Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 96


__ADS_3

Mereka sudah sampai di rumah. Alina buru-buru masuk ke dalam rumah karena tiba-tiba merasa mual. Ia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Arvin merasa panik dengan keadaan Alina. Ia segera memberikan Barra kepada bi Narsih dan menghampiri Alina yang ada di kamar mandi.


"Masih mual?" tanya Arvin yang sedang memijat tengkuk Alina. Alina mengangguk pelan. Baru beberapa langkah ingin keluar kamar mandi, kini ia sudah mual lagi. Alina terlihat pucat dan lemas.


"Mas gendong ke kamar ya, kamu makan habis itu minum obat. Terus istirahat," ujar Arvin dan ia menggendong Alina menuju kamarnya.


"Mommy kenapa Pa?" tanya Zidan yang melihat Alina digendong Arvin.


"Tidak apa-apa sayang. Mommy hanya butuh istirahat," jawab Arvin.


Arvin membaringkan Alina dengan pelan. Ia mengusap dan mengecup kening Alina dengan lembut. Kemudian ia keluar untuk mengambil makanan dan juga obat dari rumah sakit tadi.


"Zidan, hari ini Zidan belajar sendiri dulu ya. Mommy lagi sakit," ucap Arvin sambil mengusap puncak kepala Zidan. Zidan mengangguk paham. Ia sebenarnya khawatir terhadap mommy nya.


"Bi, tolong jagain Barra sebentar ya bi," ucap Arvin yang mendekat ke arah bi Narsih.


"Baik tuan. Semoga nyonya cepat sembuh," ujar bi Narsih. Arvin belum memberitahu orang rumah perihal kehamilan Alina. Karena saat ini ia sedang panik.


Arvin mengambil obatnya yang ia letakkan di atas meja tadi. Kemudian ia menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Ia segera menuju kamar.


"Makan dulu ya, sini mas suapin," ucap Arvin dan mulai menyuapi Alina. Baru dua sendok makanan masuk ke dalam perutny, Alina merasakan mual yang tak tertahankan. Bahkan ini lebih parah daripada kehamilannya yang pertama.


Alina buru-buru ke kamar mandi. Arvin menyusul Alina. Dengan sabar ia memijat tengkuk Alina dengan pelan. Dirasa sudah membaik, Arvin kembali menggendong Alina menuju ranjangnya. Arvin mengusap perut Alina yang masih rata. Kemudian mengecupnya sekilas.


"Aku belikan susu ya? Mau?" tanya Arvin sambil mengusap puncak kepala Alina. Alina menggeleng pelan. Saat ini dirinya tidak ada nafsu makan sama sekali. Melihatnya saja ia sudah mual dan muntah.


"Kamu belum makan dari tadi sore sayang," ucap Arvin khawatir.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini dulu. Aku akan menyuruh pak Kariman untuk membelikan susu untukmu," ujar Arvin dan keluar kamar untuk menemui pak Kariman yang tak lain adalah sopirnya.


Alina merasa lelah dan mengantuk. Bahkan ia tak peduli jika dirinya belum makan sejak tadi sore. Ia menarik selimutnya dan berusaha memejamkan matanya.


Tak lama, Arvin masuk ke kamarnya dengan membawa satu gelas susu. Sebenarnya Arvin tak tega membangunkan Alina. Tapi ia juga kasihan jika perutnya belum terisi makanan sedikitpun, apalagi ia habis muntah.


"Sayang, minum susunya sebentar," bisik Arvin. Alina perlahan membuka matanya. Ia duduk bersandar di ranjang dibantu oleh Arvin. Arvin menyodorkan susunya dan Alina mulai meneguknya.


Setengah gelas berhasil masuk ke perutnya. Alina menghela napasnya sejenak. Merasa tidak mual lagi, ia buru-buru menghabiskan susu tersebut sampai habis. Arvin memberikan vitamin dan obat mual kepada Alina.


"Istirahatlah," ucap Arvin dan mengecup kening Alina. Alina mengangguk dan memposisikan dirinya senyaman mungkin.


Setelah memastikan Alina tidur, ia beralih ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Rasa lelahnya sedikit menghilang bersama guyuran air yang membasahi tubuhnya.


