
Pagi ini Alina sedang bermalas-malasan di dalam kamarnya. Itu semua bukan kemauannya, tetapi kemauan Arvin. Pagi tadi Arvin meminta bi Narsih untuk menjaga Barra dan Zidan. Namun mereka berdua tetap berada di kamarnya.
Arvin berbaring santai di atas ranjang dengan Alina yang ada dipelukannya. Hari ini Arvin sengaja tidak pergi ke kantor. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan Alina. Ehm, tentunya ia akan melaksanakan rencananya kemarin.
Arvin menciumi kening Alina berulang kali. Seperti pengantin baru, berduaan di kamar tanpa ada pengganggu. Mereka mengobrol santai.
"Mas, kamu yakin Barra dan Zidan tidak akan mencari kita? Terutama Barra?" tanya Alina yang sedikit cemas dengan anak-anaknya. Apalagi Arvin mengurungnya di kamar seperti ini. Karena setiap hari Barra selalu menempel padanya.
"Ada Zidan dan bi Narsih. Kamu tenang saja sayang," ujar Arvin sedikit berbisik di dekat telinga Alina. Alina tersenyum tipis kemudian mengecup pipi Arvin.
"Kenapa hari ini begitu manja, hm?" tanya Alina. Ia mendongak menatap Arvin.
"Kita jarang punya waktu berdua. Hari ini aku hanya ingin berduaan denganmu saja. Apa aku salah?" ujar Arvin sambil membelai rambut Alina.
"Salah. Kamu menelantarkan anak kita mas. Siapa bilang kita tidak punya waktu berduaan? Lalu setiap malam itu apa mas, hm?" ucap Alina sedikit kesal.
Arvin terkekeh mendengar jawaban Alina. Ia tertawa kecil dan mencuri satu ciuman dibibir Alina. Alina mengerucutkan bibirnya. Berani sekali Arvin menertawakan dirinya, pikir Alina.
"Masih kurang sayang," ucap Arvin santai.
Alina melongo. Ia membuka matanya lebar-lebar. Bahkan hampir setiap malam dirinya tak dapat tidur dengan tenang. Apanya yang masih kurang? Meskipun Alina kelelahan ia berusaha untuk menyenangkan hati suaminya itu. Bagaimana bisa dikatakan itu masih kurang.
Alina beralih duduk dan bersandar di ranjang. Arvin juga melakukan hal yang sama. Alina menghela napasnya sejenak. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu Arvin.
__ADS_1
"Keadaan kita sudah berbeda mas. Jangan samakan saat kita belum memiliki anak," ujar Alina. Pikirannya menerawang jauh.
"Apa kamu tahu tujuan mas hari ini mengurungmu di kamar sayang?" tanya Arvin sambil menggenggam jemari Alina. Ia mengecupnya sekilas. Alina menggeleng pelan.
"Memangnya apa?" tanya Alina pelan.
"Membahas masalah yang kemarin," jawab Arvin dan melirik Alina sekilas.
Alina paham apa yang akan dibahas Arvin kali ini. Arvin begitu ingin Alina mengandung lagi. Katanya ia ingin punya putri kecil yang imut seperti anak dari kakak iparnya, Briant. Namun Alina belum mempunyai keinginan untuk itu. Ia merasa dirinya harus fokus dulu terhadap Zidan dan Barra.
Dari pernyataan yang selalu Alina lontarkan itu, Arvin yakin jika bukan itu alasan utamanya. Alina hanya ingin kembali bekerja di restorannya. Itu sebabnya ia mengatakan bahwa belum sanggup untuk hamil lagi.
Terlihat jelas saat ia sedang berdua dengan Arvin, dengan sengaja ia membahas masalah itu agar Arvin mengizinkannya.
"Tapi jika nanti Alina bekerja terus tiba-tiba hamil lagi, harus resign lagi dong?" tanya Alina yang mencoba mencerna kata-kata Arvin tadi.
