
Zara menyiapkan pesanan yang akan ia antar. Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan kepada pak Ramdhani. Kenapa harus dirinya yang mengantarnya. Biasanya juga kurir atau ojek online yang mengantar pesanan tersebut.
Dirinya hanya seorang barista. Apapun yang ditugaskan pada atasannya ia harus melaksanakannya. Ia tidak ingin mendapat masalah atau sampai dipecat. Karena hanya pekerjaan ini tempat ia menggantungkan hidupnya.
"Ra, mau ke mana?" tanya Arka yang baru sampai di sana.
"Mau antar pesanan," jawab Zara santai.
"Kenapa kamu yang antar? Sini, biar aku saja," ujar Arka sambil mengambil pesanan tersebut.
"Nggak Ka. Biar aku saja. Jika tidak, aku bisa kehilangan pekerjaan ini," ujar Zara.
"Papaku yang menyuruhmu?" tanya Arka sedikit kesal. Zara hanya diam. Untuk saat ini ia tidak ingin berdebat dengan Arka. Ia meninggalkan Arka tanpa menjawab pertanyaannya.
"Zara, ini kunci sama suratnya. Hati-hati ya," ucap Fitri. Salah satu pegawai senior di sana. Zara mengangguk dan menerima kunci dan surat motor tersebut.
"Ra, sini aku antar," ujar Arka sambil menarik tangan Zara.
"Nggak, aku bisa sendiri Ka. Kamu jangan mempersulitku ya. Tolong," ucap Zara penuh harap. Arka menghentikan langkahnya dan melepas genggaman tangannya. Ia mengangguk pelan dan memberikan jalan untuk Zara.
Zara mulai menaiki motor tersebut dan melajukan ke alamat yang sudah diberitahukan padanya. Zara melajukan motornya santai.
Setelah beberapa menit, ia sampai di tempat tujuan. Zara memarkirkan motornya dan mulai memasuki lobi. Zara mengambil catatan yang berisi alamat tersebut. Ia memastikan jika alamat yang ia tuju tidak salah.
"Permisi mbak, saya mau mengantar pesanan atas nama bapak Zidan," ucap Zara kepada resepsionis tersebut. Setelah diberitahu, Zara mulai melangkah ke arah lift.
Ia berhenti sejenak di depan lift. Zara menjadi gugup. Bukankah seharusnya resepsionisnya sendiri yang membawa ke ruang CEO. Tetapi kenapa ia disuruh untuk ke ruangan CEO sendiri. Pikiran Zara masih berputar-putar.
"Nona Zara," sapa Fanny saat melihat Zara yang tengah berdiri mematung di depan lift.
"Bukankah ini pria yang waktu itu? Oh, tempat kerjanya di sini ya," gumam Zara yang menoleh dan memerhatikan Fanny.
__ADS_1
"Mari ikut saya. Anda sudah ditunggu oleh CEO kami," ujar Fanny. Ia menekan tombol lift yang khusus untuk CEO. Zara mengangguk dan menurut begitu saja. Di dalam lift hanya ada kecanggungan. Tiada pembicaraan yang menjadi bahasan. Baik Fanny maupun Zara hanya fokus dengan pikiran masing-masing.
"Mari nona," ucap Fanny sopan saat lift nya sudah terbuka.
Fanny membawa langsung ke ruangan Zidan. Zara diam-diam memerhatikan sekitarnya. Zara memandang takjub sekitarnya. Andai ia bisa bekerja di sini pasti hidupnya akan lebih layak lagi. Ia tidak harus kerja part time lagi.
"Tuan muda, pesanan yang Anda minta sudah datang," ujar Fanny. Zara masih menundukkan kepalanya. Ia merasa gugup karena bisa langsung berhadapan dengan CEO perusahaan ternama di kota ini.
"Kau boleh pergi Fan," ucap Zidan. Fanny mengangguk dan meninggalkan mereka berdua di ruangan tersebut.
"Siapa namamu?" tanya Zidan sambil menatap lurus ke arah Zara.
"Saya Zara pak," jawab Zara. Ia memberanikan diri untuk menatap sang CEO. Zara membulatkan matanya. Merasa tidak percaya jika dihadapannya ini pria yang waktu itu sempat menggodanya.
