
Pagi-pagi sekali Alina harus menahan rasa mualnya yang kian menyiksanya. Hampir setiap pagi ia harus bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu yang bahkan tidak ada yang keluar sama sekali.
Ia sempat berpikiran jika dirinya hamil lagi. Tetapi mengingat usia Raffa yang masih tiga bulan ia belum sanggup untuk hamil. Tiap kali Arvin mempertanyakan dan ingin membawanya ke rumah sakit, Alina selalu menolak dengan alasan itu hanya akibat asam lambungnya yang sedang naik saja.
Bahkan akhir-akhir ini ia sering merasa capek dan nafsu makannya juga bertambah. Apalagi makan makanan yang masam dengan begitu lahapnya. Alina tak begitu memikirkannya. Ia yakin jika dirinya tak sedang hamil seperti yang ia pikirkan sebelumnya.
Alina beraktivitas seperti biasanya, mengurus ketiga putranya dan suaminya. Mengantar Barra ke sekolah karena jika bukan Alina langsung yang mengantarnya Barra mogok sekolah. Hanya waktu pulang saja pak Kariman yang menjemputnya sekalian menjemput Zidan.
Hari ini ada pertemuan wali murid di sekolah Zidan. Dibantu bi Sumi, ia memasak menu sarapan seperti biasanya. Ia harus segera menyelesaikan tugas rumahnya agar bisa hadir pertemuan wali murid hari ini. Alina tak ingin mengecewakan Zidan. Karena biasanya Arvinlah yang mewakili untuk hadir, tapi nyatanya Arvin selalu lupa. Ya maklum saja pekerjaannya yang kian banyak dan mungkin karena sibuknya ia jadi lupa.
Seperti biasanya, bangun tidur langsung mandi lalu sarapan. Tak ada hal lain yang mereka lakukan saat pagi begini. Sibuk dengan urusan masing-masing.
"Sayang, apa perutmu sudah baikan? Aku lihat tadi pagi kamu masih mual. Apa tidak sebaiknya kita cek ke dokter," ujar Arvin saat menghampiri Alina di dapur. Ia memeluk Alina dari belakang.
"Nggak apa-apa mas. Nanti juga baikan," tolak Alina. Entah kenapa ia enggan untuk memeriksakan dirinya ke dokter.
"Ya sudahlah. Kalau ada sesuatu bilang mas ya. Atau mau mas panggilkan dokter ke sini?" tanya Arvin lagi.
Arvin sedikit curiga dengan keadaan Alina. Ia menduga jika Alina hamil lagi. Tentunya ia akan sangat bahagia jika Alina kembali mengandung. Itu artinya usahanya beberapa bulan ini berhasil. Namun saat Arvin ingin membawanya memeriksakan diri, Alina selalu menolak dengan berbagai alasannya.
"Aku nggak apa-apa mas. Sungguh, aku hanya kecapekan saja kok," jawab Alina. Arvin menghela napasnya sedikit kasar. Istrinya ini sungguh keras kepala.
__ADS_1
"Mas, nanti biar aku saja yang menghadiri acara wali murid di sekolah Zidan," ujar Alina.
"Baiklah. Tapi kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Arvin memastikan.
"Nggak apa-apa mas. Berapa kali sih aku harus mengatakannya? Aku sungguh baik-baik saja," jawab Alina sedikit kesal.
Setelah selesai sarapan, Arvin berangkat ke kantor. Tak lupa juga untuk mengantar Zidan. Sedangkan Alina harus membujuk Barra dulu agar mau pergi ke sekolah.
"Ayo ke sekolah sayang. Mommy antar," ucap Alina dengan lembut.
"Hari ini libur dulu ya Mom... Barra mau bermain di rumah saja," jawab Barra sambil berlalu meninggalkan Alina.
"Kok gitu? Nanti dimarahin bu guru mau?" tanya Alina lagi. Barra menggeleng pelan.
