Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 120


__ADS_3

Alina menyodorkan sendok yang berisi bubur dan Arvin memakannya begitu saja. Alina tersenyum tipis. Akhirnya suaminya ini mau makan juga.


Alina menyuapinya hingga habis tak tersisa. Ia juga sempat ingin mengelap ujung bibir Arvin namun segera Arvin tahan. Setelah minum obat, Alina menyuruh Arvin untuk istirahat. Arvin begitu saja memejamkan matanya.


Alina kembali mengurus Raffa. Ia memilih duduk di sofa sambil bermain bersama Raffa. Terdengar gelak tawa Alina saat melihat Raffa yang begitu menggemaskan.


Tanpa terasa waktu sudah siang. Arvin hampir seharian berbaring di tempat tidur. Dokter Santoso kembali berkunjung untuk memeriksa perkembangan Arvin. Setelah dipastikan baik-baik saja, dokter Santoso melepas infus tersebut yang memang sudah habis.


"Perbanyaklah minum air putih dan istirahat. Ingat, beberapa hari ini harus istirahat. Jangan ke kantor," nasihat dokter Santoso.


"Nyonya Alina, tolong jaga suami Anda agar tidak melakukan hal yang konyol lagi," ucap dokter Santoso sambil melirik ke arah Arvin.


"Sialan kau!" umpat Arvin kesal. Dokter Santoso terkekeh mendengar umpatan Arvin.


"Baiklah, terima kasih banyak dokter. Saya akan menjaga kesehatan suami saya," jawab Alina ramah.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga cepat sembuh," ucap dokter Santoso dan ia pamit undur diri.


"Mas, memangnya apa yang kamu lakukan semalam hingga kamu jatuh sakit seperti ini?" tanya Alina mendekat dan duduk di samping Arvin.


"Bukan urusan kamu," jawab Arvin ketus. Alina menghela napasnya. Baiklah, bersabarlah dahulu untuk sementara waktu hingga Arvin sembuh.


Tak lama setelah itu, Zidan dan Barra sudah pulang dari sekolahnya. Dan kebetulan sekali Lita datang berkunjung ke rumah mereka.


"Neneeekk..." sapa Zidan dan Barra bersamaan.


"Halo sayang.. Apa kabar? Nenek kangen banget sama kalian," ucap Lita menyambut kedua cucunya. Ia membentangkan kedua tangannya. Zidan dan Barra berlari memeluk neneknya.


"Baru pulang sekolah?" tanya Lita. Keduanya mengangguk.


"Di mana mommy kalian?" tanya Lita sambil berjalan menuju sofa ruang tamu.


"Mungkin di kamar. Papa lagi sakit, jadi mommy menemani papa," jawab Zidan.


"Apa? Sakit apa sayang?" tanya Lita panik.


Keduanya menggelengkan kepala. Lita tersenyum dan membawa mereka ke kamar untuk berganti bajunya. Sekalian ia ke kamar Arvin dan Alina untuk melihat keadaan anaknya itu.

__ADS_1


"Mama?" ujar Alina yang terkejut melihat kedatangan Lita.


"Katanya suami kamu sakit, sakit apa?" tanya Lita dan duduk di samping Arvin. Ia menatap Alina sekilas lalu beralih menatap Arvin yang sedang terbaring di kasurnya.


"Itu Ma, mas Arvin sakit~"


"Kelelahan saja. Kaya mama tidak pernah muda saja," jawab Arvin menyela ucapan Alina.


Alina membulatkan matanya seraya tak percaya apa yang diucapkan suaminya itu. Sedangkan Lita hanya terkekeh mendengar jawaban dari anaknya itu.


"Baiklah, mama kira sakit apa. Istirahatlah," ucap Lita dan tersenyum tipis. Lita beranjak dan ingin keluar kamar. Namun Arvin memanggilnya sehingga Lita berbalik menatap mereka lagi.


"Ma," ucap Arvin.


"Ya sayang?" jawab Lita.


"Kami ada kabar baik untuk mama," ujar Arvin. Ia menatap istrinya. Alina tersenyum tipis kemudian duduk di samping Arvin.


"Kabar baik apa?" tanya Lita bingung.


Arvin menarik Alina dan mencium pelipisnya sekilas. Alina menatap Arvin bingung. Namun Arvin hanya mengedipkan sebelah matanya.


