Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 32 (season 2)


__ADS_3

"Ini yang harus diketik?" tanya Zara sambil menunjuk bagian di dalam buku tersebut.


"Iya, tapi jangan semuanya. Tahu kan maksudnya?" jawab Raffa. Zara mengangguk. Ia kembali mengetik.


Mereka berdua sibuk mengerjakan tugas. Hingga tanpa terasa kini sudah pukul 12.00.


"Raffa, kita selesaikan besok bagaimana? Aku harus bekerja sebentar lagi," ujar Zara.


"Kamu bekerja? Di mana?" tanya Raffa penasaran. Dirinya baru tahu jika Zara kuliah sambil bekerja.


"Eh, itu... jadi barista," jawab Zara.


"Oh. Ya sudah, kalau begitu biar aku yang selesaikan sisanya," ujar Raffa.


"Jangan! Pokoknya kita harus kerjakan sama-sama ya," ucap Zara. Raffa tersenyum tipis.


"Sudah selesai kerjakan tugasnya?" tanya Alina yang baru selesai memasak. Ia duduk di sofa samping mereka.


"Belum Mom, tapi katanya Zara mau kerja setelah ini," jawab Raffa.


"Oh, kalau begitu ikut makan dulu yuk," ajak Alina.


"Nggak usah tante. Maaf, bukannya Zara menolak, tetapi Zara harus segera ke tempat kerja," ucap Zara sopan. Alina tersenyum.


"Sebentar ya. Tante bungkusin buat kamu dulu. Nanti dimakan waktu sampai di tempat kerja," ucap Alina. Ia beranjak menuju meja makan untuk membungkuskan makanan untuk Zara. Zara melangkah menuju meja makan. Ia tersentuh dengan perlakuan Alina yang begitu lembut padanya. Selama ini, ia merindukan sosok ibu dalam dirinya. Pertemuannya dengan Alina membuatnya merasakan kasih sayang itu. Zara tiba-tiba meneteskan air matanya.


"Ini buat kamu. Eh, kenapa menangis?" ucap Alina terkejut. Zara segera menyeka air matanya.


"Tante begitu baik sama Zara. Jujur, selama ini Zara belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu," ujar Zara sedih. Alina memeluk Zara. Ia bisa merasakan kesedihan itu.

__ADS_1


"Mulai sekarang, anggap saja aku sebagai ibumu. Zara mau? Kalau Zara rindu sosok ibu, Zara bisa berkunjung ke sini kapanpun Zara inginkan," ujar Alina. Ia mengusap pipi Zara dengan lembut.


"Terima kasih tante," ucap Zara. Alina memberikan makanan yang telah siapkan untuk Zara. Kemudian Zara pamit untuk pulang.


Awalnya Alina menyuruh Raffa untuk mengantar Zara sampai ke tempat kerja. Namun Zara merasa tidak nyaman. Ia memilih untuk memesan taksi online.


"Ehm, tadi siapa bang?" tanya Alina yang sekarang duduk di samping Raffa.


"Kan sudah Raffa bilang tadi Mom. Zara hanya teman sekelas Raffa saja yang kebetulan satu kelompok dengan Raffa," jelas Raffa.


"Yakin?" tanya Alina memastikan.


"Terserah mommy," ucap Raffa. Ia memilih kembali ke kamarnya. Alina tertawa kecil. Ia tak bisa membayangkan Raffa yang dingin itu akan jatuh cinta nantinya. Dan Alina tak sabar menantikan hari itu.


Kini Zara sudah berada di dalam taksi. Ia menuju kantor Zidan. Zara memerhatikan bekal yang diberikan padanya tadi. Rasanya sangat senang. Ia merasa seolah sedang diperhatikan oleh sosok ibu.


"Ternyata seperti ini ya rasanya diperhatikan okeh seorang ibu," batin Zara yang masih memerhatikan bekal tersebut.


"Apakah itu untukku?" batin Zidan.


"Sini," ucap Zara. Zidan mendekati Zara dan mencium pipi Zara sekilas. Zara membuka bekal tersebut.


"Kamu belum makan siang kan? Kebetulan aku bawa makanan," ucap Zara. Zara menyuapi Zidan. Zidan membuka mulutnya dengan senang hati. Ia menerima suapan dari wanita yang sangat ia sayangi.


