Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 40 (season 2)


__ADS_3

"Raffa jawab!" suara Zidan agak meninggi. Entah kenapa, saat ini ia begitu emosi.


"Ya!" jawab Raffa singkat.


Zidan membulatkan matanya lebar-lebar. Tangannya mengepal dengan kuat. Ia berusaha menahan amarahnya.


"Apa kalian sudah lama dekat?" tanya Zidan ingin tahu lebih detail lagi tentang mereka.


"Tidak. Kami dekat karena kebetulan kami satu kelompok untuk tugas akhir semester ini," ucap Raffa jujur. Meskipun pengucapannya sangat datar.


Zidan memejamkan matanya. Ia mengacak rambutnya dengan kasar.


"Raffa, apa kamu tahu kalau Zara adalah pacar abang?" tanya Zidan lirih. Raffa mengernyitkan dahinya. Raffa menatap Zidan sekilas.


"Sudah. Raffa sudah tahu hubungan bang Zidan dengan Zara," jawab Raffa santai.


"Lalu kenapa kamu juga menyukai Zara? Kamu tahukan, abang tidak ingin berebut dengamu, apapun itu," ucap Zidan. Kini ia lebih bisa menguasai emosinya kembali.


Raffa tersenyum lebar. Ia menepuk bahu Zidan dan beralih berjalan sedikit menjauh dari kursinya. Raffa berdiri membelakangi Zidan.


"Bang Zidan tenang saja. Raffa hanya suka sebagai teman saja kok nggak lebih," ujar Raffa kembali. Ia mendongak menatap langit sekilas. Lalu menoleh dan menatap Zidan.


"Kamu yakin hanya sebagai teman saja?" tanya Zidan memastikan. Raffa hanya mengangguk pelan. Zidan melangkah menghampiri Raffa dan memeluknya erat.


"Terima kasih," ucap Zidan. Ia menepuk punggung Raffa pelan. Raffa hanya mengangguk. Mereka saling memandang dan tertawa. Raffa menepuk bahu Zidan sebelum pergi. Ia berlalu meninggalkan Zidan yang masih berada di halaman belakang.


"Maaf bang," gumam Raffa saat memasuki rumahnya.


"Zara, bagaimana aku harus menghukummu untuk kesalahanmu kali ini?" batin Zidan sambil membayangkan wajah Zara yang menggemaskan itu saat ketakutan. Ia menyeringai. Beberapa saat kemudian ia kembali ke dalam rumah.


Hari ini, Zidan sengaja menginap di rumah. Selama satu minggu ke depan hingga acara pertunangan Barra dilaksanakan, ia akan tinggal di rumah ini. Zidan juga ingin memberikan kejutan untuk Zara jika suatu waktu Zara berkunjung kembali ke rumah itu.


Malamnya, Arvin memanggil Zidan menuju ruang kerjanya. Ia ingin menanyakan beberapa hal terkait Zidan dengan Karina.

__ADS_1


Saat ini, Arvin dan Zidan sudah duduk di sofa. Suasana hening dan sedikit tegang.


"Papa mau tanya sama kamu. Apa hubungan kamu dengan Karina?" tanya Arvin langsung tanpa basa-basi. Zidan menghela napasnya pelan. Sebenarnya ia muak jika membahas Karina.


"Tidak ada. Zidan hanya terikat kerjasama dengan tuan Raymond. Tetapi Karina justru memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Zidan," jawab Zidan santai.


"Papa sudah peringatkan kamu berkali-kali. Jangan berhubungan dengan tuan Raymond lagi. Kenapa tidak mendengarkan papa?" ujar Arvin.


"Keadaannya saat itu berbeda Pa. Tetapi Zidan akan secepatnya menyelesaikan rumor itu. Zidan akan selesaikan dengan cara Zidan sendiri," ucap Zidan yakin.


"Baguslah, papa khawatir sama kamu. Kamu satu-satunya yang bisa papa andalkan saat ini. Jangan kecewakan papa," ujar Arvin. Zidan mengangguk. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.


"Pa, jika Zidan sudah menemukan gadis yang Zidan cintai, apa papa akan merestui hubungan kami?" tanya Zidan hati-hati. Arvin tertawa keras. Ia menertawakan ekspresi polos putranya itu.


"Bukankah papa sudah pernah bilang kepadamu, jika kelak kamu jatuh cinta, jika kamu yakin bisa membahagiakannya maka papa dan mommy akan merestui kalian. Namun jika Zidan hanya bisa memberinya luka, maka jangan harap kamu bisa menikahinya."


