
Tiga bulan kemudian
Saat ini usia Raffa sudah memasuki bulan ke enam. Dan usia kandungan Alina sudah memasuki bulan ketiga. Raffa juga sudah mulai diberikan makanan pendamping asi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya.
Semakin hari Arvin jauh semakin posesif terhadap Alina. Ia lebih mengutamakan hal-hal yang menyangkut tentang kehamilan Alina kali ini. Bahkan berulang kali Arvin menyarankan agar Raffa mulai dialihkan dengan memberikan susu formula. Mengingat kini kandungan Alina semakin besar.
Selama kehamilan juga Alina tak banyak ngidam makanan yang aneh-aneh. Hanya saja setiap ia makan nasi harus Arvin sendiri yang menyuapinya.
Hamil sambil menyusui merupakan sebuah tantangan baru untuk Alina. Bagaimana tidak, dirinya harus bisa menjamin kesehatan dirinya dan bayi yang ada dikandungannya juga menjamin pemenuhan gizi putranya yang masih menyusu itu.
Kerap kali Alina mengeluh pusing dan muntah. Mungkin juga akibat dari dirinya yang terus menyusui Raffa. Kelelahan juga sering terjadi, Alina sering mengeluh kepada Arvin.
Siang ini jadwal mereka untuk cek kehamilan sekaligus konsultasi ke dokter. Arvin tidak ingin ambil resiko. Bahkan dirinya kini menyewa jasa babysitter meskipun Alina tak menyetujuinya. Arvin ingin kali ini Alina hanya fokus pada kehamilannya.
Sekarang ini, Alina sudah jarang untuk menyiapkan makanan. Lebih sering bi Narsih yang memasak makanan untuk mereka. Ditambah lagi bi Yana yang menjadi pengasuh ketiga putranya. Arvin sedikit trauma untuk mempekerjakan babysitter yang lebih muda. Takut jika sesuatu hal terjadi lagi seperti saat kehamilan Alina yang pertama.
"Mas, siang ini jadi kan kita ke dokter?" tanya Alina yang baru selesai mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Iya, tapi mas harus ke kantor dulu sayang. Tidak apa-apa kan?" ucap Arvin dan mengambil alih handuk tersebut. Ia menyuruh Alina untuk duduk dan Arvin membantu mengeringkan rambut Alina.
"Kamu semakin terlihat cantik banget sih," ucap Arvin yang memperhatikan wajah Alina dari pantulan cermin.
"Perasaan seperti biasanya. Nggak ada perubahan," jawab Alina sambil meneliti raut wajahnya. Arvin memeluk leher Alina dari belakang. Mensejajarkan wajahnya di dekat Alina.
"Atau jangan-jangan bayi yang kamu kandung itu perempuan sayang?" ucap Arvin dan menatap cermin yang memantulkan bayangan mereka tersebut.
"Nggak mau berharap ah. Nanti seperti Raffa waktu itu. Katanya perempuan tapi nyatanya laki-laki," ucap Alina.
"Ya nggak apa-apa kan berharap. Siapa tahu kali ini dikabulkan," ucap Arvin dan tersenyum tipis.
__ADS_1
Setelah selesai, mereka menuruni tangga untuk sarapan bersama. Arvin menyuapi Alina terlebih dahulu baru kemudian dirinya. Arvin tak pernah bosan untuk bersikap demikian.
"Mas ke kantor dulu ya. Kalau ada apa-apa telepon mas," ucap Arvin lalu mencium kening Alina sekilas.
"Iya mas. Jangan lupa nanti siang kita ada jadwal ke dokter," ujar Alina. Arvin mengangguk. Zidan dan Barra juga berangkat bersama Arvin.
Alina beralih duduk di sofa yang berada di ruang tengah. Alina mengambil majalah dan membacanya untuk menghilangkan rasa bosannya. Bi Yana menghampiri Alina dengan membawa Raffa yang baru selesai mandi.
Meskipun terkadang Alina mengeluh putingnya sakit saat menyusui Raffa, ia masih ingin menyusuinya. Alina merasa tak tega dengan putranya itu.
"Aauw," eluh Alina saat Raffa mulai menghisapnya.
"Apa nyonya baik-baik saja?" tanya bi Yana yang khawatir.
