Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 03 (season 2)


__ADS_3

Pagi hari seperti biasanya. Alina memasak menu untuk sarapan suami dan anak-anaknya. Bahkan ia tidak lagi mempekerjakan pembantu. Semua tugas dan tanggung jawab rumah ia yang menangani.


"Pagi sayang," bisik Arvin sambil memeluk Alina dari belakang.


"Mas, mandi dulu sana," ujar Alina sambil melepas pelukan Arvin.


"Nggak mau," jawab Arvin santai. Ia masih memeluk dan menenggelamkan kepalanya di tengkuk Alina.


"Pagi Mom. Pagi Pa," sapa Alisya kemudian menarik kursi dan duduk. Ia meminum susu yang telah Alina siapkan di meja makan. Disusul Barra, Raffa, dan Zidan.


"Mas, malu dilihat anak-anak," ujar Alina. Arvin terkekeh. Ia melepas pelukannya dan duduk di kursi bersama anak-anaknya.


"Mandi dulu mas baru makan," ucap Alina. Arvin hanya mendengus kesal. Keempat anak-anaknya yang menyaksikan adegan itu yang hampir setiap hari hanya bisa menahan tawa dan pura-pura acuh.


"Mom, Alisya berangkat duluan ya. Hari ini ada ujian," ujar Alisya dan mencium punggung tangan Alina beserta ketiga kakaknya bergantian.


"Loh, nggak sarapan dulu? Atau mommy buatkan bekal sayang," ujar Alina.


"Tidak Mom, nanti makan di kantin saja," ucap Alisya.


"Yang serius sekolahnya," ucap Zidan sambil mencubit hidung Alisya dengan gemas.


"Bawel," jawab Alisya dan menjulurkan lidahnya.


Alin hanya tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.


"Pagi tante," sapa Fanny. Ia berjalan menuju meja makan.


"Pagi, sini sarapan bareng," ajak Alina. Fanny mengangguk dan duduk di sana.


"Kalian teruskan sarapannya ya. Mommy mau ke atas dulu," ucap Alina. Mereka menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Alina berjalan menuju kamarnya. Saat sampai di kamar, ia melihat Arvin yang sedang bersiap untuk ke kantor. Alina tersenyum manis dan mendekat ke arah suaminya.


"Sini aku bantu," ucap Alina sambil menarik dasi. Ia mengikatkan dasi tersebut. Arvin menatap Alina dengan lekat. Sambil sesekali mencium kening Alina.


Setelah bersiap, mereka turun menuju meja makan untuk sarapan.


"Mom, Barra berangkat dulu ya. Hari ini ada sidang pagi," ucap Barra. Ia mencium tangan Arvin dan Alina bergantian. Alina tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


Di meja makan, Raffa, Zidan, dan Fanny sudah selesai makan. Mereka mengobrol santai selepas sarapan.


Zidan dan Fanny beralih ke ruang tengah untuk membahas pekerjaannya nanti. Sedangkan Raffa masih duduk di sana sambil memainkan ponselnya.


"Nggak kuliah?" tanya Arvin. Raffa hanya menggeleng pelan. Arvin menghela napasnya pelan. Raffa ini tergolong irit bicara. Bahkan sikapnya lebih dingin dari Zidan.


"Mom, Pa, Raffa ke kamar duluan," pamit Raffa. Alina menatap Raffa lalu mengangguk.


"Sayang, yakin dia itu anak kita? Sikapnya dingin banget sih. Perasaan aku juga nggak segitunya," ucap Arvin asal sambil menikmati sarapannya.


Terkadang Alina berpikir jika ini akibat dari kelahiran Alisya, adiknya itu. Pasalnya, jarak lahir antara mereka juga tidak jauh. Alina juga sering merasa bersalah, ia berpikir jika Raffa lebih pendiam karena marah terhadap Alina yang harus membagi perhatiannya dengan Alisya.


Namun nyatanya tidak demikian, Raffa sama sekali tidak pernah merasa cemburu dengan kasih sayang Alina yang harus dibagi dengan adiknya itu karena Alisya lebih membutuhkannya. Sampai detik inipun sulit untuk mencairkan sifat yang sudah melekat pada Raffa.


