
Pagi harinya, Alina dan Arvin mendapatkan kabar yang mengejutkan dari Barra. Kayla tengah mengandung cucunya dan itu membuat mereka nampak bahagia. Alina segera memberitahukan hal ini kepada anak-anaknya saat mereka sarapan bersama.
"Sayang, ada berita baik dari Barra dan Kayla. Kayla sedang mengandung," ucap Alina antusias. Zidan, Raffa, dan Zara langsung menghentikan makannya sejenak. Mereka terdiam cukup lama. Terutama Zara, ia nampak sedikit ada rasa sedih di raut wajahnya. Namun Zara berusaha tersenyum.
Melihat perubahan sikap mereka, Arvin langsung menyenggol lengan istrinya. Alina yang sadar dengan apa yang diucapkannya merasa canggung dan takut jika Zara tersinggung akan hal itu.
"Zara, maafkan mommy. Mommy tidak bermaksud untuk..."
"Tidak apa-apa Mom. Zara ikut senang jika Kay sedang mengandung," ucap Zara sambil berusaha tersenyum. Alina merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol dirinya. Mereka melanjutkan sarapannya hingga habis.
"Mom, bolehkah Zara tinggal di panti asuhan untuk sementara waktu? Zara ingin menenangkan diri di sana," tanya Zara.
"Ini...." ucap Alina sambil memandang Zidan. Zidan mengangguk pelan memberikan kode kepada mamanya agar menyetujui permintaan Zara. Alina tersenyum dan menggenggam tangan Zara.
"Tidak masalah, tapi Zara harus sering-sering datang ke sini ya untuk jenguk mommy," ucap Alina sedih. Zara mengangguk dengan senang.
Arvin dan Zidan pamit untuk pergi ke kantor. Sedangkan Raffa hari ini tidak ada jam perkuliahan. Zara juga sudah tidak memikirkan lagi perkuliahannya. Untuk sementara waktu ia akan cuti dulu. Ia bahkan sudah tidak ada niatan untuk melanjutkan kuliahnya kembali. Sekarang ini beban hidupnya terlalu berat. Zidan juga tidak mengizinkannya untuk pergi ke kampus terlebih dulu hingga keadaan Zara membaik.
Zara berusaha menyibukkan dirinya. Ia tidak ingin terus bersedih. Saat ini ia sedang berada di taman halaman belakang rumahnya. Zara sedang memberi makanan kepada ikan-ikan yang ada di kolam. Sedangkan Alina yang mengurus pekerjaan rumahnya dibantu oleh Raffa.
Tiba-tiba Diana datang bersama dengan Ochie, karena Anton harus bekerja. Diana tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan putrinya. Bagaimanapun juga ia perlu tahu kondisi dan keadaan Zara selepas pulang dari rumah sakit.
"Permisi," ucap Diana. Alina bergegas menuju ke pintu depan. Ternyata Diana yang sedang bertamu ke rumahnya.
__ADS_1
"Nyonya Diana," sapa Alina sedikit terkejut. Lalu ia mempersilakan Diana untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Panggil saja Diana. Tidak perlu terlalu kaku seperti itu," ucap Diana. Alina tersenyum tipis sambil mengangguk.
"Bagaimana keadaan Zara?" tanya Diana.
"Sudah membaik. Dia sedang berada di halaman belakang, mau saya panggilkan?" tawar Alina.
"Tidak perlu, saya takut jika Zara belum siap untuk bertemu dengan saya," balas Diana sedih. Alina hanya tersenyum canggung. Lalu ia menuju ke dapur untuk menyiapkan mereka minuman.
Mereka mengobrol cukup lama. Lalu Diana memutuskan untuk menemui Zara di halaman belakang. Ia melihat Zara yang nampak senang saat memberikan makanan pada ikan-ikan itu. Hati Diana merasa tenang melihat Zara yang perlahan kembali ceria seperti sebelumnya.
"Katanya dia akan tinggal di panti asuhan untuk sementara ini. Ia ingin menenangkan diri di sana," ucap Alina yang berdiri di samping Diana. Diana menoleh untuk menatap Alina sekilas. Lalu ia kembali fokus dengan Zara.
