
Tiga bulan kemudian...
Waktu kian cepat berlalu. Kini tiba saatnya bagi Barra dan Kayla menikah. Acara dilaksanakan di salah satu hotel milik keluarga Mahardika. Suasana sangat ramai karena banyak yang mereka undang. Mulai dari sahabat, teman satu angkatannya, teman kerja, sampai para kolega bisnis orang tua masing-masing. Acara diadakan secara meriah. Berbeda dengan Zidan dan Zara yang memilih diadakan secara sederhana karena keterbatasan waktu persiapan mereka.
Kini usia kandungan Zara sudah memasuki bulan ketiga. Perutnya mulai membuncit menampakkan perkembangan buah hatinya. Ia dan Zidan semakin tak sabar dengan kelahiran sang buah hati. Tiga bulan ini tak mudah bagi Zara. Semakin hari, ia semakin mual dan muntah bahkan lebih sering dari sebelumnya. Sampai Zara harus bolak-balik cek up ke dokter kandungan karena Zidan terlalu khawatir padanya.
Barra dan Kayla baru saja melangsungkan upacara pernikahan mereka. Beberapa jam lagi, acara resepsi digelar. Kini, Barra dan Kayla sedang berada di dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Sambil menunggu acara resepsinya bisa sambil istirahat.
"Kamu cantik banget sih hari ini," ujar Barra yang sedang berbaring di atas kasur. Kayla yang sedang menghapus sisa make up nya langsung menatap Barra yang kini sudah menjadi suaminya.
"Memangnya biasanya tidak cantik ya?" tanya Kayla balik. Ia tertawa kecil. Barra beranjak untuk duduk di tepi ranjang. Ia menatap Kayla yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
"Kalau tidak cantik, mana mungkin aku mau menikah denganmu," gurau Barra. Kayla langsung menatap Barra dengan kesal. Sedangkan Barra hanya terkekeh.
Kayla menghampiri Barra. Ia mengambil bantal dan menimpukkan tepat di wajah Barra. Kayla berkecak pinggang sambil memalingkan wajahnya. Barra tak kuasa menahan tawanya. Ia sangat suka menggoda Kayla seperti itu.
"Jadi, kalau aku tidak cantik kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Kayla mengulangi pernyataan Barra. Meskipun itu hanya gurauan dari Barra, Kayla merasa kesal karena itu.
"Bisa jadi," balas Barra santai. Kayla membelalakkan matanya tak percaya.
"Oh, jadi begitu? Aku tidak mau bicara sama kamu lagi!" ucap Kayla. Ia berdiri membelakangi Barra. Barra berdiri dan menghampiri Kayla. Ia memeluk Kayla dari belakang. Sedangkan Kayla hanya acuh dan berusaha menyingkirkan tangan Barra.
"Marah beneran? Kan aku hanya bercanda tadi," ucap Barra.
__ADS_1
"Bercandanya nggak lucu Barra!" balas Kayla ketus. Barra tertawa kecil. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
Cukup lama mereka dalam posisi itu. Barra menyandarkan dagunya ke bahu Kayla.
"Kamu tahu, bisa menikah denganmu adalah pencapaian terbesarku Kay. Aku tidak ingin menikah dengan wanita lain selain kamu. Aku mencintaimu sayang," ucap Barra berbisik di dekat telinga Kayla. Kayla tersenyum manis dan melirik Barra sekilas.
"Mulai lagi gombalnya," balas Kayla. Mereka tertawa kecil.
Barra membawa Kayla ke ranjang untuk istirahat. Karena setelah ini masih ada acara lagi yang belum mereka lalui. Kayla dan Barra kini berbaring di atas kasur. Mereka saling memandang. Barra mengecup kening Kayla dengan lembut. Lalu mereka memejamkan matanya untuk istirahat.
Di tempat lain, Zara dan Zidan juga sama sedang beristirahat di salah satu hotel yang sudah dipersiapkan. Zara berbaring di kasurnya sambil mengusap-usap perutnya yang kian membesar. Ia merasa lelah karena acara pernikahan tadi. Sedangkan Zidan sedang duduk di sofa sambil menikmati siomay. Ia dari tadi pagi ingin memakannya namun baru keturutan setelah acara pernikahan Barra. Zidan makan dengan lahap. Ia bahkan tidak mempedulikan kehadiran Zara di sana. Dirinya sedang fokus dengan makanannya. Selesai makan, Zidan beralih ke ranjang dan bersandar di sana.
