut. Alina dibaringkan di brankar dan menuju ruang operasi. Ia dibius agar tidak merasakan kesakitan.
Dokter dan perawat sibuk mempersiapkan untuk melakukan aborsi itu. Sangat disayangkan, janin yang baik-baik saja harus digugurkan seperti ini. Dokter mulai melakukan tugasnya.
Brakk
"Tunggu!"
Dokter dan perawat itu terkejut. Mereka menatap ke arah pintu.
__ADS_1