
Keesokan harinya, Zara dan Zidan pamit untuk kembali ke kediaman Arvin. Diana dan Anton juga tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi di sini. Zidan harus pergi ke kantornya untuk mengurus pekerjaannya. Jika berangkat dari rumah Anton, itu terlalu jauh baginya. Anton dan Diana juga tidak keberatan akan hal itu. Bagaimanapun juga, semuanya terserah kepada mereka berdua ingin tinggal di mana.
"Ma, kami pamit dulu ya. Nanti kita akan sering ke sini kok," ucap Zara. Ia memeluk Diana dengan erat.
"Iya, kalian hati-hati ya. Jangan lupa jaga kesehatanmu," ujar Diana sambil melepas pelukannya.
"Ma, aku kok tidak melihat Syifa? Di mana dia?" tanya Zara. Diana langsung terdiam saat Zara menanyakan keberadaan Syifa.
"Adikmu minta sekolah di luar negri, papa lupa belum cerita ini sama Zara ya," ucap Anton. Diana hanya tersenyum canggung. Dan untungnya Zara percaya akan hal itu. Ia tak menanyakan lebih detail lagi tentang Syifa.
"Zidan, jaga Zara baik-baik," ucap Anton sambil menepuk bahu Zidan dengan kuat. Zidan mengangguk dengan cepat. Tanpa disuruh pun, ia pasti akan menjaga Zara sebaik mungkin. Karena ia begitu mencintai dan menyayangi Zara melebihi dirinya sendiri.
Setelah itu, mereka menuju ke mobil dan bergegas untuk pulang. Zara terlihat pucat dan lemas. Ia hanya bersandar pada kursinya sambil memandangi ke arah luar jendela mobilnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zidan dengan pelan dan melirik Zara sekilas.
"Aku merasa pusing banget. Sepertinya lebih parah daripada kemarin deh," jawab Zara dengan lemas. Zidan langsung menepikan mobilnya. Ia meraih Zara untuk mengecek keadaan Zara.
"Sedikit demam sih. Apa kita ke rumah sakit saja dulu? Aku tidak tega melihatmu seperti ini," ucap Zidan panik. Zara mengangguk pasrah. Zidan mengusap puncak kepala Zara dan mengecupnya sekilas. Lalu ia segera menuju ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Zidan langsung membawa Zara ke ruang pemeriksaan umum. Zidan mengambil antrian dan mereka duduk di ruang tunggu. Zara hanya menyandarkan pada bahu Zidan sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba ia merasa mual dan ingin muntah. Zara segera berlari ke toilet terdekat. Zidan yang panik langsung menghampiri Zara. Ia membantu memijat tengkuk Zara dengan lembut.
__ADS_1
"Sakit banget ya?" tanya Zidan. Zara menggelengkan kepalanya. Bukan sakit, tetapi mual yang ia rasakan. Zidan menuntun Zsra untuk kembali duduk di ruang tunggu. Ia pamit untuk mengurus administrasinya kembali. Setelah beberapa menit, Zidan datang kembali dan langsung membawa Zara ke ruang dokter umum.
Zara disuruh berbaring di atas ranjang pasien. Dokter menanyakan keluhan Zara. Zara menjawabnya dengan detail sesuai apa yang ia rasakan. Dalam hati kecilnya, Zara berharap itu bukanlah sakit melainkan tanda-tanda hamil. Jantung Zara berdebar saat dokter mulai memeriksanya.
"Bagaimana dok?" tanya Zidan.
"Sebaiknya bapak lanjutkan untuk pemeriksaan ke dokter kandungan. Saya rasa istri Anda saat ini sedang hamil," jawab dokter itu. Ia memberikan selembar kertas untuk Zidan. Zidan masih terdiam mematung di tempatnya. Ia merasa terkejut dengan apa yang diucapkan dokter tadi.
"Zidan," panggil Zara. Zidan segera tersadar dari lamunannya. Ia pamit pada dokter itu dan membawa Zara ke dokter kandungan.
"Zidan, aku merasa gugup. Apa benar yang dikatakan dokter tadi ya," ucap Zara.