"Tergantung kamunya kuat atau tidak sayang. Bekerja sambil mengurus keluarga itu berat loh. Kamu yakin bisa membagi waktu kamu untuk pekerjaan dan keluarga?" ucap Arvin memberikan pencerahan terhadap Alina. Karena ia tidak suka jika Alina bekerja meskipun itu di restorannya sendiri.
Alina berpikir sejenak. Ia sungguh bosan jika hanya di rumah saja. Ia tidak diizinkan keluar rumah sembarangan dan harus ada izin dari Arvin. Menurutnya, suaminya itu sungguh berlebihan.
"Mas beri kebebasan padamu sekarang. Mas ingin lihat, jika kamu mampu mengelola waktumu dengan baik, mas dengan senang hati mengizinkanmu bekerja. Mas bicara seperti ini karena mas tidak ingin kamu terlalu kelelahan sayang. Mengurus dua putra dan satu suami saja itu sudah berat. Apalagi ditambah dengan kamu bekerja. Ini mas lakukan demi kebaikan kamu dan keluarga kita. Bukannya mas ingin bersikap egois melarang kamu ini itu," ungkap Arvin panjang lebar. Kemudian ia mengecup kening Alina lama. Ucapan suaminya itu masuk akal juga meskipun kenyataannya Arvin terlalu protektif padanya.
Alina tersenyum dan memeluk Arvin dengan erat. Seakan jalan pikirannya terbuka lebar. Ternyata apa yang ia pikirkan itu salah. Semua yang suaminya lakukan semata demi dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih ya mas. Aku janji jika nanti aku tidak sanggup aku akan berhenti," ucap Alina yang masih memeluk erat suaminya.
Arvin melepas pelukan tersebut dan menatap Alina dengan tatapan menyelidik.
"Berhenti? Maksudnya?" tanya Arvin yang sedikit menaikkan alisnya.
"Maksudku berhenti untuk melepas restorannya mas. Kan tadi mas bilang akan memberiku kesempatan," ujar Alina yang merasa ada yang salah dengan ucapannya tadi.
"Jadi kamu sudah setuju dong jika kita nambah satu anak lagi?" bisik Arvin dengan lembut.
tanpa menunggu jawaban dari Alina, ia langsung membungkam bibir Alina dengan bibirnya. Arvin mendorong pelan tubuh Alina dan menindihnya. Meskipun ini bukan lagi yang pertama kalinya, tetap saja hati mereka tak bisa tenang dan selalu berdegub kencang.
Arvin melepas pelukannya sejenak untuk menghirup pasokan udara. Kemudian ia melanjutkan lagi apa yang harusnya mereka lakukan. Mereka sampai lupa jika ada dua putra yang sedang menunggunya di ruang tengah. Meskipun Barra tidak rewel tetap saja harusnya mereka tidak menelantarkan anaknya di pagi hari seperti ini.
Pukul 10.15 Arvin dan Alina baru keluar kamar. Barra yang sudah merindukan mommy nya sedari tadi menangis begitu melihat Alina. Mereka berjalan menuju ruang tengah tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Perdebatan beberapa hari ini sudah kelar tadi pagi. Bahkan Alina sudah membuang pil kontrasepsi yang ia gunakan selama ini. Mereka akan berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu untuk memastikan hal-hal yang nantinya tidak mereka inginkan. Kali ini Arvin benar-benar berharap jika nanti akan hadir peri kecil di antara mereka.
Untung saja hari ini hari libur. Jadi Zidan juga tidak perlu diantar ke sekolah. Sehingga bisa menjaga adiknya itu.
Arvin dan Alina menuju meja makan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi. Sedangkan Barra tidak ingin lepas dari jangkauan Alina.
Setelah makan, mereka menuju ruang tengah untuk mengisi waktu luang mereka dengan menonton film. Dan film yang mereka maksud adalah film kartun kesukaan Zidan. Lagi-lagi Zidan marah jika bukan film kesukaannya yang ditonton.
__ADS_1
Akhirnya mereka memilih mengobrol santai dan bersenda gurau. Alina merasa jika hari ini adalah hari yang paling membahagiakan.