"Ternyata dia adalah CEO perusahaan ini. Matilah aku... Dia pasti menyuruhku ke sini karena ingin balas dendam," bati Zara dalam hatinya. Ia merasa ketakutan.
"Apa kamu berniat untuk berdiri di situ seharian?" ujar Zidan setengah datar.
"Tuhkan.. Galak banget sih orangnya. Aku harus bagaimana ini?" gumam Zara semakin menciut nyalinya. Ia melangkah sedikit demi sedikit hingga sampai di depan meja Zidan. Zara menaruh pesanan tersebut di atas meja.
"I-ini kopi Anda tuan," ucap Zara gugup. Zidan yang melihat kegugupan Zara tersenyum tipis. Sangat berbeda dengan yang ia temui waktu di kedai itu. Zara yang cuek dan pendiam.
"Sudahlah. Kenapa kamu menjadi kaku seperti ini? Aku hanya menyuruhmu untuk mengantar kopi bukan hati. Kenapa gugup sekali?" ucap Zidan. Dirinya tertawa kecil. Sungguh hal yang langka untuk Zidan bisa tersenyum terhadap orang lain. Apalagi yang baru ia kenal. Namun nyatanya hari ini sikap Zara justru membuat suasana hatinya membaik.
"Ma-maafkan saya tuan," jawab Zara. Ia meremas ujung bajunya.
Zidan mulai membuka dan menyesap kopi tersebut. Sungguh, ia belum pernah menikmati kopi seenak ini. Ini sangat cocok dilidahnya.
"Kau yang membuat kopi ini?" tanya Zidan. Ia menatap Zara lekat-lekat.
"I-iya. Saya sendiri yang membuatnya," jawab Zara.
__ADS_1
"Bagaimana jika kau bekerja di sini? Tugasmu hanya menyeduhkan kopi untuk saya. Saya akan menggajimu melebihi gajimu saat bekerja di kedai," tawar Zidan dan menatap Zara dengan serius. Zara tampak bepikir sejenak.
"Maaf tuan, tapi saya sudah terikat kerja dengan kedai kopi itu. Saya tidak bisa seenaknya mengundurkan diri," jawab Zara sopan. Zidan menghela napasnya sejenak. Ia bangkit dan mendekati Zara.
"Yakin tidak mau? Bagaimana jika saya bisa bantu kamu untuk keluar dari pekerjaanmu?" bisik Zidan. Zara semakin gugup saat berada di dekat Zidan seperti ini. Manik hitam itu terus memerhatikannya.
"Maaf tuan. Tapi saya lebih nyaman bekerja di sana," jawab Zara. Ia tidak mau dengan mudahnya tergiur dengan iming-iming gaji yang lebih tinggi. Bisa jadi ini hanya candaan biasa.
Tatapan Zidan berubah dingin. Ia menatap Zara dengan kesal.
"Kenapa? Apa ada seseorang yang kamu sukai di sana sehingga kamu enggan untuk bekerja di sini meski gaji yang saya tawarkan lebih besar?" Suara Zidan sudah berubah datar. Tak hangat saat tadi mereka mengobrol.
"Maaf, tapi saya tidak bisa menjawab hal yang bersifat pribadi. Jika tidak ada hal lain lagi, saya permisi tuan," ucap Zara dengan sopan. Ia menunduk hormat dan segera pergi dari ruangan tersebut.
"Sial!" umpat Zidan dalam hatinya.
Zara buru-buru pergi dari perusahaan tersebut. Ia tidak ingin mencari masalah dengan Zidan. Bagaimanapun juga ia masih punya pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Sedangkan Zidan duduk kembali di kursi kerjanya. Kenapa dengan membayangkan jika Zara sudah punya kekasih membuatnya begitu kesal. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan hal seperti ini pada seorang wanita.
Tak lama, Fanny kembali masuk ke ruangan tersebut. Suasana dalam ruangan itu begitu mencekam.
"Ada apalagi dengan tuan muda? Kali ini pasti dia akan marah besar," gumam Fanny.
"Fan. Cari tahu apakah wanita tadi sudah punya kekasih atau belum,"
"Ingat, cari tahu sedetail mungkin," ujar Zidan.
"Baik tuan muda," jawab Fanny sopan.
"Ada apa dengan suasana hatinya?" batin Fanny bingung. Ia sama sekali tak mengerti apa yang diinginkan oleh tuannya kini.
__ADS_1