Sampai di taman kanak-kanak, Barra sudah sangat terlambat. Meskipun seperti itu, gurunya juga memakluminya. Karena setiap keterlambatan Barra, Alina selalu menjelaskan alasan kenapa Barra bisa sampai telat ataupun mogok sekolah.
"Maaf ya bu Barra terlambat lagi," ucap Alina meminta maaf kepada guru yang mengajar di kelas Barra hari ini.
"Tidak apa-apa bu, yang terpenting Barra mau ke sekolah saja itu sudah cukup," jawab bu guru tersebut. Alina mengangguk. Setelah memastikan Barra masuk ke kelasnya, Alina kembali pulang.
***
__ADS_1
Pukul 10.00 adalah waktu yang tertera di surat pemberitahuan untuk wali murid. Alina datang tepat waktu. Bahkan datang 10 menit sebelum acara tersebut dimulai. Ia mencari Zidan terlebih dahulu kemudian memberi Zidan bekal yang telah ia siapkan dari rumah.
Zidan senang karena Alina bersedia datang untuk acara sekolahnya kali ini. Zidan mulai menyantap bekal yang Alina bawakan untuknya. Tiba-tiba saja Alina merasakan mual kembali. Tetapi itu tak separah waktu ia berada di rumah.
"Mom? Apa mommy baik-baik saja?" tanya Zidan panik.
"Iya, mommy nggak apa-apa kok sayang," ucap Alina sambil mengusap puncak kepala Zidan.
"Kalau mommy sakit seharusnya nggak usah datang ke sini Mom. Zidan takut mommy kenapa-napa," ujar Zidan khawatir. Matanya berkaca-kaca. Alina tersenyum tipis. Ia tidak mau mengecewakan putranya ini.
"Aku harus segera cek. Apakah aku hamil atau tidak. Tapi dilihat dari gejalanya sepertinya begitu. Habis dari acara ini aku langsung beli test pack saja dulu," batin Alina. Ia hanya ingin memastikan apakah ia hamil lagi atau tidak.
Acara dimulai, para orang tua berkumpul di satu ruangan. Pertemuan kali ini membahas beberapa kegiatan yang akan diagendakan untuk para siswa. Tentu saja hal ini butuh persetujuan dari orang tua murid. Orang tua murid juga boleh mengajukan usulan jika kegiatan kali ini kurang diminati. Hal ini bertujuan agar para siswa bisa ikut andil dalam acara yang diadakan oleh sekolah tanpa terkecuali.
Pertemuan itu selesai pukul 12.30, Alina segera pulang ke rumah dan tak lupa mampir ke apotik untuk membeli test pack. Ia harus segera cek sebelum Arvin pulang. Karena ia masih ragu dengan kehamilannya kali ini. Ia harus memastikan dulu semuanya.
Sampai di rumah, Alina buru-buru menidurkan Raffa di ranjang bayi. Ia bergegas ke kamar mandi. Alina tak sabar untuk melihat hasilnya. Ia berharap agar tesnya kali ini negatif. Alina berjalan mondar-mandir di dekat wastafel. Sambil memohon agar hasilnya nanti negatif.
Perlahan, Alina memberanikan dirinya untuk mengambil test pack tersebut. Namun ia tak langsung melihatnya. Matanya masih terpejam saat mengambilnya. Ia membuka matanya sedikit. Setelah hatinya merasa tenang, ia mulai melihat hasilnya.
"Aahh," Alina menjatuhkan test pack tersebut. Matanya berkaca-kaca. Seolah tak percaya dengan hasilnya. Tangannya bergetar. Alina menggigit telunjuknya seolah tidak terima dengan hasil tersebut.
__ADS_1
"I-ini pasti salahkan? Kenapa harus positif?" Alina terduduk lemas. Dirinya mulai menangis. Ia belum siap untuk hamil lagi. Bagaimana nasib putranya yang bahkan masih menyusu itu. Alina merasa bahwa kehamilannya kali ini terlalu cepat.
"Nggak, aku nggak mau hamil sekarang. Aku belum siap untuk hamil lagi. Bagaimana ini?" ucap Alina dan meraung di kamar mandi.