Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 118


__ADS_3

Alina masih menggedor pintunya. Berusaha agar Arvin membukakan pintunya. Alina masih terisak dalam kesedihannya. Kini ia tersadar bahwa apa yang ia lakukan kali ini adalah hal terbodoh yang pernah ia sesali.


"Mas, maaf," ucap Alina lirih.


Di luar, terdengar suara Zidan dan Barra baru pulang sekolah. Mereka berlari sambil mencari keberadaan Alina. Namun mereka berdua tak menemukan Alina.


"Mommy...." panggil Zidan saat masuk ke dalam kamar. Ternyata kosong. Bahkan papanya juga tidak ada di kamar. Zidan mengetuk pintu kamar mandi, namun kamar mandi tersebut tidak terkunci. Sehingga Zidan bisa mengintip ke dalam kamar mandi. Tetap saja ia tidak menemukannya.


"Bi, apa bibi melihat mommy?" tanya Zidan terhadap bi Sumi.


"Saya tidak tahu tuan muda. Tapi kalau tuan ada di ruang kerjanya," jawab bi Sumi.


Zidan mengangguk. Ia bergegas menuju kamar bersama Barra. Kemudian berganti baju. Mereka menuju meja makan.


Di ruang kerjanya, Arvin berbaring di sofa dengan tangan satunya ia letakkan di atas keningnya dan masih terkepal. Ia masih teringat saat Alina berada di ruang operasi yang berusaha menggugurkan kandungannya.


Arvin bangkit lalu duduk. Mengacak rambutnya dengan kasar. Napasnya masih terengah menahan amarahnya. Kakinya menendang keras meja yang ada di depannya. Ia membuka jasnya dan membuangnya sembarangan. Membuka kancing lengannya dan menggulungnya dengan asal hingga ke siku.


"Aaaahhh... Sial!" ucap Arvin dengan keras dan semakin mengacak rambutnya dengan kasar.


Ia bangkit dan menuju meja kerjanya. Membanting barang yang ada di sana tanpa kecuali. Bahkan ia sempat melayangkan pukulannya ke mejanya. Yang mengakibatkan jemarinya terluka. Namun Arvin tidak peduli.


Tok tok tok


"Papa?" panggil Zidan dari balik pintu.


Arvin terdiam sejenak. Ia harus bisa menguasai dirinya sendiri. Jangan sampai Zidan kena akibatnya. Arvin berulang kali menarik dan membuang napasnya dengan pelan. Mencoba menetralisir dirinya sendiri.


Setelah cukup tenang, ia menuju pintu. Ia tak peduli lagi dengan penampilannya yang acak-acakan saat ini.


"Ada apa sayang?" ucap Arvin setenang mungkin.

__ADS_1


"Pa, di mana mommy?" tanya Zidan.


Arvin terdiam sejenak. Ia sedang memikirkan jawaban apa yang akan ia ucapkan.


"Sementara jangan ganggu mommy dulu ya sayang. Zidan tolong bantu papa jagain adik-adik ya," jawab Arvin dan sedikit tersenyum. Ia mengusap puncak kepala Zidan.


"Kenapa pa? Mommy di mana? Apa mommy sakit?" tanya Zidan khawatir. Arvin tersenyum tipis.


"Jangan khawatir. Mommy baik-baik saja," ucap Arvin. Zidan mengangguk dengan ragu.


"Pa?" panggil Zidan lirih.


"Ya sayang?"


"Apa papa habis bertengkar dengan mommy?" tanya Zidan hati-hati. Ia mendongak menatap Arvin.


"Tidak. Untuk apa papa bertengkar dengan mommy? Zidan tidak usah berpikir yang tidak-tidak ya. Zidan cukup jagain adik Barra dan adik Raffa untuk hari ini saja," ucap Arvin yang berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Zidan.


"Iya papa," jawab Zidan sambil mengangguk. Kemudian berlalu meninggalkan Arvin. Arvin berdiri dan menutup pintunya. Ia menuju kamarnya. Ia menuju kamar mandi dan mengunci dirinya di sana. Mengguyur tubuhnya dengan air yang terus mengalir agar amarahnya bisa cepat reda.


Sebelum keluar kamar, ia melirik jam dinding sekilas. Ini sudah pukul 15.45, berarti ia sudah lama sekali berada di kamar mandi. Arvin berjalan menghampiri anak-anaknya.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Arvin yang baru saja mendudukkan dirinya di sofa.


"Sudah Pa," jawab Zidan dan Barra bersamaan.


