
Semenjak kejadian itu, Alina lebih banyak termenung dan sedih. Arvin mengerahkan beberapa anak buah papanya untuk mencari keberadaan Zidan. Ia tidak ingin kehilangan Zidan dan membuat Alina sedih terus-terusan.
Bahkan saat menyusui Barra, Alina sering melamun. Dirinya kalut dalam kesedihan. Saat memandang Barra, dirinya selalu teringat dengan Zidan.
Nafsu makan Alina juga berkurang. Ia bahkan tak mau makan jika bukan karena paksaan dari Arvin. Bagaimanapun juga bayinya tetap harus mendapatkan asi darinya.
"Jangan sedih sayang, kasihan Barra. Aku sudah janji sama kamu untuk membawa Zidan kembali kan? Tunggu beberapa hari lagi aku akan membawa Zidan kembali," ucap Arvin yang berada di samping Alina.
Alina hanya diam. Pikirannya kosong. Bagaimana ia bisa tenang sedangkan Zidan tidak ada disisinya.
"Mereka tidak akan berani menyakiti Zidan. Bagaimanapun dia adalah cucunya," ujar Arvin agar Alina lebih tenang.
Arvin mengambil alih Barra dari pangkuan Alina. Ia menidurkan di ranjang bayi. Kemudian menghampiri Alina dan mengecup keningnya sekilas. Namun Alina masih tetap diam. Arvin keluar kamar dan memanggil bi Mira untuk menemani Alina.
"Apa kalian sudah temukan di mana mereka bersembunyi?" tanya Arvin saat melajukan mobilnya. Ia menghubungi anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencari tahu keberadaan Edwin.
"Kami sudah menemukan lokasinya tuan. Mereka ingin pergi ke luar negeri," ucap pengawal tersebut.
"Baiklah, awasi mereka jangan sampai kehilangan jejaknya. Kirim lokasinya sekarang juga. Tunggu saya di sana!" titah Arvin. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat.
Kedatangan Edwin kali ini sungguh mencurigakan. Jika ia mengakui bahwa Zidam adalah cucunya tidak perlu mengerahkan anak buahnya untuk menangkap Zidan. Arvin curiga jika ini adalah siasatnya untuk menjalankan rencana yang entah apa itu Arvin belum tahu. Yang jelas, ia tidak akan membiarkan Zidan terluka karena dirinya.
Selang beberapa menit, Arvin sampai di bandara yang sudah diberitahukan oleh pengawalnya itu. Ia menelepon pengawalnya untuk mengetahui titik yang pasti di mana Zidan berada.
"Ini tuan sesuai kesepakatan kita. Anak ini sangat tampan bukan?" ucap Edwin sambil menyerahkan Zidan ke seseorang. Orang tersebut adalah William Alexander.
"Hahaha.. Bagus sekali. Aku tidak menyangka kamu mempunyai barang bagus seperti ini. Ini uangnya sesuai kesepakatan kita," ucap William sambil menyerahkan koper yang berisi uang ratusan juta.
Edwin mengambil koper tersebut dan tersenyum puas. Sedangkan Zidan dalam pengaruh obat bius agar tidak merepotkannya.
__ADS_1
William menjentikkan jarinya. Asistennya mengangguk dan mengambil alih Zidan dari tangan Edwin.
"Kalau seperti ini, aku bisa membayar hutangku dan tidak perlu repot-repot mencari uang lagi. Maafkan kakek nak. Kakek melakukan ini karena terpaksa," Batin Edwin.
Arvin yang menyaksikan transaksi itu mengepalkan tangannya. Ia bahkan tak menduga, cucunya sendiri tega dijualnya. Arvin mendekati mereka dengan penuh amarahnya.
"Edwin! Berani sekali kau menjual anakku!" ujar Arvin yang sudah berada di belakang Edwin.
Edwin terdiam kaku. Suara ini, ia sangat kenal. Bagaimana bisa Arvin mengetahui dirinya berada di mana. Padahal ia sudah berhati-hati.
Edwin berbalik. Ia sedikit ketakutan. Bahkan pengawal yang ia bawa untuk menjaga dirinya sudah dilumpuhkan oleh anak buah Arvin.