"Tidak apa-apa bi," jawab Alina. Ia harus menahan rasa sakitnya sedikit lagi. Setelah selesai menyusui Raffa, Alina menyerahkannya kepada bi Yana lagi.
"Sayang," panggil Arvin yang pulang dari kantornya. Merasa tak ada jawaban dari Alina, ia langsung menuju kamarnya. Ternyata Alina juga tak ada di sana. Arvin menuju kamar Raffa, namun ternyata hanya ada bi Yana yang sedang menidurkan Raffa.
"Apakah bibi tahu nyonya di mana?" tanya Arvin pada bi Yana.
"Sepertinya berada di halaman belakang tuan," jawab bi Yana dengan sopan. Arvin langsung menuju halaman belakang.
"Kenapa nakal sekali? Kenapa masih berlatih yoga? Usia kandungan kamu masih tiga bulan sayang," ucap Arvin yang tiba-tiba berada di belakang Alina dan memeluknya.
"Kan nggak banyak mas. Katanya nggak apa-apa kok. Lagian aku bosan banget di rumah nggak ngapa-ngapain," ujar Alina. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Arvin.
"Tetap saja bandel kalau dibilangin..." ucap Arvin sambil mencubit hidung Alina. Alina hanya menyengir.
"Ayo bersiaplah, kita akan ke dokter setelah ini," ajak Arvin. Ia membantu Alina bangun. Memeluk Alina dari samping sampai menuju kamar.
__ADS_1
Di kamar, Alina menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Arvin memainkan ponselnya sambil menunggu Alina siap.
"Sudah?" tanya Arvin saat melihat Alina sudah siap. Alina mengangguk. Sebelum ke dokter, mereka pamit terlebih dahulu pada bi Narsih dan bi Yana.
Sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang dokter kandungan. Mereka sedikit buru-buru karena mereka datangnya sedikit terlambat dari jam yang sudah disepakati.
Seperti pemeriksaan pada bulan sebelumnya. Alina menjalani beberapa tes dan tak lupa untuk menimbang berat badannya. Kemudian baru berkonsultasi dengan dokter kandungam tersebut.
"Bagaimana bu, apa semuanya berjalan baik-baik saja?" tanya dokter tersebut.
"Akhir-akhir ini saya sering banget merasa lelah dok. Lalu saat menyusui anak saya, ****** saya rasanya sakit banget. Apa itu juga berbahaya bagi kehamilan saya dok?" tanya Alina.
"Tidak bu, tapi jika kondisi ibu tidak fit itu juga dapat mempengaruhi kesehatan kehamilan ibu. Kalau memang sakit banget, bisa mencoba untuk memberikan si kecil susu formula dan lebih banyakin makanan pendamping asi. Agar tidak selalu fokus pada asinya bu," saran dokter tersebut. Alina dan Arvin hanya mengangguk.
Setelah selesai berkonsultasi, mereka langsung pulang. Alina masih kepikiran dengan Raffa. Jujur, ia belum ingin menyudahi memberikan Raffa asi. Tapi keadaannya kini berbeda. Dan melihat kondisi Alina yang seperti itu justru akan membahayakan dirinya dan calon anaknya.
"Sayang, ada apa?" tanya Arvin dan melirik Alina sekilas.
"Mas, apa Raffa akan baik-baik saja nanti?" tanya Alina gelisah. Arvin menghela napasnya sejenak. Kegelisahan Alina itu tak beralasan. Arvin memakirkan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap Alina dan menggenggam tangannya.
"Sayang, jika dokter sudah menyarankan hal seperti itu, berarti itu memang yang terbaik untuk kamu dan anak kita," ujar Arvin agar istrinya ini tak berpikiran yang tak seharusnya ia pikirkan.
"Iya mas, maaf sudah berpikir yang berlebihan," ujar Alina dan tersenyum tipis.
"Aku bisa membantu menghilangkan kegelisahanmu saat ini sayang. Mau coba?" ujar Arvin sambil menaik turunkan alisnya.
"Maksudnya?" tanya Alina bingung.
Arvin meraih tengkuk Alina dan mencium bibirnya dengan lembut. Awalnya Alina menolak karena mereka sedang berada di pinggir jalan. Namun perlahan Alina membalas ciuman tersebut.
__ADS_1