"Papa mommy kenapa belum pulang?" tanya Barra tiba-tiba. Arvin mengernyitkan dahinya. Pulang dari mana? Bahkan Arvin tak berkata apapun pada putra keduanya itu.


"Adik sama abang saja ya. Mommy masih ada urusan di luar," ucap Zidan mengalihkan perhatian Barra. Zidan mengedipkan sebelah matanya kepada Arvin. Arvin tersenyum. Ternyata itu hanya untuk membohongi adiknya.


"Mommy pulangnya besok, gimana dong?" tanya Arvin sambil menghampiri Barra dan memangkunya. Terlihat kesedihan di wajah putranya itu. Bibirnya mengerucut saat mendengar jawaban itu. Arvin mencium putranya itu dengan gemas.

__ADS_1


Ia beralih menghampiri bi Sumi untuk mengambil alih Raffa. Waktunya untuk minum susu. Mau tak mau ia harus membawanya ke Alina. Arvin tak mungkin membiarkan Raffa kehausan. Namun sebelum ke ruangan Alina, Arvin juga tak lupa membawakan Alina makanan. Bagaimanapun Alina sedang mengandung saat ini. Ia juga tak ingin mengambil resiko.


Klek


Pintu kamar terbuka. Alina yang duduk di tepi ranjang langsung menatap ke arah pintu. Ia mengembangkan senyumnya saat melihat Arvin membawa Raffa kepadanya.


"Mas," ucap Alina dan buru-buru menghampiri suaminya.


"Makanlah dulu baru boleh menggendong Raffa," ujar Arvin. Ia sama sekali tak menatap Alina. Alina mengangguk dan mengambil makanan yang dibawa oleh Arvin. Ia menuju ranjangnya dan mulai makan. Arvin memperhatikan Alina dalam diam. Ingin sekali ia merengkuh istrinya saat ini. Namun ia harus menghukum istrinya agar jera dan tak mengulangi perbuatannya.


"Boleh aku gendong Raffa sekarang mas?" tanya Alina setelah selesai makan. Arvin mengangguk dan memberikannya pada Alina. Alina menciumi Raffa seperti sudah lama tak bertemu. Ia langsung menyusui Raffa.


"Mas, ada apa dengan tanganmu?" tanya Alina tanpa sengaja mengetahui luka di jemari Arvin.


"Tidak apa-apa," jawab Arvin datar.


"Aku obati ya setelah ini," ucap Alina merasa khawatir.


"Kalau kamu memang khawatir, seharusnya kamu mengkhawatirkan bayi yang ada di perutmu itu," balas Arvin datar. Ia sama sekali tak menatap Alina. Alina menunduk. Ia tak bersuara lagi setelah itu. Ia fokus pada Raffa.


Selesai Alina menyusui Raffa, Arvin mengambil lagi Raffa. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun setelah itu. Arvin berlalu meninggalkan Alina di sana.


"Jangan lupa untuk memikirkan keputusanmu Alina!" ucap Arvin sebelum benar-benar menutup pintunya.


Alina kembali terisak. Baru kali ini mereka bertengkar hebat setelah pernikahan. Memang ini kebodohannya. Entah mengapa setelah Arvin memberikannya kesempatan, ia sama sekali tak ada niat sedikitpun untuk menggugurkannya lagi. Alina mengusap perutnya yang masih rata.


"Maafkan kebodohan mommy sayang. Yang hampir mencelakaimu," ucap Alina pelan. Ia benar-benar menyesal.


Tanpa terasa, hari semakin gelap. Di ruangan tersebut tak ada lampu. Karena takut, Alina memilih untuk tidur dan menyelimuti dirinya. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya sendiri.


Perlahan, Arvin membuka pintu ruangan tersebut. Ia masih bisa melihat karena di dalam ruangan itu tak sepenuhnya gelap. Remang-remang, namun Arvin yakin Alina begitu ketakutan.

__ADS_1


Arvin menghampiri Alina. Ia meletakkan lampu kecil di nakas. Arvin duduk di tepi ranjang. Ia mengusap kening Alina dengan pelan. Meskipun ia sedang marah, ia tak setega itu membiarkan istrinya ketakutan dalam kegelapan.


"Semoga besok aku bisa mendengar jawaban yang memuaskan darimu Alina. Aku harap kali ini kamu tidak melakukan hal yang ceroboh lagi," ucap Arvin dengan pelan. Ia mencium kening Alina begitu lama. Setelah itu berlalu meninggalkan Alina di dalam sana.


__ADS_2