"Jadi pindahkah?" tanya Zidan. Karena beberapa hari yang lalu Zara meminta ingin hidup mandiri dengan Zidan. Tentu saja Zidan tidak keberatan dengan permintaan Zara. Namun dengan kondisi Zara yang sedang hamil membuatnya ragu untuk hidup jauh dari keluarganya.
"Bukan tidak ingin sayang, aku tidak tega meninggalkanmu sendirian saat aku sedang bekerja. Meskipun nanti ada pembantu di apartemen kita. Aku lebih lega jika mommy selalu berada di dekatmu sayang," ucap Zidan. Ia meraih tangan Zara dan mengecupnya.
"Aku masih boleh kuliah?" tanya Zara hati-hati. Ia hanya ingin memastikan jika Zidan mengizinkannya atau tidak. Bagaimanapun ia juga mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Tiba-tiba berhenti kuliah itu akan membuat nama baik kampusnya tercoreng.
"Memangnya tidak capek? Kalau Zara ingin tetap kuliah, aku tidak keberatan. Asal tetap menjaga kondisi kesehatanmu sayang," balas Zidan. Zara tersenyum cerah dan mengangguk paham. Beberapa hari lagi kuliahnya sudah masuk kembali. Yah, meskipun nanti akan ada kendala dalam perkuliahannya.
Masih ada waktu dua jam untuk istirahat. Zidan menyuruh Zara untuk banyak-banyak istirahat. Sedangkan dirinya ingin membantu mommy nya untuk mengecek persiapan resepsi Barra nanti. Setelah memastikan Zara tertidur, barulah ia keluar dari kamar hotelnya.
Lain Zidan lain lagi Raffa. Ia sedang bersama dengan Viona. Viona mengajak Raffa untuk mencari makanan karena ia sedari pagi belum makan. Raffa hanya menurut ke manapun Viona menarik Raffa. Karena sekeras apapun Raffa menolaknya, Viona akan semakin mengganggunya.
__ADS_1
Saat ini Raffa dan Viona duduk di salah satu meja makan. Viona sedang menata makanan untuk mereka makan. Raffa hanya menatap Viona dengan malas. Tanpa ia sadari, tatapannya terpaku pada Viona.
"Dia ini kalau sedang serius seperti ini cantik juga," gumam Raffa. Namun ia segera menggelengkan kepalanya untuk menepis pemikirannya tadi.
"Apa yang aku pikirkan sih," batin Raffa lagi. Namun tatapannya tak teralihkan dari Viona sedikitpun.
"Raffa buka mulutmu!" ucap Viona. Raffa tergelak dan sedikit terkejut.
"Hah?" ujar Raffa sambil mengernyitkan dahinya.
"Ini, makanlah!" ujar Viona. Ia menyuapi Raffa begitu saja. Raffa tak bisa menolaknya. Tanpa sadar mulutnya membuka saat suapan Viona berada di depan mulutnya. Viona tersenyum cantik. Ia melanjutkan lagi makannya.
"Dia ini selalu ceroboh. Bisa-bisanya menyuapi pria di depan umum seperti ini," gumam Raffa sambil mengunyah makanannya.
Alisya sedang berada di kamarnya. Ia tidak punya pujaan hati seperti kakak-kakaknya. Walaupun ia ingin sekali memiliki pacar, namun ia terlalu takut untuk membuka hatinya. Terlebih lagi orang tuanya yang tak mengizinkannya untuk pacaran.
"Aaarrggh... Menyebalkan sekali! Kalau bukan karena laki-laki itu, pasti saat ini aku sudah dekat dengan pria lain. Yah meskipun bukan pacar sih," ucap Alisya sambil mengacak rambutnya. Ia berguling-guling di atas kasurnya.
"Menyebalkan!!" teriak Alisya. Ia berguling-guling lagi hingga dirinya terjatuh ke lantai.
"Aauuww..." ucap Alisya sambil bangkit dan berbaring kembali ke kasurnya.
Alisya teringat dengan kejadian saat dirinya masih duduk di bangku kelas X SMA. Di mana dirinya ditolak oleh laki-laki yang belum pernah ia temui. Karena teman satu kelasnya yang memperkenalkannya waktu itu. Namun sialnya, Alisya ditolak bahkan sebelum mereka saling bertemu dan mengenal satu sama lain. Hingga saat ini luka itu berbekas dihatinya dan sulit untuk ia lupakan.
__ADS_1