
Brakk
"Tunggu!"
Dokter dan perawat itu terkejut. Mereka menatap ke arah pintu. Ditengah-tengah sedikit kesadarannya, Alina mengenali siapa yang berdiri diambang pintu itu.
"Ma-mas," ucap Alina dengan lirih. Kemudian ia tak sadarkan diri akibat pengaruh biusnya.
"Siapa Anda?" tanya dokter tersebut bingung.
"Saya adalah suaminya. Saya mohon jangan lakukan ini," ucap Arvin mendekati mereka. Dokter dan perawat itu saling bertukar pandang.
"Saya mohon dok batalkan niat gila istri saya ini. Saya mohon," ucap Arvin memohon sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Baiklah pak. Mohon bapak tunggu di luar," ucap dokter tersebut. Sebelum Arvin keluar, ia menatap sendu Alina.
"Sus, batalkan operasinya dan pindahkan pasien di ruang perawatan," perintah dokter itu. Perawat mengangguk dan memindahkan Alina di ruang perawatan.
Arvin membuntuti hingga ke ruang perawatan tersebut. Ia perlahan mendekati Alina yang masih belum sadar.
"Bagaimana bisa kamu tega melakukan ini Alina? Aku bahkan tak habis pikir, kamu tega membunuh anak kamu sendiri," gumam Arvin berusaha menahan amarahnya. Ia mengepalkan tangannya.
"Jika aku tidak menyuruh Farhan membuntutimu, apa kamu tidak akan menceritakan hal sebesar ini padaku? Aku adalah suamimu, tapi kamu bahkan tidak ingin aku tahu soal ini?" gumam Arvin semakin menahan amarahnya.
Ia duduk di samping menunggu Alina hingga tersadar. Dengan raut wajah penuh amarah yang tak dapat dijelaskan lagi.
*F**lashback on*..
"Farhan!"
__ADS_1
"Ya tuan," jawab Farhan dengan sopan. Saat mereka sudah sampai di ruangan.
"Hari ini tolong awasi nyonya dan laporkan pada saya setiap hal yang dilakukannya," perintah Arvin.
"Baik tuan. Tapi kenapa tuan tiba-tiba ingin saya mengawasi nyonya?" tanya Farhan bingung.
"Lakukan saja perintahku! Ingat, harus sedetail mungkin," ucap Arvin.
Farhan mengangguk paham. Ia pamit pada Arvin dan segera melaksanakan tugasnya. Arvin sempat memberitahunya jika jam segini Alina pasti berada di sekolah Barra untuk mengantar putranya itu. Benar saja, saat Farhan baru sampai di sana, ternyata Alina sedang beradu argumen dengan sopir yang setiap hari mengantarnya. Farhan mengamati apa yang sedang terjadi.
Beberapa saat kemudian, ia melihat Alina naik taksi. Farhan buru-buru mengikuti Alina. Ia sempat bingung apa yang terjadi tadi sehingga Alina memilih naik taksi. Farhan terus mengirimkan kabar kepada Arvin.
Ia sempat berpikir jika Alina akan berkunjung ke rumah orang tuanya seperti yang Arvin ceritakan padanya. Namun itu sama sekali tak mengarah ke sana. Hingga taksi tersebut berhenti di salah satu rumah sakit yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Farhan mengernyitkan dahinya. Apa yang akan dilakukan oleh nyonyanya kali ini.
"Tuan, nyonya berkunjung ke rumah sakit Pelita Indah. Tapi saya belum tahu untuk apa nyonya ke sini," ujar Farhan dalam pesan singkatnya.
"Kamu terus awasi dia," balas Arvin. Arvin juga tidak mengerti apa yang akan dilakukan Alina. Kenapa Alina memilih tempat yang begitu jauh padahal di sekitar tempat tinggalnya juga ada rumah sakit.
"Nyonya berkunjung ke dokter kandungan tuan," isi pesan yang dikirimkan oleh Farhan.
"Baiklah, terus awasi dia. Kalau bisa kamu harus mendengar setiap percakapan mereka," perintah Arvin. Arvin mengembangkan senyumnya. Mungkinkah Alina memeriksakan dirinya untuk mengecek apakah dia hamil atau tidak? Hati Arvin terlihat senang. Ia sudah tidak sabar dengan kejutan yang akan istrinya ini katakan padanya nanti.