"Tenanglah, bukan itu maksud dari Zara. Mungkin saja karena di sana banyak anak-anak kecilnya sehingga Zara bisa melupakan kesedihannya perlahan-lahan. Untuk sementara ini kita turuti saja apa yang Zara inginkan. Ini semua demi dirinya agar lekas membaik," ucap Alina. Diana mencerna setiap kata yang diucapkan Alina. Alina benar, menempatkan Zara pada tempat yang nyaman adalah pilihan terbaik.
"Kamu benar, kita bisa menerapinya dengan bantuan anak-anak di sana," tutur Diana. Ia izin kepada Alina untuk menemui Zara. Alina pergi dari sana untuk memberikan waktu luang kepada ibu dan anak itu.
"Anak mama lagi apa nih?" tanya Diana dan duduk di samping Zara. Zara terkejut dengan kedatangan Diana. Ia langsung memeluk Diana dengan erat.
"Mama apa kabar? Maaf Ma, Zara tidak bisa kembali ke rumah itu dalam waktu dekat ini," ujar Zara. Diana paham maksud dari Zara. Namun ia hanya diam sambil menikmati momen berdua ini.
"Maafkan mama sayang," ucap Diana. Zara melepas pelukannya. Ia menatap Diana dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf Ma, Zara baik-baik saja kok," jawab Zara. Ia tidak ingin melihat mamanya khawatir karenanya.
***
Sesuai dengan perintah dokter, hari ini Kayla mulai mengistirahatkan dirinya di kamar saja. Bahkan untuk sarapan pagi saja harus dibawa ke kamarnya. Tentu saja Kayla tak keberatan akan hal ini. Tadi, sebelum Barra berangkat kerja, ia sempat mengurus istrinya terlebih dahulu.
Keadaan Kayla sudah jauh lebih baik dari kemarin. Meskipun masih terasa pusing dan terkadang disertai mual juga. Demamnya perlahan juga sudah menurun.
Karena bosan, Kayla memilih untuk membaca-baca buku yang ada di nakasnya. Sambil memakan buah segar yang telah ibunya siapkan untuknya, Kayla fokus membaca bukunya.
Beberapa saat kemudian, ia menyudahi membacanya dan tiba-tiba ia ingin makan sop buntut. Durian yang kemarin ia inginkan saja belum ia makan karena Kayla sudah tak ingin memakannya. Kayla bingung, jika ia memberitahu ibunya, Kayla tidak ingin merepotkan ibunya. Namun jika tidak segera dituruti, Kayla merasa seperti anak kecil dan ia akan menangis dengan tiba-tiba.
"Maaa... Mamaaaa..." panggil Kayla. Risti langsung bergegas ke dalam kamar putrinya itu.
"Ada apa sayang? Ada yang kamu inginkan?" tanya Risti. Ia duduk di tepi ranjang. Kayla mengangguk pelan.
"Ma, Kay ingin makan sop buntut," ucap Kayla pelan. Risti tersenyum dan mengusap rambut Kayla.
"Yakin kali ini akan di makan?" tanya Risti memastikan. Ia tidak ingin sop buntutnya bernasib sama seperti durian yang kemarin sore.
"Janji, kali ini Kay akan memakannya," jawab Kayla antusias. Risti menyuruh Kayla untuk menunggu sebentar saja. Untungnya penjual sop buntut tersebut tak jauh dari rumahnya. Risti menyuruh sopirnya untuk membelikan makanan yang diminta Kayla.
Beberapa saat kemudian, Risti masuk ke dalam kamar sambil membawakan satu mangkok sop buntut. Kayla mendengus kesal. Ia tidak ingin makan di kamarnya. Ia membawa kembali mangkok berisi sop buntut tersebut ke meja makan. Kayla makan dengan lahap tanpa menghiraukan keberadaan ibunya yang sedang memperhatikannya. Sop tersebut benar-benar enak menurutnya.
__ADS_1