Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 96 (season 2)


__ADS_3

Selesai berbelanja, Zara dan Diana akhirnya pulang juga. Banyak barang yang Diana belikan untuk Zara. Ya walaupun itu tidak terlalu penting menurut Zara. Kehidupannya berubah 180 derajat. Biasanya ia harus berhemat, sekarang seperti dituntut menghamburkan uang. Kehidupan mewah yang Zara jalani membuatnya sedikit tidak nyaman.


Ochie membawakan barang belanjaan mereka. Zara dan Diana menuju ke ruang keluarga. Mereka sangat bahagia hari ini. Diana mulai membuka beberapa paper bag itu. Ia melihat gaun-gaun yang tadi ia belikan untuk Zara.


"Sayang, kamu pasti cantik kalau pakai ini," ucap Diana senang.


"Ma, harusnya tidak perlu membelikan Zara sebanyak ini. Baju di almari masih banyak dan baru semua," ucap Zara. Ia belum terbiasa dengan kehidupan mewahnya. Meski sudah menjadi istrinya Zidan, Zara juga menggunakan uangnya seperlunya saja.


"Tidak bisa! Apa yang mama belikan harus Zara pakai ya. Kalau tidak, mama akan marah nanti," ucap Diana. Zara mengangguk pasrah.


Di tempat lain, Syifa menatap Zara dengan kebencian. Walaupun Syifa pernah dalam posisi ini dan hidup serba berkecukupan selama ini, tetap saja dalam hatinya merasa iri. Syifa iri, mengapa orang tuanya lebih perhatian pada Zara dibanding dengan dirinya.


Syifa berjalan menghampiri mereka. Di depan orang tuanya, Syifa bersikap ramah dan sopan terhadap Zara. Namun dalam hatinya menanam kebencian yang semakin hari semakin membesar.


"Hanya kak Zara yang dibelikan? Syifa tidak?" tanya Syifa yang duduk di samping Diana.


"Kan Syifa setiap hari sudah dikasih uang jajan lebih. Setiap hari kamu juga sudah belanja barang-barang mewah," jawab Diana. Memang, mereka selama ini memanjakan Syifa dengan memberinya fasilitas lebih dari remaja pada umumnya.


"Ya tapikan Syifa ingin mama belikan juga," ucap Syifa.


"Kalau Syifa mau, ambil saja apa yang Syifa suka. Kak Zara tidak begitu menginginkannya kok," ucap Zara dengan ramah. Syifa melirik Zara dan tersenyum palsu.


"Kau pikir aku akan memakai barang bekas milikmu apa? Malas banget," batin Syifa.

__ADS_1


"Tidak kak, terima kasih. Mama yang membelikan ini untuk kak Zara. Syifa tidak bisa mengambilnya," ucap Syifa. Ia hanya berpura-pura saja. Zara tersenyum ramah. Ia memasukkan kembali gaun-gaun itu ke dalam paper bag.


Zara izin untuk menaruh barang itu di kamarnya sekalian ia ingin istirahat. Hampir lima jam ia keluar bersama Diana. Zara merasa lelah, apalagi ia sempat berjalan cukup lama.


Diana pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang dibantu oleh bi Tia. Sedangkan Ochie dan Syifa masih berada di ruang keluarga. Zara menaiki anak tangga satu persatu. Usia kandungannya sudah menginjak bulan kelima. Ia sudah mulai kesusahan untuk menaiki tangga ataupun menuruni tangga. Zara sangat berhati-hati demi keselamatan dirinya dan buah hati.


Namun musibah tak ada yang tahu. Tangan Zara tergelincir karena licinnya pegangan tangga yang ia jadikan tumpuan. Zara terjatuh dan terguling hingga sampai ke lantai bawah. Zara sempat berteriak, namun saat sudah di bawah, ia tak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari area bawahnya. Diana yang mendengar teriakan Zara langsung menuju tangga. Ia melihat Zara sudah tergeletak di lantai dengan penuh darah. Diana bersimpuh dan berusaha membangunkan Zara. Tubuhnya sampai bergetar karena takut terjadi sesuatu pada anak dan cucunya.


Ochie dan Syifa juga sama. Mereka langsung menuju ke tempat lokasi. Syifa terkejut dan seketika merasa takut. Apa yang ia lakukan membuat Zara dalam bahaya. Tubuhnya menggigil. Syifa merasa bersalah dan takut terjadi sesuatu pada kakaknya itu.