"Zidan, dulu karena kecerobohan papa, papa sempat kehilangan mommy mu dan terpaksa menikah dengan ibu kandung Zidan. Papa hanya tidak mau anak papa mengalami hal yang sama. Bertahan dengan orang yang sama sekali tidak dicintai. Papa ingin kalian mencari kebahagiaan kalian sendiri. Kalian sudah dewasa, papa yakin jika kalian bisa menemukan cinta sejati kalian masing-masing," ucap Arvin panjang lebar. Zidan tersenyum lebar mendengar hal yang diucapkan papanya.Kini hanya ada satu penghalang dalam hubungannya yaitu Karina.


***


Hari ini, ujian akhir semester dilaksanakan. Hari pertama ujian semester memang sangat menegangkan bagi Zara. Ini akan menentukan seberapa paham ia selama satu semester ini terhadap materi yang telah ia dapatkan.


Meskipun hasil ujian bukan patokan yang pasti untuk mendapatkan nilai A, tetapi bagi Zara ini adalah saat yang sangat menegangkan.


Ujianpun dimulai. Dosen langsung memberikan lembaran berupa soal yang harus dijawab oleh mahasiswa. Soal tersebut rata-rata tentang pendapat masing-masing individu. Jadi, tidak diperkenankan bagi mereka untuk mencontek jawaban setiap mahasiswa.


Setelah hampir seharian ia mengerjakan soal ujian, namun Zara cukup lega. Satu hari sudah terlaksana dengan aman.


Karena ia tidak bekerja setelah pulang dari kuliah, Zara memilih untuk pulang ke kostnya. Ia ingin memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk belajar.


"Tanya Raffa dulu deh untuk memastikan apakah tugas untuk besok sudah siap," ujar Zara. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Raffa.


Untungnya, semua tugas sudah terselesaikan. Besok hanya tinggal pengumpulan tugas saja.

__ADS_1


Baru sehari ia tidak bertemu dan menghubungi Zidan, rasanya ia sudah kangen ingin bertemu dengan Zidan secepatnya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata panggilan telepon dari Zidan.


"Tuhkan, baru juga diomongin sudah menelpon saja," batin Zara senang. Ia segera menjawab telepon tersebut.


"Keluarlah, aku di depan kostmu sayang," ucap Zidan. Zara membulatkan matanya, ia tak percaya Zidan berada di depan kostnya.


"Kenapa?" tanya Zara panik.


"Keluarlah sebentar. Apa kamu akan membiarkanku untuk berdiri di sini terus?" ujar Zidan. Zara segera melangkah keluar kostnya. Zidan sudah berdiri di depan kost Zara. Zara menghampiri Zidan.


"Kenapa mendadak datang ke sini?" tanya Zara.


"Ada kabar baik yang mau aku sampaikan padamu sayang," ucap Zidan.


"Kabar baik apa?" tanya Zara penasaran. Ia mengernyitkan dahinya.


"Kita bicarakan di tempat lain. Ayo," ucap Zidan. Ia langsung menarik Zara menuju mobilnya.


Mereka menuju apartemen Zidan. Karena hanya di tempat itulah mereka bisa membicarakan hal penting tanpa diketahui orang lain.


Tak lama, mereka sudah sampai di apartemen milik Zidan. Mereka masuk ke dalam. Zidan langsung memeluk Zara karena terlalu bahagianya. Sedangkan Zara masih dengan kebingungannya.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba memelukku begitu erat Zidan?" tanya Zara semakin penasaran. Zidan melepas pelukannya dan mencium bibir Zara sekilas. Ia tersenyum lebar.


"Kemarin aku sempat pulang dan aku sudah menceritakan tentang hubungan kita ke orang tuaku Zara. Dan kamu tahu apa reaksi mereka? Mereka setuju dengan hubungan kita. Setelah kamu selesai ujian, aku akan mengenalkanmu dengan mereka. Kamu mau kan?" ucap Zidan senang. Zara tak kalah terkejutnya dengan berita yang disampaikan oleh Zidan.


"Kamu tidak sedang bercanda kan Zidan?" tanya Zara memastikan bahwa ini bukan mimpi.


"Kapan aku tidak serius denganmu, hmm?" ucap Zidan lembut. Ia merengkuh Zara ke dalam dekapannya kembali.


"Terima kasih sayang," ucap Zara senang.


"Kamu akan lebih terkejut lagi setelah bertemu dengan mereka Zara. Apa yang kamu khawatirkan selama ini tidak akan pernah terjadi," batin Zidan senang. Ia menciumi puncak kepala Zara.

__ADS_1


__ADS_2