Arvin ke kamar anaknya terlebih dahulu. Untungnya Barra tidak rewel sama sekali. Seakan Barra tahu jika mommy nya lagi tidak enak badan. Cukup lama ia berada di kamar anaknya. Rasa kantuk menghampirinya dan kini ia menuju kamarnya untuk istirahat.


Pukul 02.30 Alina terbangun. Ia merasa lapar sekarang. Dilihatnya suaminya yang sedang terlelap tidur di sampingnya. Alina tersenyum tipis dan membangunkan Arvin dengan pelan.


Cup


Satu kecupan dibibir Alina. Arvin membuka matanya.


"Mau makan apa?" tanya Arvin yang kini menghadap Alina.


"Nasi goreng boleh? Tapi aku ingin kamu yang memasaknya," ujar Alina ragu. Ia takut jika Arvin merasa terbebani. Apalagi ini terlalu pagi.


"Boleh, tapi janji harus dihabiskan ya?" ujar Arvin dan tersenyum tipis.


Melihat Arvin menyetujui permintaannya, Alina terlihat senang. Alina mengangguk dengan girang.

__ADS_1


"Kamu tunggu sini, mas buatkan dulu," ucap Arvin dan dirinya turun dari ranjang. Arvin ke kamar mandi sebentar sebelum turun menuju dapur.


Merasa bosan menunggu Arvin menyiapkan makanan yang ia minta, Alina berinisiatif untuk turun ke bawah melihat suaminya yang sedang memasak. Diam-diam ia sudah duduk di kursi ruang makan yang tak jauh dari dapur.


"Kenapa turun sayang? Kan sudah mas bilang tunggu saja di kamar," ucap Arvin yang menyadari kedatangan Alina.


"Bosan di kamar. Kamu lama," jawab Alina dam menyengir ke arah Arvin.


Setelah selesai, Arvin menyodorkan satu piring nasi goreng permintaan Alina. Alina segera melahapnya seakan ada orang yang berebut makan dengannya. Arvin hanya terkekeh sambil memperhatikan Alina.


"Syukurlah jika Alina tidak mual lagi," Batin Arvin senang.


"Mas kenapa lihatin Alina seperti itu?" tanya Alina bingung.


"Habisnya istri mas ini cantik banget," goda Arvin. Dan berhasil membuat Alina malu-malu dan pipinya merona.


"Apaan sih mas," ujar Alina salah tingkah. Arvin tertawa.


Ia membawa piring kotornya ke dapur tetapi tidak ia cuci. Ia membawa Alina untuk istirahat di kamarnya. Alina merasa senang dengan perhatian Arvin yang selalu diberikan untuknya. Ia merasa beruntung, Arvin selalu ada disisinya dalam keadaan apapun.


Alina menghentikan langkahnya dan tiba-tiba memeluk Arvin. Ia mengecup pipi Arvin secara bergantian. Arvin hanya terpaku sambil mengernyitkan dahinya. Alina tersenyum cantik dan mengalungkan tangannya ke leher Arvin.


"Jangan menggodaku sayang," bisik Arvin sambil menempelkan kening keduanya. Alina tak peduli, ia hanya ingin bermesraan dengan suaminya.


Alina mengecup bibir Arvin dengan lembut sambil memejamkan matanya. Begitu lama bibir mereka saling menempel. Arvin tersenyum, ia membiarkan istrinya melakukan hal yang ia inginkan. Tetapi Arvin harus tetap mengontrol dirinya sendiri.


"Terima kasih ya mas untuk masakannya tadi. Alina suka," ucap Alina setelah melepas kecupan tersebut.


Arvin merasa tak terima, ia pikir Alina akan melakukan hal lebih padanya. Namun nyatanya hanya seperti itu saja. Arvin menarik pinggang Alina agar lebih dekat kepadanya. Ia segera menyambar bibir Alina dan melumatnya pelan. Ciuman ringan tanpa ada nafsu.

__ADS_1


"Kalau kamu suka mas akan memasak untukmu setiap hari sayang," balas Arvin. Kini ia menarik Alina ke ranjang. Sudah lama mereka dalam posisi berdiri. Ia kasihan kepada Alina. Arvin merengkuh Alina ke dalam dekapannya. Mereka tidur kembali.


__ADS_2