"Benar atau tidak kita akan segera tahu sayang," jawab Zidan. Ia terlalu senang dengan kabar ini. Ia sangat berharap jika Zara benar-benar hamil. Baru satu bulan mereka program hamil, jika hari ini Zara benar-benar mengandung mereka akan sangat bahagia.
Mereka mengantri untuk beberapa saat. Zara terlihat jelas jika ia sedang gugup. Tangannya bahkan sampai berkeringat. Zidan merengkuh Zara dan mengusap lengannya dengan lembut. Ia tersenyum lebar sambil menatap Zara dengan lekat. Tak lama kemudian, Zara dipanggil untuk pemeriksaan.
Zara menjalani pemeriksaan seperti pada umumnya. Untuk memastikan lagi, Zara di USG agar lebih jelasnya lagi. Zidan setia menemani Zara di sampingnya.
"Usia kandungan bu Zara baru memasuki empat minggu. Harus lebih berhati-hati ya bu. Apalagi sebelumnya sudah pernah keguguran," ucap dokter itu.
"Hah?" ucap Zidan dan Zara bersamaan. Mereka sama-sama terkejut. Dokter menatap mereka dengan bingung lalu beralih ke meja kerjanya. Zara bangun dari ranjangnya dengan dibantu oleh Zidan. Mereka beralih duduk di depan dokter itu. Dokter itu memberikan hasil USG kepada Zara dan Zidan sambil menjelaskannya.
__ADS_1
"Ini adalah hasil USG janin Anda. Masih sangat kecil karena baru berusia satu bulan. Dan ini, kalian bisa lihat sendiri. Kemungkinan besar kalian akan memiliki bayi kembar," tutur dokter tersebut. Zara langsung meneteskan air matanya karena merasa bahagia dengan kabar ini. Sedangkan Zidan tak bisa berkata apa-apa lagi karena ia tak menyangka akan mendapatkan dua sekaligus.
"Ini vitamin dan pil penambah darah untuk bu Zara. Diminum yang rutin ya bu. Bulan depan cek lagi untuk pemeriksaan selanjutnya," tutur dokter tersebut.
"Terima kasih dokter," jawab Zidan. Mereka lalu keluar ruangan itu.
Karena tempatnya terlalu ramai, Zidan mengurungkan niatnya untuk memeluk Zara. Ia hanya bisa merangkul bahu Zara dari samping sambil sesekali mengecup pelipis Zara. Zara masih belum percaya jika ia akan memiliki bayi kembar.
"Bang Zidan, kak Zara," sapa Barra yang kebetulan akan cek kandungan juga.
"Barra, kalian di sini juga?" tanya Zidan yang terkejut dengan kedatangan Barra dan Kayla.
"Iya, ini mau mengantar Kayla cek kandungan. Kalian berdua, siapa yang sakit?" tanya Barra sambil mengernyitkan dahinya.
"Bukan sakit, tapi kami baru periksa ke dokter kandungan. Kata dokter Zara hamil," ujar Zidan. Barra dan Kayla ikut senang. Akhirnya Zara kembali hamil lagi. Namun Zara dan Zidan masih merahasiakan perihal bayi kembarnya.
"Bang, sepertinya kami harus pergi sekarang. Kami ikut senang mendengar berita ini. Semoga kak Zara dan calon bayinya selalu diberi kesehatan," ucap Barra.
"Terima kasih. Kay, aku juga turut bahagia dengan kehamilanmu," balas Zara. Mereka berpisah karena memiliki kesibukan masing-masing. Zidan segera mengantar Zara ke rumah dan memberitahukan kabar baik ini pada keluarganya.
Sesampainya di rumah, Zidan langsung memeluk Zara dengan erat. Bahkan mereka belum turun dari mobilnya. Zidan mencium kening, kedua pipi Zara, dan terakhir di bibir Zara dengan lembut. Kejutan ini benar-benar mengejutkannya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang," ucap Zidan dengan tulus. Zara mengecup kening dan bibir Zidan sekilas. Ia mengusap air mata Zidan yang menetes.
"Aku janji akan menjaga anak kita dengan baik," ucap Zara. Mereka sama-sama tersenyum dan berpelukan kembali.