"Kenapa kalian diam saja? Cepat bawa Zara ke rumah sakit!" bentak Diana. Ia menangis karena takut dengan keadaan Zara. Ochie langsung memanggil sopir rumah mereka. Ia membantu membawa Zara ke dalam mobil. Diana langsung menghubungi suaminya dan menyuruhnya untuk segera ke rumah sakit. Anton yang saat itu ada rapat penting langsung keluar ruangan begitu saja setelah mendapat kabar jika Zara terjatuh dari tangga. Baru kemarin mereka berbaikan dan mempunyai rencana untuk berdamai, masalah baru muncul dan membuatnya khawatir.


Syifa yang masih dalam rasa ketakutannya segera menuju ke anak tangga paling atas. Sebelum ada yang menyadari bahwa itu adalah ulahnya, Syifa segera membersihkan pegangan tangga itu dengan panik. Syifa takut jika sampai ketahuan karena ini adalah rencananya.


"Sayang bangunlah. Maafkan mama yang lalai menjagamu," ucap Diana sambil menangis pilu. Ia mengusap pipi Zara dan terus berusaha membangunkannya.


Tak lama kemudian, mobil mereka sudah sampai di rumah sakit. Ochie turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Zara dan Diana. Perawat dengan sigap membantu Zara untuk berbaring di brankar. Mereka mendorong brankar tersebut menuju ruang operasi.


"Nyonya tenanglah, pasti nona Zara akan baik-baik saja," ucap Ochie agar Diana lebih tenang.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Aku selalu lihat jika Zara begitu hati-hati. Ini semua salahku Chie, aku tidak bisa menjaga putriku dengan baik," ucap Diana pilu. Ia duduk di kursi tunggu dekat kamar operasi. Entah apa yang dokter lakukan di sana. Segala kemungkinan pasti akan terjadi.


Anton datang dengan tergesa. Napasnya tersengal karena berlari dari parkiran menuju ruang operasi. Diana langsung memeluk Anton. Ia sangat ketakutan dengan kejadian ini.

__ADS_1


"Mas, putri kita ada di dalam sana. Mas aku yang salah, semua ini salahku," ucap Diana. Anton mengusap punggung Diana agar lebih tenang.


"Putri kita sudah ditangani dokter. Pasti akan baik-baik saja," ucap Anton lirih. Ia menyembunyikan kesedihannya dari Diana.


Diana tidak bisa tenang. Ia terus mondar-mandir di depan ruangan operasi tersebut. Sejak Zara dibawa masuk ke dalam ruangan itu, belum ada satupun yang keluar dari sana.


Praang...


Zidan tak sengaja menjatuhkan cangkir kopinya. Ia saat ini berada di ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Zidan merasa terkejut, bahkan ia tidak sedang melamun. Cangkir itu tiba-tiba terjatuh. Perasaannya tidak enak. Tiba-tiba ia teringat pada istrinya. Jantungnya berdebar kencang seperti sedang terjadi sesuatu pada Zara.


Zidan berusaha menepis pikiran negatif tersebut. Ia memanggil OB untuk membersihkan serpihan cangkir itu. Zidan berusaha fokus kembali dengan pekerjaannya. Zidan memejamkan matanya. Semakin ia berusaha fokus, semakin gelisah dalam hatinya.


"Ada apa dengan diriku sebenarnya? Apa aku terlalu merindukan Zara sehingga aku terbayang dirinya?" batin Zidan. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Zara agar dirinya lebih tenang. Namun dua kali panggilannya tak terjawab. Tidak biasanya Zara jauh dari ponselnya. Panggilan ketiganya baru terjawab dan itu bukan suara Zara.


"Ha-halo," ucap Syifa dengan gugup.


"Apakah saya bisa berbicara dengan Zara?" tanya Zidan. Karena ia tahu betul suara Zara seperti apa.


"Kak Zara... Di-dia sedang berada di rumah sakit X. Ta-tadi kak Zara jatuh dari tangga," ucap Syifa dengan gugup.


Deg


Zidan segera mematikan sambungan teleponnya dan menyuruh Fanny untuk menyiapkan mobil. Ia berlari keluar kantor dengan cemas. Zidan tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya terpenuhi oleh keadaan Zara dan calon anaknya. Fanny segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang telah Zidan tunjukkan.

__ADS_1


__ADS_2