"Rasa ini? Seperti masakan mommy," batin Zidan. Ia terdiam sejenak.


"Hei, ada apa?" ujar Zara. Karena Zidan sedang melamun. Zidan hanya menggelengkan kepalanya pelan. Zara kembali menyuapi Zidan. Tak lupa Zidan juga bergantian menyuapi Zara.


"Kamu masak sendiri makanan ini?" tanya Zidan. Karena rasanya sama persis dengan masakan mommy nya. Ia jadi rindu dengan mommy nya. Sudah lama ia tidak mengunjunginya.

__ADS_1


"Enggak. Aku tadi habis kerja kelompok di rumah teman. Terus orang tuanya ngajak makan siang, tapi aku menolak karena harus bekerja kan. Jadi mereka membungkuskan untukku, hehe," ucap Zara. Zidan mengangguk paham. Mereka melanjutkan makannya sampai habis.


"Sayang," panggil Zidan dengan lembut.


"Ya?"


"Bagaimana jika kamu belajar menjadi sekretaris pribadiku saja. Biar ke manapun kamu selalu sama aku," ucap Zidan.


"Kan ada mbak Aletta. Aku nggak yakin bisa menjalankan tugas itu," ujar Zara pesimis.


"Kenapa? Asal mau belajar pasti bisa kok. Pelan-pelan saja," ujar Zidan kembali.


"Tapi Zidan, kamu itu terlalu baik sama aku. Walaupun awalnya sedikit menyebalkan sih," ucap Zara sedih. Ia tak mau jika nantinya ada orang yang tahu hubungannya, Zara dicap sebagai wanita yang hanya memburu harta atau jabatan saja. Zara tidak ingin merepotkan dan bergantung pada Zidan.


Zidan menghela napasnya sejenak. Ia merengkuh Zara. Ia tahu jika Zara kurang nyaman dengan apa yang ia berikan untuknya. Tetapi ia hanya ingin yang terbaik untuk Zara. Zidan tidak ingin melihat atau mendengar bahwa Zara kesulitan dalam hal apapun. Karena kesedihan Zara membuat hatinya bagai tersayat.


"Aku sayang sama kamu Zara. Apapun akan aku lakukan untukmu meski aku harus mengorbankan nyawaku. Kamu sudah sangat kesulitan selama ini. Biarkan aku membahagiakanmu ya?" ujar Zidan lembut. Ia menatap Zara dengan lekat. Zara tiba-tiba menangis. Ia merasa tak pantas dengan perlakuan yang Zidan berikan. Zidan menyeka air mata Zara dengan lembut. Ia memajukan wajahnya perlahan kemudian mencium bibir Zara.


"Tuan muda, waktunya rapat ber..." ucap Fanny terhenti saat melihat Zidan dan Zara berciuman. Zara segera mendorong Zidan ketika mendengar suara Fanny yang tiba-tiba masuk ruangan.


"Bisakah kamu mengetuk pintunya dulu sebelum masuk Fan?" ucap Zidan kesal. Tak memungkiri saat ini mereka sedang malu.


"Maafkan saya yang sudah lancang tuan muda," ucap Fanny meminta maaf.


"Bukankah setiap harinya aku selalu begitu? Keluar masuk ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, haih," batin Fanny sedikit bingung.


Zidan berdiri dan merapikan jasnya. Ia meminta Zara untuk ikut ke manapun Zidan meeting atau apapun aktivitasnya selama kerja. Zidan ingin Zara sambil belajar hingga saatnya nanti Zara bisa menjadi sekretaris pribadinya.


Mereka segera bersiap untuk bertemu klien. Kali ini mereka memilih tempat yang lebih dekat dengan kantor dan tentunya untuk makanan dan minuman lebih diperhatikan lagi. Mengingat terakhir kalinya Zara ikut justru membuat Zara hingga mabuk.

__ADS_1


Sebenarnya Zara juga senang. Ia jadi punya pekerjaan. Bukan hanya duduk dan menunggu Zidan. Zara akan lebih giat belajar lagi. Ia tidak ingin mengecewakan Zidan yang sudah mempercayainya.


__ADS_2