"Brengsek!" umpat Arvin sambil menonjok Edwin. Ia sudah tidak peduli lagi jika ia adalah ayah mertuanya. Bagaimana bisa ia tidak punya perasaan seperti itu.
Edwin jatuh tersungkur. Ia menatap Arvin dan tersenyum tipis. Arvin menghampiri dan menarik krah Edwin dengan kasar.
Edwin tak berdaya. Kesadarannya semakin menghilang. Dirinya sudah lemah. Bahkan Arvin menghajarnya dengan brutal. Arvin tak peduli jika Edwin akan mati atau tidak. Arvin menghempaskan tubuh Edwin dengan kasar. Matanya beralih menatap William dengan tajam. Yang sedari tadi hanya diam menonton mereka berkelahi.
"Sa-saya tidak tahu apa-apa," ucap William merasa takut. Ia mengambil Zidan dan menyerahkan kepada Arvin.
Arvin perlahan mendekati William. Namun William dan asistennya mundur menghindari Arvin.
"San!" panggil Arvin sambil melirik ke arah Sandi, pengawalnya.
"Iya tuan," pengawal itu menjentikkan jarinya dan mengepung William dan asistennya.
"Bawa mereka bertiga! Jangan biarkan mereka kabur sebelum menerima balasannya!" ucap Arvin dingin. Pengawal tersebut mengangguk dan menangkap mereka.
Arvin tidak peduli ada ribuan mata yang menatapnya aneh. Setelah mereka dibawa pergi, Arvin memandangi putranya yang saat ini ada digendongannya. Putranya sedang tertidur akibat obat bius.
__ADS_1
"San, bawa mobilnya! Kita pulang ke rumah," ucap Arvin sambil melangkah menuju mobil. Sandi hanya mengangguk.
Di dalam mobil, Arvin menciumi Zidan. Ia merasa bersalah karena telah lengah hingga membahayakan putranya itu. Arvin mengusap kening putranya dengan lembut.
Sampai di rumahnya, ia segera membawa Zidan ke kamarnya. Arvin segera menelepon dokter Santoso agar segera datang ke rumahnya.
Alina segera berlari ketika mendengar Arvin berhasil membawa Zidan pulang. Ia memeluk Zidan dan menumpahkan kesedihannya. Beberapa hari ini dirinya sudah tersiksa dengan kesedihan ini. Alina tak hentinya menciumi Zidan.
"Sayang, biarkan Zidan istirahat dulu ya," ucap Arvin lembut sambil menuntun Alina agar menjauh dari Zidan.
"Mas, kenapa Zidan tetap tidur?" tanya Alina sambil menatap Arvin. Arvin tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa sayang, jangan khawatir," ucap Arvin sambil mengusap air mata Alina yang membasahi pipi. Arvin mengecup sekilas bibir Alina.
Tak butuh waktu lama, dokter Santoso sudah datang. Ia memeriksa Zidan. Setelah itu ia menghela napas lega.
"Dia hanya diberi obat bius saja. Sebentar lagi juga bangun jika pengaruh obatnya sudah hilang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas dokter Santoso.
Mereka tersenyum lega begitupun Alina. Arvin merasa senang melihat istrinya yang kembali ceria. Setelah beberapa hari ini begitu pendiam dan larut dalam kesedihannya.
Dokter Santoso pamit undur diri. Alina menatap Arvin seakan memohon kepada Arvin untuk mengizinkan dia menemani Zidan. Alina mendekat dan duduk di samping Zidan. Ia mengusap kening Zidan dengan lembut. Putranya kini telah kembali.
Arvin keluar kamar. Ia ingin memberikan waktu untuk mereka berdua sekaligus ingin mengetahui keadaan tiga orang tadi. Sandi yang masih berada di ruang tamu berdiri melihat kedatangan Arvin. Sandi membungkuk hormat kepada Arvin.
"Sandi, terima kasih sudah bekerja keras menemukan anak saya. Tolong beritahu orang tua saya tidak perlu khawatir karena Zidan sudah aman," ucap Arvin. Sandi mengangguk kecil.
"Kamu urus tiga orang tak berguna itu! perintah Arvin dengan dingin. Siapapun yang berani mengusik keluargaku akan berakhir tragis," ucap Arvin.
Sandi mengangguk lagi dan pamit undur diri untuk melaksanakan tugasnya.
__ADS_1