Farhan dibuat bingung dengan keinginan tuannya itu. Tak mungkin jika ia menyelinap ke dalam ruangan itu. Namun jika tidak, bagaimana ia akan mengetahui semua percakapan mereka. Farhan masih memperhatikan Alina sambil memikirkan cara untuk mengetahui hal yang ingin tuannya ketahui.
Farhan punya ide. Ia kembali ke mobilnya sejenak untuk mengambil sesuatu. Kemudian buru-buru ia kembali ke ruangan itu. Ia mengambil alat penyadap suara. Ia harus menaruhnya di dalam sana. Tapi bagaimana rencana ini berhasil. Ia memutar otaknya. Waktunya tidak banyak, sebentar lagi Alina akan masuk ke dalam.
Yah, ia harus bisa menaruh alat itu ke perawat yang bertugas memanggil pasien satu persatu. Farhan mengamati sekelilingnya. Ia takut jika Alina menyadari kedatangannya. Tidak, itu terlalu berbahaya jika ia menghampiri perawat itu. Farhan tak kehabisan ide. Ia mendekati salah satu pasien dan mencoba bernegosiasi dengan mereka. Rencananya berjalan mulus, salah satu ibu hamil tersebut bersedia membantu Farhan. Farhan meminta tolong kepada ibu hamil itu untuk menaruh alat tersebut di dalam ruangan itu. Di mana saja asalkan tidak ada yang mencurigainya.
Selang beberapa waktu, kini giliran Alina. Rencana Farhan berhasil dan kini ia akan memperhatikannya dari luar tanpa gusar. Obrolan mereka masih wajar. Ia berpikir tuannya ini berlebihan. Hanya karena istrinya ke rumah sakit, ia harus mengetahui sejelasnya. Baru ia bernapas lega, ia terkejut dengan apa yang Alina ucapkan.
__ADS_1
Menggugurkan kandungan? Tapi kenapa? Bukankah itu anak tuannya? Darah daging mereka? Pikiran Farhan kacau. Ia tidak bisa berpikir jernih dan apa alasan Alina untuk menggugurkannya.
"Tuan gawat!! Nyonya, dia.. Berusaha untuk menggugurkan kandungannya," isi pesan Farhan yang sukses membuat Arvin tercengang. Tanpa basa-basi, Arvin segera keluar dari kantornya dan menuju rumah sakit tersebut.
"Sial! Kenapa tempatnya jauh sekali! Aku harap kamu tidak melakukan kebodohan Alina!" gerutu Arvin sambil melajukan mobilnya. Arvin menghubungi Farhan.
"Ya tuan?" jawab Farhan dari balik telepon.
"Halangi bagaimanapun caranya. Jika terjadi sesuatu pada anak dan istriku, aku tidak akan mengampunimu Farhan!" ancam Arvin.
Glek
Farhan hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Ancaman itu terlihat mengerikan.
"Baik tuan, akan saya usahakan," ucap Farhan. Ia berusaha untuk menunda operasinya setidaknya sampai Arvin datang.
"Sial! Apa yang kamu lakukan Alina? Lihat saja jika kamu sampai berani melakukannya!" gerutu Arvin di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Ia terlihat khawatir sekaligus marah. Entah perasaannya sudah campur aduk. Ia tak habis pikir terhadap istrinya sendiri. Bagaimana tega Alina melakukan itu? Sedangkan itu adalah darah dagingnya sendiri.
Cukup lama waktu yang Arvin butuhkan hingga ia sampai di rumah sakit Pelita Indah.
"Tuan, nyonya ada di dalam," ucap Farhan dengan takut. Ia tak yakin jika nyawanya kali ini akan selamat. Keringat membanjirinya.
Tanpa berpikir panjang, Arvin menendang pintu kamar operasi dengan kasar. Ia sangat marah kali ini.
Brakk
"Tunggu!"
Flashback off...
__ADS_1
Arvin masih setia menemani Alina. Ia tak hentinya memperhatikan wajah Alina yang sedang tak berdaya akibat pengaruh bius itu. Ia melipat tangannya di dadanya. Sedangkan Raffa berada di box bayi yang terletak tak jauh dari kasur Alina.