Selesai sarapan, Arvin pamit untuk pergi ke kantor. Meskipun Alina sudah beberapa kali memohon agar menyerahkan seluruh tanggung jawabnya kepada putranya, tetap saja Arvin belum ingin mengundurkan diri dari perusahaannya. Selagi ia mampu, ia akan terus bekerja.


"Fan, apa ada perkembangan, kerja sama kita dengan tuan Raymond?" tanya Zidan yang menatap Fanny dengan lekat.


"Tuan Raymond masih kekeh dengan syarat yang dia ajukan tempo lalu. Jika tuan muda bersedia untuk menghadiri pesta ulang tahun putrinya, tuan Raymond akan tanda tangan saat itu juga," jelas Fanny tegas.


Zidan berpikir sejenak. Hanya menghadiri pesta ulang tahun namun itu sangat sulit bagi Zidan. Ia tidak tertarik sama sekali dengan syarat seperti itu.


"Apa ada cara lain agar tuan Raymond segera tanda tangan kerja sama ini?" tanya Zidan. Ia menatap langit-langit ruangan tersebut. Ia harus memikirkan cara agar persyaratan itu bisa diganti. Fanny menggeleng pelan. Itu bukan di bawah kendalinya.

__ADS_1


"Sial!" decak Zidan sambil mengepalkan tangannya. Ia bukan sok jual mahal atau apa. Karena ia tahu betul jika putri dari tuan Raymond adalah wanita centil yang suka menggoda. Zidan tidak ingin terlibat masalah nantinya.


"Baiklah, kita siap-siap ke kantor," ujar Zidan. Fanny menganguk, ia berdiri di samping Zidan. Setelah ia pamit pada mommy nya, mereka segera melajukan mobilnya menuju kantor.


Alina mengurus rumahnya sendirian. Mulai dari menyapu, mengepel, mengelap perabot rumah tangga dan lain sebagainya. Ia lebih suka mengerjakannya sendiri. Karena Alina merasa bosan jika di rumah tidak melakukan apapun.


"Mom, Raffa bantuin ya," ucap Raffa yang baru keluar kamarnya.


"Eh, nggak usah sayang. Ini juga hampir selesai kok," jawab Alina. Raffa mengangguk dan berjalan menuju ruang tengah. Ia menyalakan televisi.


Di rumah kembali sepi. Hanya ada Alina, Raffa, dan pak Kariman, sopir mereka. Anak-anaknya sudah sibuk sendiri dengan dunianya. Untung Raffa hari ini libur kuliah, masih ada yang menemaninya mengobrol dan bersantai.


Sementara itu, Zidan menuju kantornya. Saat di perempatan lampu merah, ia tak sengaja melihat seorang perempuan sedang menjajakan minuman dingin. Zidan mengamati perempuan itu. Ia terlihat mandiri dan pantang menyerah. Di usianya yang mungkin sepadan dengan Raffa itu, perempuan itu justru menghabiskan waktunya untuk bekerja.


"Ada apa tuan muda?" tanya Fanny yang melirik Zidan dari spionnya.


"Tidak ada. Aku hanya kagum dengan perempuan itu," ujar Zidan yang masih memperhatikan perempuan tersebut.


"Apa perlu saya selidiki latar belakangnya tuan muda?" tanya Fanny kembali.


"Untuk apa? Aku hanya kagum saja, tidak menyukainya," jawab Zidan ketus. Fanny hanya menatap Zidan dari spion lalu tersenyum tipis.


"Tidak tertarik tetapi terus menatapnya. Memangnya ada yang seperti itu?" batin Fanny.


Lampu sudah berganti hijau. Fanny kembali melajukan mobilnya. Zidan hanya diam sambil terus menatap perempuan tersebut.


"Lihatlah, bahkan Anda terus menatapnya seperti itu, kenapa tidak bisa bilang terus terang saja jika Anda penasaran terhadap wanita itu," batin Fanny meraung.


"Fanny, jangan berpikiran yang tidak-tidak," ucap Zidan. Fanny hanya tertawa kecil karena Zidan selalu saja bisa membaca pikirannya.


Sampainya di kantor, mereka segera menuju ke ruangan. Sepanjang perjalanannya dari lobi menuju ruangan pribadinya tak hentinya para karyawannya khususnya wanita menatapnya dengan kagum.

__ADS_1


__ADS_2