"Apa?" ucap Lita terkejut. Ia menutup mulutnya dengan tangannya.


"Iya Ma, Alina hamil lagi," jawab Alina malu-malu.


"Benarkah? Mama turut bahagia sayang," ujar Lita dan menghampiri mereka.


"Tapi... Bagaimana dengan Raffa?" tanya Lita hati-hati.


"Mama tidak perlu khawatir, kami akan mengurus putra kami dengan baik. Iyakan sayang?" ujar Arvin dan ada sedikit penekanan di akhir ucapannya. Alina menelan salivanya dengan kasar. Ia tersenyum kikuk di hadapan mereka. Lita memeluk Alina dengan senang.


"Baiklah, baiklah. Kalian sama-sama dewasa, mama percaya kepada kalian berdua. Ingat, tetap jaga kesehatan sayang," ucap Lita sambil menangkup wajah Alina.


"Pasti Ma," jawab Alina.


Lita pamit untuk pulang. Karena ia ke sini hanya ingin melihat kabar cucunya. Lita hanya ingin mampir sebentar ke sini sebelum pergi ke acaranya dengan teman-teman arisannya.

__ADS_1


Alina tak dapat menahannya. Mertuanya mau datang ke sini saja ia sudah senang sekali. Bahkan dirinya jarang berkunjung ke rumah mertuanya itu. Meskipun hubungannya dengan mertuanya kini sudah jauh lebih baik karena Mahardika sudah mau mengakui dan menerimanya menjadi menantu keluarga Mahardika.


Alina melihat Zidan dan Barra sejenak. Mereka berdua asik dengan mainannya. Alina tersenyum tipis karena Zidan sudah bisa menjaga adiknya itu dengan baik. Ia bersyukur, Zidan begitu menyayangi adik-adiknya. Alina memutuskan untuk kembali ke kamar.


"Mas, tadi sikap mas ke Alina apakah mas sudah memaafkan kesalahan Alina mas?" tanya Alina hati-hati.


"Jangan ge'er dulu. Aku hanya tidak mau mama tahu tentang niat kamu yang mau menggugurkan kandungan itu. Aku tidak mau membuat mama khawatir," jawab Arvin datar. Walaupun sebenarnya apa yang ia katakan tak sepenuhnya benar. Arvin bersikap demikian tadi karena ia juga sudah memaafkan Alina. Namun ia perlu menghukum Alina sedikit. Meskipun itu sangat menyiksa bagi Arvin.


"Kamu masih marah sama aku mas?" tanya Alina sambil mengernyitkan dahinya.


"Kamu pikir?" jawab Arvin.


"Aku harus gimana agar mas mau maafin aku?" tanya Alina sedih. Ia tak tahan jika harus berjauhan dengan suaminya.


"Usaha dong. Nggak peka banget sih," ucap Arvin masih dengan nada yang sama, datar.


Alina terdiam. Bagaimanapun usahanya, Arvin tetap bersikap sama. Ia bahkan tak tahu lagi harus apa.


Tak lama, Zidan dan Barra masuk ke kamarnya. Lagi-lagi mereka tak mengetuk pintunya dan langsung membukanya begitu saja. Mereka berlari dan langsung naik ke ranjang.


"Papa sakit apa?" tanya Zidan.


"Papa jangan sakit," ujar Barra.


Arvin tersenyum. Ia memeluk kedua putranya dengan penuh kasih sayang.


"Papa baik-baik saja sayang. Lihat, papa sudah sehatkan?" ujar Arvin. Mereka masih berpelukan. Sedangkan Alina menggendong Raffa.


Ayah dan anak tersebut mengobrol dan saling bercanda. Sedangkan Alina masih mengurus Raffa dan duduk di sofa. Sambil sesekali ia memperhatikan mereka yang berada di atas kasur. Walaupun Arvin masih merasa sedikit pusing, itu tidak ada artinya jika di sampingnya ada dua jagoan yang selalu membuatnya lebih baik dan bahagia. Dihadapan anak-anaknya, Arvin tak ingin terlihat sakit ataupun sedih. Ia harus bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya.


***


Jaga selagi ada. Rawat selagi sempat.


Karena beberapa yang hilang takkan pernah pulang. Karena beberapa yang pergi takkan pernah kembali.


-Titrasi_Rasa-

__ADS_1


Semoga Alina bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari kejadian ini😇


__ADS_2